"Pagi ma.." ciuman hangat Via melayang ke pipi Bu Tari yang sedang sibuk memasak sarapan.
"Tumben pagi-pagi sudah nyium mama.. kalau gini tiap hari kan mama jadi seneng.."
Bu Via tersenyum dan membalas ciuman putrinya itu. Via tersenyum lebar sambil melihat mamanya memasak.
"Mau Via bantuin ma?"
"Itu sayuran kamu cuci. Jangan sampai patah ya." Perintah Bu Tari yang segera dilaksanakan oleh Via.
"Wah tumben kamu jam segini sudah bantu mama masak.."
Pak Andi yang sudah terlihat rapi mendekat dan menyapa dua orang yang paling dicintainya dengan ciuman juga sebelum ia beranjak duduk di kursi meja makan.
"Papa juga tumben pagi-pagi sudah nyium mama.. jadi bahagia dobel deh mama pagi ini.."
Ketiga orang itu tertawa bersama-sama menikmati kehangatan keluarga mereka di pagi yang cerah itu.
"Oh iya Via, papa kemarin pesan sesuatu lewat internet. Katanya akan diantar jam 9 pagi. Nanti kalau paketnya datang bisa tolong kamu antar ke hotel?"
Pinta Pak Andi saat mereka bertiga telah bersiap menyantap makanan yang telah terhidang di atas meja makan.
"Kenapa gak langsung disuruh antar ke hotel aja pa?"
"Ah jangan, itu barang pribadi papa. Kalau diantar ke hotel, pihak keamanan harus membongkar dulu isinya.. papa kan malu kalau dilihat banyak orang.."
"Emangnya barang pribadi apa sih pa?"
"Kamu mau tau aja. Namanya juga barang pribadi.."
Via yang mendengar itu sedikit memanyunkan bibirnya dan hanya mengiyakan permintaan papanya.
***
Semua menejer tengah berkumpul untuk memberikan laporan mereka kepada Pak Andi. Bertepatan dengan awal bulan, Pak Andi memberlakukan aturan penyerahan laporan bulanan bagi setiap divisi agar perkembangannya dapat dipantau secara berkala.
Pak Andi mengangguk-angguk dan sedikit memberikan instruksi tambahan dan evaluasi singkat kepada setiap menejer yang tengah berkumpul di ruang kerjanya.
Ditengah diskusi, sekertaris Pak Andi masuk dan menghampiri pimpinan yang duduk di sandaran kursi paling tinggi itu.
"Suruh masuk saja." Ucap Pak Andi saat sekertarisnya selesai berbisik.
"Baik bapak-bapak, saya terima laporan anda untuk bulan lalu. Kita akhiri dulu meeting kita. Silahkan kembali ke tempat masing-masing."
Setelah itu semua jajaran menejer segera keluar bersama-sama. Rombongan itu berpapasan dengan Via di pintu ruangan. Via menghentikan langkahnya dan sedikit bergeser ke pinggir untuk memberikan jalan kepada para menejer itu keluar terlebih dahulu.
"Papa lagi sibuk? paketnya aku titipin Mbak Dini aja ya.." Ucap Via saat ia sudah masuk.
"Jangan. Kamu duduk dulu sini." Pak Andi mengajak Via untuk berbincang sejenak di sofa ruang kerjanya.
Diletakannya paket yang terbungkus kertas kardus itu dengan sedikit keras di atas meja.
"Papa apa-apaan sih. Masa paket parfum gini nyuruh Via nganter ke kantor papa? Gak ada paket yang lebih penting apa.."
"Sebenarnya papa gak terlalu membutuhkan parfum itu. Itu parfum wanita. Kamu bisa memilikinya. Itu parfum merek dunia lho, harganya mahal.."
"Ah papa ngerjain Via ya..!"
"Papa mau bicara sama kamu." Ucap Pak Andi dengan serius.
Via yang merasa ekspresi Pak Andi terlihat seperti tak bercanda, segera diam dan memperhatikan apa yang akan dibicarakan oleh Pak Andi.
Di ruangan lain. Adit dan staff lain cukup sibuk dengan beberapa berkas dan laporan yang harus segera ia selesaikan. Tak terdengar percakapan antara mereka. Semuanya terlihat fokus pada layar laptop dan komputer di hadapan masing-masing. Beberapa kali salah seorang dari mereka menghampiri salah seorang lain untuk memberikan atau mengambil berkas yang diperlukan.
"Mas Adit dipanggil pak Andi di ruangannya sekarang." Ucap seorang staff marketing perempuan yang memanggil Adit dengan suara yang cukup keras dari mejanya sendiri.
Adit segera beranjak dari kursinya dan menuju ke ruangan Pak Andi. Siulan Adit terdengar sepanjang perjalanannya. Tangan kanannya masuk ke dalam saku celana, dan tatapan matanya santai memperhatikan koridor yang tak terlalu panjang. Dari kejauhan sudah terlihat pintu ruangan Pak Andi di ujung koridor.
"tok.. tok.. Permisi pak. Bapak memanggil saya?"
"Masuk Pak Adit." ucap Pak Andi.
Adit melangkahkan kakinya masuk menuju ke meja kerja Pak Andi. Adit tau ada seseorang di hadapan Pak Andi saat ini. Namun ia tak terlalu memperhatikan siapa orang itu.
"Dia kan orangnya?" Ucap Pak Andi.
Adit yang baru saja hadir terlihat kebingungan atas ucapan Pak Andi. Pak andi memandang seorang perempuan di hadapannya yang terlihat sedikit tertunduk.
Kedua mata Adit membulat saat ia tau siapa perempuan yang duduk di hadapan pak Andi itu. Mulutnya seketika tak mampu berucap, dan kakinya terasa kaku. Via terlihat seperti sedang terintimidasi oleh ayahnya sendiri.
Via hanya diam tak menjawab. Ekspresinya terlihat sangat ketakutan.
"Maaf pak Andi, sebenarnya ada apa bapak memanggil saya?" Ucap Adit.
Pak Andi tak menghiraukan pertanyaan Adit. Pria itu tetap menatap Via dengan tatapan tegas.
"Sejak kapan?" Tanya Pak Andi lagi.
masih tak ada jawaban dari Via. Kepalanya masih tertunduk dan mengigit bibirnya.
Pak Andi terdiam dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi putar meja kerjanya. Adit tak bergerak sedikit pun, ia mencoba menebak apa yang sedang terjadi saat itu dalam pikirannya.
"Apa benar pak Adit berpacaran dengan Via putri saya?"
Adit terkejut setengah mati mendengar pertanyaan Pak Andi. Via tiba-tiba menegakan kembali kepalanya dan menatap Papanya. Sesaat kemudian Via menengok ke arah Adit yang masih terdiam tak mampu menjawab. Ekspresinya terlihat kalut dan putus asa.
-------------------------------
Bagaimana nasib Adit selanjutnya..
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Boss's Daughter
RomanceCerita ini disusun dengan alur yang ringan-ringan saja. Tak ada melow yang berlebihan. Dan endingnya pun bisa ditebak layaknya cerita romance pada umumnya. Selama on going, part diupload random saja selama saya ada waktu ditengah kesibukan silaturah...
