Part 23

2.6K 115 2
                                        

Mereka memilih beberapa menu lauk dan dua piring nasi. Terlihat cukup banyak untuk ukuran makan dua orang. Adit memang memiliki porsi makan yang cukup banyak, namun hal itu seperti tak mempengaruhi bentuk tubuhnya yang cukup ramping. Via yang baru mengetahui itu dibuat cukup keheranan.

"Mas, aku boleh minta sesuatu gak.. itupun kalau kamu gak keberatan.." ucap Via ditengah suapan nasi ke mulutnya.

"Hm..?" Kode Adit dengan kedua alisnya yang terangkat karena mulutnya masih sibuk mengunyah.

"Yang..."

Ucapan Via membuat Adit sedikit tersedak dan menahan tertawanya.

"Iih kok ketawa.. jelek ya??" Lanjut Via sembari mengambil sehelai tisu dan mengusapnya ke ujung bibir Adit yang sedikit mengeluarkan kuah sayur.

Sesaat kemudian Adit mulai tenang kembali dan melanjutkan suapan makannya, dan membiarkan Via melakukan keinginannya itu.

"Kamu ternyata manja juga ya orangnya.." ucap Adit.

"Emang.. baru tau ya.."

"Iya lah.. beda banget saat kita pertama ketemu. Kamu judes dan cuek sekali.."

Via hanya tersenyum manis sambil menata makanannya di sendok untuk disuapkan ke mulut.

"Kamu gak banyak berubah yang.. Tetep kalem."

"Kamu belum tau aja.." ucap Adit.

"Oh ya? Terus kamu sebenarnya orang yang seperti apa?"

"Wait and see.." jawab Adit singkat.

"Yee.."

Adit hanya tertawa kecil melihat ekspresi Via yang cukup menggemaskan. Sesekali ia mencuri pandang karena mengagumi kecantikan putri semata wayang bos nya itu.

"Yang.., besok aku main ke apartemenmu boleh ya? Kamu hari Minggu ini dirumah kan?"

"Kamu bisa masak?" Tanya Adit tanpa menjawab pertanyaan Via terlebih dahulu.

"Mm.. gak jago-jago banget sih.. aku sering bantuin mama di dapur. Kenapa?"

"Kamu kalau kerumahku harus masakin aku sesuatu. Kalau nggak, kamu gak boleh datang."

"Hah? Syarat macam apa itu?? Okeh. Kamu suka makanan apa? Nanti aku masakin yang spesial."

Adit tersenyum sambil melihat wajah cantik Via yang terlihat sedikit kesal.

"Apapun yang kamu bisa. Aku ingin tau rasanya."

"Deal. Besok pagi aku akan datang."

Perbincangan ringan mereka berjalan cukup lama dan tak terasa jam makan siang telah lewat. Food court itu telah terlihat semakin sepi. Para pekerja yang tadi memenuhi tempat itu perlahan pergi kembali ke tempat mereka mencari nafkah.

Ponsel Adit terlihat bergetar diatas meja. Merasakan itu Adit segera melihat siapakah yang sedang memanggilnya. Tak ada nama, hanya nomor yang terlihat di layar itu.

"Halo.." jawab Adit.

"Halo pak Adit, Saya Mike. Pak Adit sekarang sedang berada dimana? Kalau ada waktu bisa kita bertemu sekarang? Ada yang perlu saya diskusikan dengan bapak."

Mengetahui siapa yang menelepon dirinya, mata Adit sedikit melebar dan kepalanya sedikit menegak.

"Ada apa?" Tanya Via saat ia lihat ekspresi Adit berubah.

"Baik pak, setengah jam lagi saya di hotel." Ucap Adit yang kemudian mengakhiri teleponnya.

"Kamu udah mau balik ya? Itu papa?" Tanya Via yang semakin penasaran.

"Bukan. Sepertinya aku harus segera kembali ke hotel. Ayo aku antar kamu dulu." Ajak Adit segera pergi meninggalkan Foodcourt itu disusul dengan Via dibelakangnya.

***

"Hari pertama Mike gimana pa di hotel?" Tanya Bu Tari.

"Sepertinya lancar. Papa liat dia sibuk mondar mandir dan banyak berdiskusi dengan orang-orang disana. Dia sepertinya ingin belajar banyak soal industri ini."

Pak Andi dan Bu Tari sedang mengobrol santai di halaman belakang rumah sembari menikmati secangkir teh hangat.

"Gitu ya. Aku juga seneng pa, jadi Mike dan Via bisa sering bertemu nanti.. oh iya, apa gak sebaiknya kamu tawarkan pekerjaan di hotel lagi ke Via Pa?"

"Kamu saja yang coba ngomong ke Via. Papa gak mau maksa. Papa sudah siapkan posisi untuknya kalau sewaktu-waktu dia berubah pikiran." Ucap Pak Andi.

Bu Tari meraih Ponsel pak Andi yang tergeletak di atas meja. Kemudia ia cari nomor Via dan lekas menelepon putrinya itu.

"Halo sayang.."

"Iya ma, ada apa?" Ucap Via di ujung telepon.

"Duh berisik sekali sih disitu, suaramu jadi kalah."

"Via lagi di dalam teater ma.."

"Kamu pulang jam berapa?"

"Seperti biasanya ma. Sekitar jam 11. Ada apa sih ma? Tumben tanya, kan tiap hari juga jam segitu.."

"Yasudah hati-hati. Jangan mampir-mampir. Langsung pulang. Kalau ada apa-apa segera telpon mama atau papa. Kalau mau dijemput bilang ya. Kamu jangan terlalu kecapekan."

Ucapan Bu Tari disambut gemas oleh Via diujung telepon. Tak lama kemudian Bu Tari mengakhiri teleponnya dan meletakan kembali ponsel milik pak Andi di tempatnya semula.

"Pah, mama khawatir kalau keluarga pak Daniel tau Via bekerja di tempat itu.. nanti apa kata mereka kalau sampai tau?"

"Papa gak ambil pusing ma.. mereka mau ngomong seperti apa ya terserah. Toh pekerjaan Via itu halal dan gak macem-macem. Kamu jangan berfikir yang aneh-aneh toh.. stres sendiri nanti kamu."

Bu Tari terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu. Namun pak Andi hanya cuek saja mengetahui keadaan Istrinya.

***

Kira-kira Via mau gak ya...

Dear Boss's DaughterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang