Part 42

2.1K 81 1
                                        


"Yasudah aku pergi dulu."

Adit melepaskan genggaman tangannya di lengan Via dan segera bergabung dengan antrian calon penumpang lain. Via terdiam dan melihat Adit menjauh hingga kekasihnya itu masuk kedalam gedung dan hilang dari pandangannya.

Adit dan Shinta berjalan beriringan menuju ke antrian konter check-in Garuda Indonesia. Antrian yang cukup panjang di siang hari yang telah beranjak sore.

"Pak Adit beneran pacaran sama Bu Via ya?" Ucap Shinta.

"Rahasianya masih terjaga kan?"

"Tentu saja pak. Tenang saja.." Ucap Shinta yang berada satu antrian di depan Adit.

"Pak Andi apa sudah tau pak?" 

"Sudah."

"Wah, pak Adit berani sekali.. keren.. padahal anak bos sendiri.. Ada rencana menikah pak?"

"Sudah jangan ingin tau lebih jauh. Nanti juga kamu tau sendiri akhirnya seperti apa.."

"Iya maaf pak.." Shinta lekas diam dan kembali mengantri di barisannya.

Via menepi agar tak tertabrak lalu lalang calon penumpang yang lain. Ia terus memandangi papan schedule yang berada di halaman bandara untuk mengetahui apakah pesawat Adit sudah berangkat atau belum.

Flight                     : Garuda Indonesia
Flight Number.  : GA 652
Schedule              : 14.00
Destination         : Sultan Mahmud Badarudin II Palembang
Gate                       : 7
ETD                        : 15.15
Status                   : Delayed

Dihembuskannya nafas berat saat ia telah menunggu beberapa saat dan masih tak ada perubahan pada jadwal di papan itu. Lalu Via memutuskan untuk pulang dan menunggu kabar Adit saat ia telah tiba di Palembang.

***

Hari telah berganti. Adit terbangun pagi sekali di kamar hotelnya saat ponsel nya berdering cukup keras di telinganya. Terkejut oleh suara bising di hari yang masih gelap itu, Adit segera meraih ponsel yang tergeletak di samping bantalnya setelah semalam ia berkirim pesan hingga larut dengan Via. 

"Pak Adit maaf membangunkan jam segini. Saya hanya ingin menyampaikan kalau email dari penyelenggara Asian Games yang bapak tunggu baru saja masuk."

Adit lekas mengecek email melalui ponselnya setelah menutup telepon dari stafnya. Dengan mata yang masih sayu, dibacanya satu persatu list yang harus segera ia sediakan sesuai dengan kebutuhan pihak penyelenggara.

Adit beranjak dari ranjangnya dan menuju ke sebuah meja yang ia fungsikan sebagai meja kerjanya. Dipegangnya tengkuk belakang lehernya. Matanya masih sedikit mengantuk saat tidurnya tak begitu pulas meskipun di kamar hotel yang cukup nyaman. Pikirannya masih dipenuhi berbagai macam hal terkait pekerjaannya di kota itu.  

Matahari telah berangsur meninggi. Cahaya terangnya menembus kaca jendela yang tirainya sudah terbuka sejak subuh tadi. Adit melangkah keluar menuju balkon kamarnya yang terletak di lantai 8 gedung Hotel. Di sebarkan pandangan ke luasnya kota Palembang yang terlihat mulai sibuk. Dari kejauhan terlihat liukan sungai musi yang berwarna coklat muda, serta beberapa perahu kecil sedang berlayar di alirannya. 

Ting.. tung..

"Pak, mereka sudah datang. Sekarang ada dil lobi." Ucap salah seorang staff hotel saat Adit telah membuka pintu kamarnya.

"Baik. Saya segera kesana." Ucap Adit yang kemudian kembali menutup pintu kamarnya untuk bersiap turun ke lobi. 

Di Malang, tampak kesibukan hotel seperti hari-hari biasanya. Pak Andi tengah mengecek beberapa dokumen yang baru saja diletakan sekertarisnya di meja kerjanya. 

Tok.. tok.. tok..

Mike segera membuka pintu saat Pak Andi mempersilahkan dirinya untuk masuk. 

"Kamu kapan rencana akan berangkat ke Jogja?" Tanya Pak Andi saat ia dan Mike telah duduk di sofa tamu. 

"Rencananya besok Pak. Ada apa Pak? apa ada tugas untuk saya?"

