Alice mengekori Light sampai di sebuah ruangan kosong seperti Auditorium yang sudah tak terpakai di sana. Tentu Alice tidak bisa berpura-pura tidak tahu ketika melihat raut tertekan Light saat lelaki itu tiba-tiba mendatanginya dan mengakui jika Alice benar. Rahangnya mengeras, tatapannya antara ingin sedih dan marah ditahan setengah hati, kedua kepalan tangannya terus disembunyikan di dalam kantong celananya, dan ia terus menunduk samar selama berjalan kemari.
Alice sebenarnya mengerti perasaannya karena ia sendiri pernah mengalami hal yang hampir sama, namun ia memilih untuk tidak berkomentar banyak kecuali ingin membuat kondisi Light semakin buruk.
"Jelaskan." Light berdiri di depan jendela dan membelakangi Alice yang masih berdiri di ambang pintu. Gadis itu menatap punggung Light lama, kemudian masuk dan memilih duduk di salah satu kursi di sana lalu berputar, ikut membelakangi Light. Matanya menatap ke penjuru ruangan dengan datar dan dingin, seperti biasanya.
"Pertama, aku minta ma--"
"Jelaskan saja cepat," potong Light membuatnya bungkam sejenak. Tahu jika lelaki itu mungkin juga marah padanya karena tidak memberitahu apapun sejak awal, tidak peduli jika Alice bernotabene Gadis Yang Light Sukai. Atau mungkin Light hanya masih terlalu syok dan bersikap dingin adalah caranya untuk menutupinya.
Pikiran Alice melayang pada kejadian yang ia alami beberapa hari yang lalu. Dalam diam, ia berusaha menggali kembali ingatannya yang masih segar itu dengan perasaan tak enak.
"Alice! Alice! Lihat ini!" Violette menarik lengannya sambil menunjuk-nunjuk Holopad di pangkuannya dengan serius. Keduanya sama-sama berada di lantai dua mansion 5 yang kebetulan sedang sepi, semua murid memilih berkumpul di lobi mansion sejak pesan dari salah satu anggota Black Eagle, dan istirahat sejenak sementara Light, Rane, juga Xander sibuk bicara bertiga di ruangan sang Kapten Beta.
Alice menatap layar Holopad Violette dalam diam. "Tidak ada penjaga di pos markas?" gumamnya mendekatkan wajahnya sedikit ke layar yang menampilkan hasil retasan Violette pada kamera CCTV dekat pos markas di permukaan atas. Violette mengangguk cepat.
"Iya, aneh, 'kan? Tidak mungkin ada yang memintanya untuk libur, biasanya penjaga juga selalu duduk di posnya sepanjang hari," ungkap Violette membuat Alice mendengus dan menjauhkan wajahnya dari layar.
"Paling hanya ke toilet atau berkeliling sebentar," balasnya membuat Violette mendecak jengkel dan menatapnya masam. "Apa? Tidak mungkin dia hanya duduk di sana terus-terusan tanpa kebosanan. Fire Wings tidak menggunakan Humanoid sebagai penjaga."
"Yah, mungkin kau akan berubah pikiran setelah melihat ini." Violette mengetik sesuatu dengan cepat dan loading sana-sini kemudian layar berganti ke hasil pantauan kamera lain yang sedikit lebih jauh dari pos markas, gerbangnya. Tampak sebuah mobil hitam terpakir dengan mencurigakannya di sana. "Kau lihat itu? Iya, itu!"
"Apa? Hanya mobil yang sedang parkir," balas Alice mengerutkan dahinya. Violette menepuk dahinya dan menatap Alice datar.
"Cepat pakai lensa kontak code name-mu," ucapnya membuat Alice memasukkan tangan kanannya pada kantong celana, tempat softlens khusus untuk melihat tato code name para murid.
"Kenapa?" tanya Alice sambil menggunakan lensa kontaknya sedikit hati-hati, ia tak terbiasa.
"Kau tahu? Code name kita ini tak terlihat kecuali kita menggunakan benda itu. Nah, itu sistem yang sama dengan teknologi-teknologi serba invisible lainnya saat ini. Kalau kau menggunakannya..." Violette menunjuk layarnya ketika Alice sudah selesai dan berkedip berkali-kali tak nyaman dengan matanya. "Kau bisa melihat sesuatu yang sama tak terlihatnya dengan code name kita."
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Agent
Science FictionBerawal dari ayahku yang memasukkan ku ke sekolah khusus yang mengajarkan murid nya untuk menjadi seorang agent. Mendapatkan misi pertamaku yang tergolong ringan. Sampai suatu saat krisis melanda karena sebuah organisasi gelap melancarkan aksi Biot...
