Setelah Via dirasa telah nyaman di ranjangnya, para pelayan hotel segera kembali ke tugasnya semula.
"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" Mike memegang tangan Via yang terlihat masih sedikit pucat dan shock.
"Lebih baik kamu kembali saja ke kamarmu. Biarkan aku istirahat. Setelah istirahat aku pasti akan lebih baik."
Mike mengangguk dan pamit pergi. Sebenarnya Mike masih cukup khawatir meninggalkan Via sendiri, namun Via bersikeras ingin sendiri dan beristirahat.
Beberapa saat setelah Mike pergi, Via masih tak bisa memejamkan matanya. Ia masih terbayang akan kejadian hari ini. Tubuhnya telah nyaman terbalut selimut, namun kedua matanya terlihat kosong.
Via tak sedang mengingat saat ia tenggelam tadi, namun ia mengingat secara keseluruhan kejadian yang terjadi hari ini.
Sebenarnya hari ini ia merasa sangat senang dan bahagia. Ia dapat sejenak melupakan rasa rindunya kepada Adit yang saat ini sedang jauh darinya. Dan ia mulai merasakan kehadiran Mike di dekatnya.
Via merasakan betapa Mike berusaha membuatnya merasa senang dan nyaman saat disampingnya. Mike rela menuruti apapun permintaannya untuk membuatnya bahagia. Dan hari ini Mike ada disampingnya saat ia merasa sangat ketakutan. Via merasa bahwa sedikit lagi mungkin ia akan jatuh hati kepada Mike dengan semua sikap manisnya itu.
Tanpa sadar, senyum Via melengkung saat memikirkannya.
Namun dibalik itu, Via merasa bahwa Mike bukanlah orang yang tepat untuknya. Perasaan itu mulai membuatnya yakin saat melihat Mike yang masih tak bisa hidup dibawah standart hidupnya saat bersama orang tuanya. Semua sifat manjanya, dan kekanakannya yang menurut Via sangat bertolak belakang dengan kepribadiannya.
Dan satu hal lagi. Mike masih tak bisa mengontrol emosinya. Via merasa bahwa ia sangat ketakutan ketika ia berfikir tak akan sanggup mencapai permukaan laut, karena dirinya memang tak begitu mahir berenang. Ia sempat putus asa saat tenaganya habis mengayuh air yang semakin membuatnya terbenam ke dasar. Ia sangat takut hari ini adalah hari terkahirnya hidup di dunia.
Namun, Via lebih takut saat melihat Mike melampiaskan emosinya. Betapa menyeramkan Mike saat sedang marah besar. Betapa egoisnya Mike saat apa yang ia tau menjadi kebenaran mutlak tanpa mau melihat sudut pandang dan kemungkinan lain yang bisa saja terjadi. Betapa lemahnya Mike saat ia tak bisa mengontrol kata-kata kotor dan kasar yang keluar dari mulutnya saat ia sedang melampiaskan amarahnya kepada orang-orang yang belum tentu bersalah.
Via berpikir bahwa, lebih baik ia merasa sangat ketakutan satu kali, dan setelahnya ia bisa tenang meskipun di alam yang berbeda. Dari pada ia harus menyesal hidup bersama orang yang membuatnya tidak tenang seumur hidup.
Tanpa ia sadari air matanya perlahan menetes ke permukaan bantal. Dan Isak tangisnya mulai terdengar dari balik selimut tanpa seorang pun diluar sana yang tau.
Di tempat lain, Mike terlihat mondar mandir di kamarnya. Wajahnya terlihat tidak tenang, dan kedua tangannya terus menggenggam ponsel miliknya.
Nafasnya memburu dan matanya bergerak-gerak seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius.
"Halo! Bagaimana!"
Ucap Mike dengan nada suara tegang saat menjawab panggilan telepon yang masuk.
"Dasar bodoh! Bukankah uang yang kuberikan sudah cukup banyak untuk menutup mulut mereka!"
Tangan Mike sedikit bergetar dan wajahnya mulai berkeringat.
"Ayah dimana sekarang! Bawa dia ke tempat yang aman!"
Mike melempar ponsel nya keatas ranjang setelah mengakhiri panggilannya. Ekspresinya semakin tegang dan tidak tenang. Dinyalakan tv dengan volume yang cukup keras agar suasana di kamarnya tak hening.
Di Palembang,
Hari sudah beranjak senja. Adit beberapa kali mencoba menelepon Via. Namun tak ada jawaban dari kekasihnya itu. Ia coba mengirim pesan, masih dengan hasil yang sama. Wajah Adit terlihat sedikit cemas saat kekasihnya itu seharian tak bisa dihubungi.
"Pak Adit, saya pamit mau pulang dulu. Pak Adit tidak kembali ke hotel?"
"Oh iya saya juga mau balik ke hotel."
Adit meraih jas nya yang tersampir disandaran kursi kemudian lekas keluar ruangan dan kembali ke hotel.
Di Yogyakarta,
Via terbangun dari tidurnya. Dirasakannya suhu ruangan cukup panas hingga tubuhnya berkeringat dan membasahi jubah mandi yang ia pakai serta bantalnya. Diraihnya remote AC yang menggantung di dinding samping ranjangnya. Belum sampai tangannya meraih, tubuh Via terjatuh ke lantai. Wajahnya pucat dan tubuhnya sedikit menggigil.
Via berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dan kembali ke ranjang. Nafasnya terengah-engah serta badannya cukup lemas. Via meraih ponselnya dan mencoba menelepon Mike.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silahkan...
Beberapa kali Via mencoba, hasilnya tetap sama. Ponsel Mike mati.
Via mengenakan jaket dan berusaha keras berjalan keluar menuju ke kamar Mike yang terletak tepat di samping kamarnya. Dipencet bel pintu beberapa kali, namun tak ada jawaban dari dalam. Diketok pula beberapa kali, masih dengan hasil yang sama. Via menengok lorong hotel itu yang tampak sangat sepi. Kemudian ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Waktu telah menunjukan pukul 10 malam. Via yang masih merasa sangat lemah, mencoba meraih kantong plastik Snack yang dibelinya kemarin. Di dalamnya ada beberapa roti yang ia beli. Via tak kuat untuk membeli makan malam diluar hotel. Dan Mike tiba-tiba menghilang begitu saja entah kemana. Akhirnya ia hanya memakan roti sebagai pengganti makan malamnya, sebelum akhirnya ia kembali terlelap saat sudah kembali ke ranjangnya.
***
Gimana nasib via selanjutnya ya....
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Boss's Daughter
RomantikCerita ini disusun dengan alur yang ringan-ringan saja. Tak ada melow yang berlebihan. Dan endingnya pun bisa ditebak layaknya cerita romance pada umumnya. Selama on going, part diupload random saja selama saya ada waktu ditengah kesibukan silaturah...
