Suasana pun berubah menjadi canggung. Via tak ingin memulai percakapan. Ia hanya diam sambil memainkan handphone nya. Berharap Adit segera membalas pesan singkatnya, atau mengajaknya pergi dari tempat ini secepatnya. Tapi Via tau itu tak mungkin dilakukan oleh Adit.
Beberapa kali ia lihat Adit keluar masuk restoran untuk mengurus sesuatu. Karena itu ia mengerti alasan Adit tak lekas membalas pesan singkatnya.
"Via. Kamu mau jalan-jalan keluar? Disini terasa sedikit pengap.." ucap Mike.
Belum sempat Via menolak, Mike sudah beranjak dari kursinya dan menghampiri Via. Kemudian Mike menggeser kursi di samping Via agar Via mempunyai jalan untuk bangkit dari kursinya.
Via yang melihat itu merasa tak bisa menolak. Akhirnya ia ikuti permintaan Mike. Dan mereka pun berjalan ke balkon restoran untuk menikmati udara segar di luar.
Tak ada perbincangan yang terjadi selama beberapa saat. Mereka hanya berdiri di pinggir pagar sambil menikmati kerlip cahaya kota Malang dari kejauhan.
"Kalau boleh tau, hobi kamu apa Via?" Tanya Mike untuk memecah kecanggungan antara mereka berdua.
"Aku suka berenang." Ucap Via singkat.
"Sama kalau begitu. Aku juga suka berenang. Kamu biasanya berang dimana?"
"Dirumah.."
"Wah sama juga. Aku juga sering berenang di rumah kalau sedang tak ingin pergi keluar. Tapi kalau sedang ingin, aku biasanya pergi ke kolam renang resort bersama teman-teman."
Tak ada tanggapan dari Via. Ia hanya mengangguk mendengarkan cerita Mike yang ia rasa sama sekali tak menarik. Menurutnya kehidupan Mike terlalu mewah untuk bisa menarik perhatiannya.
"Kamu suka makanan apa?" Tanya Mike lagi.
"Fried Rice." Jawab Via singkat.
"Aku juga suka itu. Tapi aku lebih suka cheese steak, kejunya bisa lumer waktu masuk mulut. Aku biasanya pergi ke restoran Korea untuk makan steak seperti itu. Rasanya sungguh nikmat. Kapan-kapan aku akan mengajakmu kesana." Ucap Mike yang sekali lagi hanya mendapat anggukan dari Via.
"Mike, kamu sudah selesai? Kita harus ikut ayah pergi ke suatu tempat. Via, besok kita ketemu lagi ya? Maaf kami harus segera pergi. Besok kamu bisa ngobrol lagi dengan Mike sepuas kalian." Ucap Bu Sheryl.
Via hanya tersenyum mengetahui bahwa keluarga pak Daniel akan segera pergi.
Mengetahui tak ada yang bisa ia lakukan lagi, ia memutuskan untuk pergi berjalan-jalan keliling hotel untuk melihat betapa mewahnya hotel baru milik ayahnya itu.
Via cukup kagum dengan taman yang dimiliki hotel itu. Taman bunga yang sangat indah dan luas, lengkap dengan lampu warna warni yang sesekali berubah warna. Terdapat kolam yang terdapat banyak ikan di dalamnya. Tak jauh dari taman, terdapat beberapa kandang burung yang terdiri dari beberapa jenis burung yang indah dan cantik. Bulunya warna warni serta terlihat sangat anggun.
Pandangannya tiba-tiba tertuju pada sekelompok orang yang sedang duduk di bangku taman. Mereka terlihat sedang menyantap makan malam bersama.
Ekspresi wajah Via tiba-tiba berubah berseri saat ia tau ada sosok Adit disana sedang menyantap makan malam bersama dengan beberapa staf hotel lain. Tanpa berfikir panjang, segera ia menghampiri mereka.
"Hai.. lagi makan malam ya.." sapa Via yang sontak membuat mereka terkejut akan siapa yang menghampiri mereka di tempat seperti itu. Adit sampai tersedak oleh daging ayam yang belum sempat ia telan dengan sempurna.
"Mbak Via kok disini?" Tanya salah seorang staf hotel.
"Emangnya kenapa? Apa tempat ini terlarang buatku?" Jawab Via dan tak ada satupun yang berani menjawab.
"Mbak Via lebih baik masuk saja. Disini dingin mbak, nanti bisa masuk angin.." ucap Adit.
Via memang tengah mengenakan gaun berwarna putih berlengan pendek yang sedikit terbuka di bagian punggung.
Via yang memang sedang rindu kepada Adit, lantas mendekatinya dan hendak duduk di sampingnya.
"Aku lagi nyari temen buat ngobrol. Orang yang aku WhatsApp tak kunjung membalas sih.. jadi gpp ya aku duduk disini. Kalian makan aja gak usah sungkan. Aku sudah sangat kenyang buat minta jatah kalian. Jadi gak usah khawatir.." ucap Via yang membuat beberapa orang staf mencoba menahan tertawanya.
"Wah lagi makan ayam bakar ya? Enak gak?" Ucap Via kepada Adit yang sekarang mereka berdua telah duduk berdampingan dan terlihat cukup berhimpitan.
Adit merasa tidak nyaman kepada staf hotel yang lain jika Via berperilaku demikian kepadanya. Meskipun sebenarnya para staff hotel itu tak tau atas apa yang terjadi kepada mereka berdua.
"Mbak Via malam ini cantik sekali mbak pakai gaun itu.." ucap salah seorang staff perempuan yang juga ikut makan bersama di tempat itu.
"Oh iya? Wah makasih ya mbak.. saya sebenarnya berharap dapat pujian itu dari seseorang, tapi sepertinya dia terlalu malu buat mengungkapkannya.. padahal aku sudah beli gaun ini mahal-mahal lho.."
Adit yang merasa tersindir, semakin tak bisa menelan makanan yang telah masuk kedalam mulutnya.
"Masa sih mbak? Wah gak peka banget ya mbak orang itu.."
"Banget.. cuek banget orangnya. Bayangin ya, kita udah dalam jarak dekat nih, tapi dia gak sedikitpun mau ngobrol sama aku." Ucap Via.
"Uhuukk..uhukk.." Suara tersedak Adit yang cukup keras terdengar.
Via yang melihat itu menjadi tertawa dan memberikan botol air mineral untuk ia minum.
"Mas Adit kenapa mas? Tulang ayamnya ketelen ya? Haha.."
"Wah mas Adit sepertinya grogi nih makan di Deket perempuan secantik mbak Via.. maklum aja mbak, mas Adit sudah lama gk makan deket-deket perempuan cantik.. haha"
Para staf hotel Pun bergantian mengejek Adit hingga ia tak punya nafsu lagi untuk menyantap makanannya.
----------------------
Via mulai agresif nih sepertinya...
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Boss's Daughter
RomanceCerita ini disusun dengan alur yang ringan-ringan saja. Tak ada melow yang berlebihan. Dan endingnya pun bisa ditebak layaknya cerita romance pada umumnya. Selama on going, part diupload random saja selama saya ada waktu ditengah kesibukan silaturah...
