Di bukanya pintu tangga darurat dengan sedikit tergesa-gesa saat ia telah sampai di lantai menejemen. Segera Via berlari menuju ke ruang divisi marketing tempat Adit bekerja. Disusurinya koridor kantor dengan tatapan yang terus mencari sosok Adit disana. Namun ia tak kunjung menemukan apa yang ia cari.
Beberapa saat kemudian Via telah sampai di ruangan kantor divisi marketing. Ia sedikit berlari menuju ke meja Adit yang berada di depan ruang menejer.
Ia sudah tak menghiraukan penampilannya yang mulai berantakan. Kelopak matanya sudah mulai berkaca-kaca dan tak tau kapan akan tumpah. Sontak kehadirannya di tempat itu dengan kondisi demikian menarik perhatian semua orang yang tengah berada di ruangan yang sama.
"Bu Via..? Bu Via ada perlu apa kemari? Ruangan pak Andi ada di ujung koridor mbak.. disini ruangan divisi marketing.." ucap Shinta.
Via tak menjawab pertanyaan wanita itu dan mencari meja Adit. Tubuhnya mematung beberapa saat ketika ia melihat meja Adit telah bersih. Tak ada tas ataupun barang-barang Adit di meja itu.
Via kembali berlari meninggalkan ruang divisi marketing dengan tergesa-gesa. berharap Adit masih belum meninggalkan gedung dan sempat ia susul saat di lobi.
Adit berjalan perlahan menyusuri lorong gedung apartemennya. Direnggangkannya ikatan dasi yang terasa sangat mencekiknya hari ini. Dihembuskannya nafas berat saat ia telah sampai di pintu apartemennya. Tatapan matanya terlihat sangat lelah dan tak bersemangat.
Dijatuhkan tubuhnya diatas ranjang. Matanya terpejam beberapa saat untuk menenangkan pikirannya. Dihembuskannya beberapa kali nafas berat yang keluar dari hidungnya sembari ia mengingat kejadian di lobi tadi saat ia melihat Mike sedang menggenggam tangan Via.
Ia mencoba berfikir jernih bahwa hubungannya dengan Via tidaklah benar. Ia menyadari posisinya di perusahaan itu. Akan siapa dirinya, dan siapa orang yang dicintainya. Sungguh berat bagi Adit untuk melepas perempuan yang terlanjur dicintainya. Namun ia tau bahwa ia harus melakukannya demi kebaikan dan kebahagiaan mereka berdua.
Adit merasa kedua matanya semakin berat dan tak sanggup lagi ditahan. Tak lama kemudian ia telah terlelap dalam tidurnya tanpa sempat menanggalkan pakaian kerjanya atau membersihkan badannya.
***
Ting.. tung.. tok.. tok.. tok..
Ketukan pintu yang cukup keras membangunkan Adit dari tidur lelapnya di sore itu. Dengan sedikit sempoyongan ia beranjak dari kamarnya untuk membukakan pintu.
"Kamu ini biasa.. pulang kerja di lepas dulu bajunya. Terus mandi. Bukannya langsung tidur..!" Ucap Bibi Maya yang lekas merangsek masuk saat pintu belum terbuka dengan sempurna.
"Ini kamu makan dulu. Tadi bibi belikan nasi krawu kesukaan kamu."
"Bi.. Adit bisa minta tolong gak.." ucap Adit dengan sedikit lesu.
Bibi Maya yang melihat kondisi keponakan kesayangannya sedikit bertanya-tanya. "Kamu kenapa toh le.. kayak lemes banget gitu.."
"Bibi bisa gak pulang aja, aku lagi ingin sendiri Bi.."
Mendengar ucapan Adit, Bibi Maya mencoba mengerti dan mengiyakan permintaan Adit.
Ditutupnya kembali pintu apartemennya dan tak lupa untuk menguncinya. Setelah itu ya beranjak kembali menuju ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya hingga ia merasa baikan.
Ting.. tung.. Ting..tung..
Adit belum sempat mencapai ranjangnya, bel pintu rumahnya kembali berbunyi. Dengan sedikit kesal ia berusaha kembali menuju pintu depan untuk segera menyuruh bibinya menyelesaikan urusan di rumahnya dan lekas pergi meninggalkan ia sendiri.
"Ada apa lagi sih bi.. kan udah ku bilang nanti akan kumakan makanannya setelah bangun tidur.."
"Kamu kenapa menghindar dari aku??"
Adit terkejut bukan main saat ia menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.
Via yang sudah kehilangan kontrol atas air matanya segera masuk dan mendorong Adit perlahan untuk ikut masuk kedalam bersamanya. Adit yang merasa sudah terpojok di rumahnya sendiri dan tak bisa menghindar lagi, terpaksa menuruti kemauan Via.
"Kita hanya perlu bicara. Kamu gak perlu menghindar seperti ini.. ini semua hanya salah paham.." ucap Via sambil air matanya terus mengalir di pipinya yang telah memerah.
"Aku tau aku salah telah berbohong kepadamu kemarin. Aku mengaku kalau aku pulang dengan mas Mike karena dia memaksaku. Dan aku terpaksa menuruti keinginannya karena tak enak dilihat banyak orang di halte."
Adit yang mendengar itu hanya bisa mematung dan mendengar semua pengakuan bersalah dari Via. Adit merasa sangat kasihan melihat kondisi Via yang sudah sangat berantakan karena mengeja dirinya yang sengaja menghindar.
Bibi Maya yang sempat berjumpa dengan Via di lift apartemen sempat mendengarkan percakapan mereka dari luar karena Adit tak sempat menutup pintu apartemennya. Kemudian dengan perlahan bibi Maya mencoba menutup pintu itu agar mereka bisa berbicara dengan leluasa di dalam.
"Dan yang waktu itu juga karena kesalahanku. Kamu dan tim mu menunggu Mas Mike datang hingga jadwal kalian berantakan. Saat itu Mas Mike sedang mengantarkan aku ke departemen store hingga kita terjebak kemacetan parah. Andai saja aku menghiraukan perintah mamaku dan menolak ajakan mas Mike, pasti jadwal kalian tidak akan berantakan."
Adit masih terdiam seribu bahasa. Via mengungkapkan semua yang sebenarnya sudah diketahui oleh Adit.
"Itu semua salahku yang.. aku penyebab semuanya.. kamu berhak memarahiku. Kamu berhak menghukumku. Pukul aku jika bisa membuatmu lebih baik. Lakukan. Aku tak akan pernah menghindar."
Air mata Via semakin deras dan membasahi pipi hingga menetes ke seragam bioskopnya.
"Tapi ku mohon jangan lakukan ini kepadaku. Kumohon jangan menghindar dariku.. lakukan apapun maumu. Tapi jangan pergi dariku.. jangan sekalipun.."
Via mulai terisak. Kepalanya menunduk dan suaranya mulai tak mampu ia kontrol. Tubuhnya berguncang menahan Isak tangis yang semakin menjadi-jadi. Suara tangisnya mulai terdengar di balik rambutnya yang menirai.
Adit sudah tak tahan melihat kondisi orang yang dicintainya seperti itu. Diraihnya tubuh Via yang sudah terlihat lemas itu. Dibenamkannya Via kedalam pelukannya. Seketika tangis perempuan yang sudah kehilangan sepatu high heels nya itu melepaskan semua kesedihannya di pelukan Adit. Dalam sekejap kemeja putih Adit basah kuyup karena ari mata Via.
Mereka berpelukan di tempat itu beberapa saat. Adit sudah tak menghiraukan bila ada tetangga yang tak sengaja mendengar. Yang ia rasakan saat itu hanyalah perasaanya seakan telah berbaur dengan kesedihan Via. Mereka saling merasakan apa yang dirasakan oleh pasangannya. Dan tanpa disadari, air mata Adit telah menetes di rambut Via yang sedikit basah karena berlarian mengejarnya.
***
So sweet juga ya mereka.. hihi
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Boss's Daughter
RomanceCerita ini disusun dengan alur yang ringan-ringan saja. Tak ada melow yang berlebihan. Dan endingnya pun bisa ditebak layaknya cerita romance pada umumnya. Selama on going, part diupload random saja selama saya ada waktu ditengah kesibukan silaturah...
