Kami berdua menatap hologram yang terpancar dari smartwatch masing-masing kemudian menatap sekitar.
"Pasti ada saksi yang melihat kemana kendaraan mereka 'kan?" tanyaku agak cemas, kami mulai kehilangan sensor jejak dari ban kendaraan mereka tepat di daerah Central Park. Kalau aku tahu di mana markas Black Eagle, pasti aku sudah memberi kode-kode pada mereka agar semua ini lebih cepat.
Kami daritadi sudah berpencar menjadi 3 dan menjelajahi area ini, namun masih dalam batas remeh GPS agar tidak tersesat.
"Mungkin mereka memang sudah tidak menaikinya tepat ketika kita kehilangan jejak," timpal Rane di sebelahku.
"Maksudmu mereka meledakkan atau memusnahkan kendaraan mereka?" tanyaku kemudian mengambil kacamata di rompiku yang memiliki fungsi infra merah sekaligus X-ray dalam jarak tertentu. Biasanya kacamata ini digunakan untuk memata-matai dari jarak jauh. Sekilas, kacamata ini terlihat seperti kacamata biasa.
"Mungkin. Tapi jika memang begitu seharusnya ada serpihan jejak." Rane menjawab ketika aku sedang memindai area sekitar taman dengan serius sambil berjalan maju dengan pelan.
"Apa mungkin... mereka menggunakan mode terbang dan memutuskan jejak bannya?" tanyaku ragu. Aku menekan tombol plus di gagang kanan kacamata untuk melihat area yang lebih jauh di depan sana.
"Mode terbang terlalu mencolok jika digunakan siang hari atau sedang tidak macet." Rane menjawab sambil berkeliling tak jauh dariku. Ah iya, mereka menyerang dan kabur ketika hari sedang siang. "Tapi mungkin saja kau benar. Mereka langsung menggunakan mode terbang ketika menyadari meninggalkan jejak."
"Hmp!!" Aku menahan napas syok sambil menutup mulut dan refleks bersembunyi di belakang Rane yang hanya beberapa meter dariku. Ia menolehkan kepalanya bingung. "Kena-"
"Psst!" Aku mendesis panik membuat Rane mengangguk paham walau ekspresinya menatapku aneh. Ia langsung menggunakan kacamatanya dan melihat ke depan sana sambil terus menambah jarak penglihatan pada kacamata. Aku hanya berani melihat ke depan melalui sela-sela jari, masih di belakang punggung Rane.
Karena ia tinggi, jadi ia menutupiku dengan baik.
"K-kau lihat 'kan?" tanyaku bergetar sekaligus merinding panik menatap setengah wajah Rane dari belakang. Ia tampak memicingkan matanya agar lebih jelas, membuatku nyaris menjambak rambutku hingga rontok melihatnya. Bisa-bisanya ia tahan melihat yang seperti itu dengan jelas! Aku yang hanya sekilas saja langsung takut.
"Hanya orang," gumam Rane dengan ringannya membuatku meneriakinya dalam hati.
"Mana mungkin ada orang yang duduk di atas pohon dan menggantung terbalik dengan aneh begitu," balasku agak kesal. "Itu terlihat... terlihat seperti..." Rane berbalik melirikku sementara aku menggaruk pipi bingung. "S-seperti hantu?"
Tatapannya berubah menjadi datar dan dingin membuatku merinding. "Kacamata ini tidak didesain untuk melihat hantu," gumamnya datar kemudian bergeser dari depanku, tapi aku dengan cepat mengikutinya dan tetap bersembunyi di belakangnya.
Rane menghela napas dan menatapku dengan pandangan mengejek yang kubalasi tatapan garang seolah mengatakan aku tidak takut pada hantu.
"Ayo periksa, kau tetap di belakang." Rane mengambil pisau dari balik rompinya, ia mengeluarkan pisau itu dari sarungnya tanpa menimbulkan suara. Aku menggeleng cepat dengan panik begitu Rane menatapku seolah memintaku cepat agar mengikutinya.
"Aku bisa pingsan duluan nanti," jawabku kecil berusaha tidak bergetar.
"Kalau begitu aku akan meninggalkanmu di sini," balas Rane datar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Agent
Ciencia FicciónBerawal dari ayahku yang memasukkan ku ke sekolah khusus yang mengajarkan murid nya untuk menjadi seorang agent. Mendapatkan misi pertamaku yang tergolong ringan. Sampai suatu saat krisis melanda karena sebuah organisasi gelap melancarkan aksi Biot...