"Oh tidak, saya hanya bertanya. Apa akomodasimu sudah disiapkan?"

"Sudah pak. Sudah jauh-jauh hari saya siapkan. Saya lusa juga sudah membuat janji dengan beberapa responden saya. Jadi besok siang saya harus segera berangkat."

"Oh begitu. Sebenarnya saya ada permintaan. Itu pun kalau tidak merepotkan Nak Mike." Ucap Pak Andi sambil mempersilahkan teh kepada Mike diatas meja. 

"Kalau saya bisa membantu, pasti saya bantu pak." Ucap Mike sembari mengangkat gelas teh dengan tangan kanannya. 

"Kalau Nak Mike bersedia, tolong Via ikut dalam perjalanan penelitian Nak Mike ke Jogja. Saya rasa Via butuh sedikit liburan. Dia jarang sekali pergi berlibur."

Mendengar itu, Mike sedikit terkejut.

"Saya rasa kalian harus punya waktu sendiri untuk saling mengenal satu sama lain. Tapi itu pun jika kehadiran Via tidak mengganggu jadwal Nak Mike disana nantinya." 

"Saya rasa itu bukan ide yang buruk pak. Jadwal saya cukup fleksibel disana. Malah saya berencana untuk sekalian traveling di tengah kegiatan penelitian saya."

"Bagus kalau begitu. Biar saya urus akomodasi untuk Via. Nak Mike tidak perlu keluar biaya lagi."

"Oh tidak usah pak. Kebetulan saya memakai jasa travel untuk mengurus semua akomodasi saya selama di jogja. Saya tinggal menambah satu pax lagi kepada mereka untuk Via. Bukan masalah besar. Pak Andi tak perlu memikirkan soal itu." 

"Begitu ya.. Yasudah kalau begitu. Saya sudah berbicara kepada Via semalam soal ini, karena Saya yakin Nak Mike juga akan setuju dengan rencana saya ini."

Pak Andi dan Mike tersenyum dan sedikit tertawa kecil sebelum mereka berdua kembali meminum teh yang tersaji di atas meja bersama-sama. 

Dirumah, Via tengah membantu mamanya mengelap beberapa gelas antik yang sudah lama tersimpan di lemari display ruang keluarga.

"Ma, aku boleh gak besok tidak ikut mas Mike.. lagipula aku harus kerja ma.. masa aku harus cuti beberapa hari cuma buat liburan.. seperti gak ada hari libur aja."

Wajah Via tampak cemberut sambil kedua tangannya secara hati-hati mengelap sebuah gelas antik berwarna keemasan.

"Ini bagus buat kalian saling mengenal. Lagi pula selama Mike disini, kamu tak sekalipun pergi keluar berdua dengannya. Masa sekali aja waktu Mike ngantar kamu berangkat kerja.."

Bu Tari sedang mengambil beberapa gelas dan teko dari lemari untuk ia bersihkan bersama Via diatas meja ruang keluarga.

"Ya tapi gak pergi berdua seperti ini juga ma.. masa kita harus nginap beberapa hari di tempat yang jauh dari rumah.. udah seperti bulan madu aja.."

"Ya itung-itung buat latihan.." Ucap Bu Tari.

"Ih mama apaan sih ngomongnya?!"

Bu Tari tertawa mendengar komentar Via.

"Kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Kalian tetap gak boleh sekamar. Mama sama papa cuma ingin kalian punya waktu berdua aja buat jalan-jalan. Gak lebih."

"Kalau cuma itu, gak perlu jauh-jauh ke Jogja ma.. disini juga bisa.. oke deh nanti Via ajak Mas Mike jalan. Gak tau jalan kemana."

"Telat. Papa sudah memutuskan kamu ikut. Kebutuhan kamu juga sudah diurus papa. Jadi gak bisa dibatalin."

"Kok gitu sih?! Lagian Mas Mike pasti keganggu kalau ada aku. Kan dia kesana mau penelitian. Bukannya liburan."

"Mike pasti setuju. Jadi kamu jangan khawatir soal itu."

Wajah Via semakin cemberut. Usapan kain lap pada gelas antik itu semakin terlihat menekan dan cepat. Bu Tari sedikit mengomel atas tingkah Putrinya itu.

***

Nah Lo.. gimana kalau Adit tau nih..

Dear Boss's DaughterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang