Second Mission? *29

25.9K 2.9K 257
                                        

Perawat mulai membuka lilitan perban di perutku setelah aku membuka semua kancing baju pasienku. Aku hanya bisa meringis dalam hati memperhatikan bekas luka di perutku yang mulai mengering. Oh, ngomong-ngomong alat itu sudah dilepas dari leherku.

Itu melegakan, walaupun leherku terasa kaku saat digerakkan.

Serius, obat-obat zaman sekarang benar-benar bekerja dengan cepat.

"Aku, tidak perlu diperban lagi 'kan?" tanyaku menatap perawat yang mulai meletakkan bekas perbanku di nampan stainless stell yang berisi beberapa antiseptik, kapas, penjepit, alkohol, dan... entahlah, semacam plester luka dan perban mungkin.

Perawat itu tersenyum kecil dan menggeleng kecil. Dia seorang tunawicara, aku merasa agak kesulitan untuk memahaminya. Mungkin aku harus belajar bahasa isyarat lain kali. Wanita itu menatapku lucu sambil mengisyaratkan sesuatu sementara aku menatap gerakan tangannya lekat, sambil mengancingkan kembali bajuku.

Aku mengangkat sebelah alis. "Err, apa maksudmu aku punya perut yang kecil?" tanyaku ragu. Dia mengangguk sambil tertawa kecil membuatku ikut tertawa canggung kurang mengerti itu sebuah pujian atau sebaliknya. Haha, memangnya sekecil apa? Tanganku mengancingkan baju dari bawah dengan kedua tangan terasa kaku dan sulit untuk digerakkan. Mungkin akan butuh satu abad untuk mengancingkan semuanya.

Ia sempat menawariku bantuan, tapi aku menolaknya dengan perasaan tidak enak.

Perawat memberiku kode untuk beristirahat dan minum obat, aku hanya membalasnya dengan anggukkan menurut, setelah itu ia pergi keluar. Di sisi lain, tanganku mulai bergetar dan tetap berjuang untuk mengancingkan bajuku. Ayolah kalian berdua, bisa lebih cepat sedikit tidak?

Tok! Tok!

"Masuk saja!" sahutku tanpa menoleh ke arah pintu. Mendengar pintu mulai terbuka pelan, aku yang baru berhasil mengancingkan empat kancing langsung berbalik masih dalam keadaan fokus ke bawah.

"Hei, Zi! Bisa tolong bantu..."

Blush!

A-apa yang...

Wajahku memanas kala melihat Rane berdiri membelakangiku sambil menatap keluar. "Aku akan tunggu di luar saja," ucapnya kemudian keluar dari kamar rawatku tanpa berbalik sama sekali. Sedikit banyak, gerakannya tampak buru-buru?

Apa yang baru saja terjadi?! Kau sialan! Tidak-tidak! Maksudku aku yang sialan! Aku yang memintanya langsung masuk! Apa dia sempat melihatku?! Sial! Apa yang harus aku lakukan setelah ini?!

Mau ditaruh di mana wajahku?! Sial! Ini memalukan sekali!

Aku tidak berhenti mengumpati diriku sendiri.

"What the heck," gumamku datar masih dalam keadaan malu bercampur kesal. Karena didasari rasa kesal setengah mati pada diriku sendiri, kedua tanganku langsung berfungsi normal saat aku mengancingkan satu kancing lainnya di bagian atas.

Biasanya aku akan selalu menguncir rambutku ke atas, tapi sekarang tiba-tiba aku ingin mengurainya ke bawah dan menyampirkannya ke kedua sisi, menutupi sampai atas perut. Aku masih duduk di ranjang menatap pintu kemudian menunduk ke arah lain.

Apa aku pura-pura sedang mengantuk saja ya? Atau pura-pura sedang ingin makan siang? Tapi tadi aku sudah makan.

Aku menggaruk pipi. Tapi bagaimanapun juga kami pasti tetap akan bertatap muka. Tidak mungkin aku keluar dari akademi hanya karena-

Tunggu, dia sudah menungguku di luar!

Aku tersentak dan segera berdiri dengan gerakan kaku, keluar dari kamar dengan keberanian yang sangat kecil. Aku sama sekali tidak tahu Rane sempat melihatku tadi atau tidak. 

Little AgentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang