Five Hours Before Death *64

17.9K 2.2K 235
                                        

Aku tersentak dan langsung menoleh ke arah Rane saat merasakan seperti bantingan singkat di permukaan lantai.

Beep!

Tombol-tombol elevator yang tadinya merah kini mati dan lampu berubah remang, berkedip-kedip horor seolah sudah rusak. Atau mungkin memang begitu. Langsung saja aku berdiri dan mendekati Rane yang bersandar di dekat pintu dengan buru-buru.

"Kenapa ini?" tanyaku cemas bersamaan dengan Rane yang langsung menarik diri dari sandaran dan menatap ke arah lampu di atas.

"Elevatornya berhenti," jawab Rane.

"Berhenti?!" ulangku nyaris histeris kalau saja tidak ingat betapa kecilnya tenaga yang kupunya sekarang. Kami berdua kompak menoleh ke arah sudut atas elevator.

CCTV sial. Tanpa ada yang meminta, kuluncurkan salah satu dari delapan anak panahku yang tersisa ke arah sana. Sebenarnya agak percuma, yang melihat pasti sudah tahu di mana kami dan akan menjemput tidak lama lagi.

"Elevatornya berhenti di antara lantai 10 dan 9. Mungkin akan butuh waktu yang cukup lama bagi mereka untuk kemari dan mengevakuasi kita," tutur Rane membuatku menoleh, ikut menatap bagian atas pintu elevator.

"Mereka pasti tinggal mengaktifkan elevatornya kembali untuk membenarkan posisi, kita pasti akan dikunci di sini sampai mereka melakukannya!" bantahku parau, terlanjur paranoid. Mungkin jika tenagaku masih tersisa beberapa persen lagi, aku yakin suaraku akan terdengar naik. Saat baru saja akan membuka paksa pintu elevator, Rane langsung menghalangi dengan punggungnya dan menekan sebuah tombol pengunci manual di pinggiran pintu. 

"Kau ..." Tanpa sadar aku menggeram entah kenapa, rasanya aku benar-benar jengkel padanya. Aku mengusap wajah kasar. "Apa yang kau lakukan? Sebelum mereka kemari harusnya kita membuka pintunya," tanyaku sambil membuang napas kasar.

Kenapa malah begini?

"Sebelum mereka mengaktifkan elevator kembali, setidaknya aliran listriknya harus diputus." Rane tiba-tiba berucap sambil mengeluarkan pisau lipat dari belt celananya.

"Maksudmu kau akan merusaknya?" tanyaku tak habis pikir terutama melihat Rane mencungkil celah besi penutup di pinggir pintu tanpa masalah. Rane mengangguk tanpa menghentikan kedua tangannya.

Aku langsung menarik punggungnya ke belakang dan merebut pisaunya.

"Dan kita terkunci di sini?" tanyaku lagi, tubuhku terasa panas dari dalam karena adrenalin.

Dia sudah gila, ya?

"Setidaknya jika kita terkunci di sini masih akan aman dibandingkan harus tertangkap, lagipula bagian atas masih ada kemungkinan sebagai jalur kabur." Aku terdiam menggenggam gagang pisau lipat Rane erat, masih menatapnya penuh protes.

Rane menghela napas kecil dan merebut benda itu kembali. "Jika bagian atas tidak bisa dibuka, setidaknya berlama-lama di sini pun masih ada harapan bantuan akan segera datang dalam beberapa waktu lagi."

Aku menatapnya ingin memprotes kemudian langsung berbalik ke pojok dan mengusap kasar pipiku yang sudah dialiri air mata. "Terserah kau saja," gumamku tertahan sambil melepaskan busur dan tas anak panahku ke lantai begitu saja.

Masalahnya aku sudah akan mati. Menunggu bantuan di sini sama saja bunuh diri.

Mengerikan rasanya jika bisa memprediksi kematian sendiri. Tidak. Bukan prediksi lagi, sudah pasti. Bukti nyatanya banyak, siapapun yang kena virus X tidak akan lebih dari 24 jam.

Sekilas kudengar suara percikan listrik yang berasal dari kabel-kabel yang sebelumnya berada di balik penutup besi yang ia buka. Dia sudah memutus aliran listriknya. Lirikanku terus mengikuti pergerakan Rane saat ia kembali dan memungut busur serta anak panah yang tergeletak di lantai sampai akhirnya memilih duduk di bagian sudut kiri belakang elevator.

Little AgentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang