Siang itu stand Expo tidak seramai biasanya. Hanya ada beberapa pengunjung yang mampir dan tak ada satupun reservasi yang diterima. Adit berniat untuk mentraktir tim marketing nya makan siang. Setelah sepakat menu apa yang dipilih, Adit dan Shinta segera keluar untuk menuju ke stand makanan yang dimaksud.
"Apa nggak terlalu mahal pak kalau harus mentraktir 6 orang.. harga satu porsinya kan lumayan juga.."
"Ah gak masalah kalau sekali-sekali. Asal jangan setiap hari aja. Bisa bangkrut saya haha.." mereka berdua menyempatkan bercanda selama perjalanan, karena letaknya memang cukup jauh dari stand Expo mereka.
Tak lama kemudian, sesuatu menyita pandangan Adit. Ia seperti melihat seseorang yang dikenalnya. Perempuan berambut panjang dan berwarna kecoklatan itu tampak tak asing meskipun dilihat dari belakang. Hanya penampilannya yang sedikit berbeda. Kali ini ia terlihat cantik dan elegan dengan balutan busana yang terlihat cukup mahal. Tak seperti biasanya yang terlihat layaknya perempuan pekerja biasa dengan pakaian sepantasnya. Rambutnya kali ini dibiarkan terurai bebas hingga sepunggung. Tak seperti biasanya yang diikat berpola sesuai dengan aturan tempatnya bekerja. Beberapa perhiasan pun terlihat menghiasi tubuh proporsional dan indahnya. Anting dan kalung kecil minimalis sesekali terlihat berkilau diantara kibasan rambutnya.
"Pak Adit..!"
Adit terkejut saat sebuah tangan mengibas-ngibas didepan mukanya yang sedang melamun.
"Mau kemana pak? Stand makanannya disini.." ucap Shinta yang mengingatkan bahwa mereka telah terlewat beberapa meter karena Adit tak kunjung mendengar tegurannya.
"Oh iya Shin, kamu pesan dulu makanannya. Ini kartu kredit saya kamu bawa. Nanti kalau saya belum datang, kamu langsung balik ke stand ya. Saya menyusul." Ucap Adit yang segera beranjak sebelum di-iya kan oleh Shinta.
Shinta yang kebingungan dengan sikap atasannya itu, hanya mengiyakan dan melakukan apa yang diperintahkan kepadanya.
Adit sempat kehilangan sosok Via di keramaian departement store yang mulai cukup ramai bersamaan dengan telah tiba nya jam makan siang. Namun akhirnya Adit kembali melihatnya yang sedang berada di salah satu toko Tas.
"Via.." panggil Adit saat ia sudah berada di dalam toko tas tersebut.
"Iya? Mas manggil saya? Maaf mungkin mas salah orang.."
"Oh iya maaf.. maaf.."
Adit memanggil orang yang salah dikarenakan penampakan fisiknya mirip sekali dengan Via. Wajah Adit sedikit memerah karena malu. Entah kenapa akhir-akhir ini sering memikirkan sosok Via di kepalanya. Padahal sebelumnya tak pernah terjadi apa-apa.
"Mas Adit..!"
Adit terdiam. Seakan ia mendengar seseorang memanggil namanya. Suaranya mirip sekali dengan suara Via. Namun ia segera menepis pikirannya yang ia tau bahwa itu hanya halusinasinya.
"Mas..!"
Kali ini ia terkejut karena seseorang menepuk bahunya dari belakang. Spontan ia berbalik, dan Adit terkejut saat Via benar-benar ada dihadapannya.
"Vi.. Via..?" Ucap Adit terbata-bata.
"Iya ini aku, mau siapa lagi.. tadi kamu panggil namaku kok ke orang itu? Aku kan disebelah sana mas.."
Adit masih belum sadar betul akan apa yang dilihatnya. Yang awalnya ia merasa bahwa itu hanya halusinasi, ternyata Via dari awal memang benar-benar ada disana.
"Baju kita mirip ya? Maklum baju pasaran haha.."
"Kamu ngapain disini? Bukannya kamu harus kerja ya? Kok tumben berpakaian seperti ini waktu kerja?" Ucap Adit yang mulai bisa menguasai dirinya kembali.
"Aku ambil libur sehari mas.."
"Oh libur ya.. libur kok ke mall?"
"Via.." Bu Tari datang menghampiri Via dan Adit yang sedang berbincang.
Adit yang mendengar suara itu lekas berbalik.
"Oh, selamat siang Bu.." Sapa Adit kepada Bu Tari.
"Iya selamat siang.." ucap Bu Tari.
"Siapa ya Vi?" Tanya Bu Tari kepada Via.
"Dia mas Adit ma. Masa lupa.." jawab Via.
"Adit..?" Ucap Bu Tari sambil sedikit berfikir apakah ia mengenalnya.
"Iya Bu saya Adit. Staf nya pak Andi di Alam Hotel.." ucap Adit menjelaskan dirinya.
"Oh kamu yang dulu pernah ngantar Via pulang waktu kecelakaan itu ya?" Ucap Bu Tari.
Via memutar matanya dan tampak malas saat Bu Tari mengingatkan tentang kejadian malam itu.
"Betul Bu. Kita berjumpa lagi disini.."
"Kamu ngapain disini nak Adit?" Tanya Bu Tari.
"ALAM hotel sedang ada Wedding Expo di lantai satu mall ini Bu. Silahkan mampir bila ada waktu.." ucap Adit.
"Oh begitu.. iya nanti kalau gak kesorean saya usahakan lihat standnya. Ini saya lagi carikan baju untuk Via buat acara peresmian besok. Papanya bilang dia harus tampil cantik besok. Jadi saya lagi pilih baju yang cocok buat dia.."
"Mama lebay banget sih. Orang cuman peresmian biasa aja. Biasanya juga pakai baju yang numpuk di lemari.."
Adit tak berani menunjukan ekspresi berlebihan didepan Bu Tari. Meskipun ia tau maksud dari shoping mereka kali ini.
"Baik Bu, silahkan dilanjutkan, saya mau kembali ke stand dulu. Saya tunggu kehadiran ibu dan Via di stand jika ada waktu.. saya permisi dulu."
Segera setelah itu Adit beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.
Melihat Adit beranjak, Via merasa ingin menahannya, namun apa daya, ada Bu Tari sedang bersamanya. Ia tak bisa berbuat apa-apa dan hanya memandang Adit pergi menjauh.
Adit tak mampu berkata. Ia berfikir bahwa rumor yang dibicarakan saat rapat kemarin benar adanya. Acara peresmian hotel baru itu sekaligus akan menjadi ajang perjodohan antara Via dan anak investor hotel yang berasal dari Singapura itu.
Ia sempat menepis perasaan yang mulai timbul dalam dirinya. Namun perasaan itu kembali muncul saat ia melihat sosok Via di matanya. Ia menyadari bahwa Via bukanlah kelasnya. Mengingat ia hanya sekertaris menejer marketing di perusahaan besar milik ayah Via.
----------------------------------
Halo... Terimakasih sudah membaca hingga part ini...
Kritik dan Sarannya jangan lupa ya...
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Boss's Daughter
RomantikCerita ini disusun dengan alur yang ringan-ringan saja. Tak ada melow yang berlebihan. Dan endingnya pun bisa ditebak layaknya cerita romance pada umumnya. Selama on going, part diupload random saja selama saya ada waktu ditengah kesibukan silaturah...
