"Via.. Via.. kamu tenang ya. Kamu jangan nangis gini, nanti makeup cantik kamu luntur.. diluar banyak tamu yang mengagumi paras cantik dan anggunmu."
Via masih tetap terisak beberapa kali sembari mencoba mengusap air matanya yang kembali hendak mengalir agar tak merusak makeupnya terlalu banyak.
Adit semakin tak tega melihat kondisi Via saat itu. Via merasa sangat tertekan dan bingung harus melakukan apa.
"Sejujurnya aku tau kalau kamu akan dijodohkan dengan anak investor papa kamu itu. Tapi aku juga tidak bisa memberitahumu.." ucap Adit.
"Kenapa mas? Kenapa gak bisa kasih tau aku? Kenapa?" Tanya Via dengan muka sembabnya.
"Itu bukan ranahku.. itu adalah kehidupan pribadimu. Mana bisa aku ikut campur dan punya hak apa aku membahas kehidupan pribadimu. Disini kamu masih merupakan atasanku."
Via terlihat sudah sedikit tenang dan mampu mengontrol dirinya lagi.
"Jadi maksudmu kamu gak bisa ngasih tau aku karena kita gak punya hubungan pribadi? Kamu gak mau ngasih tau aku karena kita gak punya hubungan apa-apa? Iya..?"
"Via... Bukan.."
"Oke mas kalau gitu. Biarkan aku jujur sama kamu. Dari dulu aku selalu menolak perjodohan dari orang tuaku. Aku sama sekali tak menginginkan mendapat pasangan dari perjodohan. Aku sama sekali tidak menginginkan dijodohkan."
"Via.. kamu harus mengerti, perjodohan ini bukan hanya tentang suka atau tidak suka. Ini sudah lebih jauh dari itu. Ini menyangkut kehidupan banyak orang.. dan ini juga menyangkut keberlangsungan perusahaan papa kamu.."
"Mas Adit. Apapun alasannya, aku gak akan pernah mau jika hidupku harus dijadikan taruhan seperti ini."
"Via.."
"Mas! Aku nggak suka sama dia! Aku suka nya sama kamu!" Via mulai terbawa emosi kembali. Dan nada suaranya semakin meninggi.
Mendengar itu Adit terkejut. Kedua matanya membulat. Tubuhnya mematung beberapa saat.
"Apa maksud kamu Vi..?" Ucap Adit terbata-bata.
"Aku sukanya sama kamu mas Adit.. bukan sama dia.. tolong kamu mengerti.." tangis Via kembali pecah. Kali ini Via sudah tak sanggup lagi membendung air matanya yang semakin deras mengalir.
Tanpa sadar, Adit meraih tubuh Via perlahan, kemudian membenamkannya kedalam pelukannya. Seketika pecah lah kembali tangis Via di dadanya.
Adit hanya mampu terdiam. Ia tak tau harus berbuat apa dengan wanita yang sudah mengungkapkan perasaannya kepada dirinya. Antara bahagia karena kini Adit tau bahwa mereka saling memiliki perasaan yang sama walau Adit belum mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya kepada Via, dilain sisi, Adit merasa sangat ketakutan kalau memang itu benar-benar terjadi.
"Dit Adit.. monitor.." terdengar seseorang memanggilnya dari HT.
Adit melepaskan pelukan Via perlahan. Ia melihat penampilan Via sudah sangat kacau saat itu. Makeup nya berantakan, dan matanya sangat sembab. Gaun indah dan mahal yang dipakainya pun terlihat sedikit kusut.
"Masuk." Balasnya melalui HT.
"Lu kemana aja? Buruan balik posisi! Bentar lagi pemotongan pita!."
"Siap. Meluncur ke posisi 1 menit." Jawab Adit.
"Via. Jangan sedih ya. Kamu harus kuat. Kita berjuang bersama. Pasti ada jalan." Adit memberikan senyum manisnya kepada Via yang berusaha mengusap air matanya yang terlanjur merusak makeupnya.
Melihat itu Via merasa lebih tenang. Spontan Via kembali memeluk tubuh Adit beberapa saat sebelum kembali dilepaskan oleh Adit Karena ia harus segera kembali bertugas.
"Kamu sekarang pergi ke belakang panggung, tunggu di toilet. Aku akan suruh Shinta bantu kamu makeup lagi. Oke?" Ucap Adit yang segera dibalas anggukan oleh Via.
"Yasudah aku harus kembali bertugas." Adit segera beranjak menuju pintu untuk kembali ke tempatnya.
"Mas tunggu." Panggilan Via menghentikan langkah Adit yang hendak membuka gagang pintu.
"Apa?"
"Mana kartu nama mu.." ucap Via.
Adit tersenyum, lalu memberikan apa yang Via minta.
"Bye.." ucap Via dan dibalas isyarat tangan oleh Adit.
"Pak Adit kemana aja? Pak Indra marah-marah tuh gara-gara pak Adit ngilang terus.." ucap Shinta saat ia sudah berada di posisinya.
"Shin. Kamu sekarang pergi ke toilet belakang panggung. Kamu bantu Bu Via betulin makeupnya." Perintah Adit.
"Hah? Maksudnya pak?"
"Sudah jangan banyak tanya. Segera pergi ke backstage." Tegas Adit yang segera membuat Shinta sedikit berlari ketempat yang diperintahkan Adit.
"Tok.. tok.. permisi Bu Via.."
"Kamu Shinta?" Tanya Via.
"Iya betul Bu. Bu Via harus segera kembali ke panggung. Mari saya bantu.."
Mereka pun segera membetulkan makeup Via yang sudah sangat berantakan. Shinta sempat bertanya penyebab dari rusaknya semua makeup mahal itu. Via hanya menyuruhnya untuk diam dan tidak memberitahukan kepada siapapun.
Beberapa saat kemudian Via sudah terlihat kembali keatas panggung. Makeup nya sudah kembali seperti sedia kala. Hanya sedikit wajah sembabnya yang masih terlihat samar. Namun hal itu tak menimbulkan banyak pertanyaan dari orang yang melihatnya. Bu Tari terlihat sempat mengomeli Via secara diam-diam. Namun Via hanya tersenyum mendengarnya dan melihat kearah Adit yang sudah berdiri tegap diposisinya sambil mengawasi keadaan di dalam Ballroom.
------------------
Via berani banget yah...
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Boss's Daughter
RomanceCerita ini disusun dengan alur yang ringan-ringan saja. Tak ada melow yang berlebihan. Dan endingnya pun bisa ditebak layaknya cerita romance pada umumnya. Selama on going, part diupload random saja selama saya ada waktu ditengah kesibukan silaturah...
