"Menurut hasil resume mereka, sepertinya latar belakangnya cukup bagus. Tidak ada pelanggaran-pelanggaran serius yang pernah mereka lakukan. Cukup aman kalau menurut saya."
"Betul. Saya juga tak melihat ada sesuatu yang akan membahayakan akuisisi kita."
"Rencana pengembangan kita juga sepertinya cukup masuk dengan segmentasi pasar yang sudah mereka bangun sebelumnya.."
Pak Andi terlihat mendengarkan satu per satu pendapat para menejernya di tengah rapat.
Semua menejer dan jajarannya terlihat cukup optimis bahwa langkah akuisisi mereka kali ini adalah keputusan yang tepat dan akan menguntungkan bisnis hotel mereka.
"Baik. Kalau begitu segera atur jadwal untuk teken. Saya tidak mau terlalu lama bila kita rasa peluangnya bagus." Ucap Pak Andi.
"Dan sekalian tolong buatkan acara peresmian, serta undang semua orang dari pihak kita dan pihak mereka. Kita jamu mereka makan malam." Lanjutnya.
Rapat pun usai dan semua peserta rapat satu persatu meninggalkan ruang rapat dan beranjak pulang karena hari sudah semakin senja.
***
Diambilnya beberapa snack dari rak. Ada cukup banyak pilihan camilan yang membuat Adit bingung untuk memilih. Namun tetap camilan kripik kentang lah yang wajib harus ada. Setelah puas mengambil beberapa bungkus Snack, ia beranjak ke lemari pendingin untuk mengambil beberapa minuman dingin dan soda. Tak lupa beberapa bungkus es krim juga harus masuk dalam daftar belanjaan nya sore itu.
Setelah semua dirasa cukup, Adit beranjak ke kasir untuk membayar semua makanan dan minuman ringan yang ia ambil.
"Selamat sore, ada kartu membernya?"
Adit hanya menggeleng mendapat pertanyaan itu. Karena ia tak pernah tertarik menjadi member minimarket manapun apapun kelebihan yang ditawarkan.
Segera mas-mas kasir itu menghitung satu per satu belanjaan Adit. Belanjaan Snack yang cukup banyak untuk pria yang tinggal sendiri.
"Saya bayar pakai debit ya." Ucap Adit sembari menyerahkan kartu debit miliknya.
"Oh baik pak. Bisa tunggu sebentar?" Jawab kasir itu sambil mengambil kartu debit yang disodorkan Adit.
Mas-mas kasir itu segera berpindah mesin kasir untuk memproses pembayaran belanjaan melalui kartu debit. Dan digantikan oleh mas-mas kasir lain untuk memproses belanjaan orang lain di belakang Adit.
"Silahkan..." Kasir itu mempersilahkan orang di belakang Adit untuk meletakan keranjang belanjaannya di meja untuk dihitung.
Keranjang belanjaan berwarna merah diletakan di atas meja kasir. Dan pemiliknya maju untuk melihat rincian harga di monitor kasir.
Adit merasakan tubuhnya sedikit di senggol ke samping oleh orang yang belanjaannya akan dihitung tadi. Padahal ia merasa bahwa posisinya sudah cukup menepi agar orang itu bisa maju. Dilihatnya dengan sedikit kesal pelaku pendorongan itu.
"Via?" Ucap Adit saat ia mengenali siapa pelaku pendorongan itu.
Via hanya cuek dan tak menghiraukan panggilan spontan Adit kepadanya. Sepertinya Via sudah tau bahwa ada Adit di dalam minimarket yang sama dengannya.
"Kok bisa ketemu disini?" Tanya Adit yang sekali lagi tak mendapat jawaban dari Via.
"Hm." Jawab Via singkat.
"Kakimu sudah sembuh?"
"Kalau belum sembuh gak mungkin aku bisa jalan kesini." Judes Via.
Adit hanya seidkit memutar bola matanya saat mendapat jawaban cuek dari Via.
Adit melihat isi belanjaan Via yang baru saja dikeluarkan semua oleh kasir dari dalam keranjang. Semuanya adalah belanjaan pribadi wanita. Via yang merasa barang belanjaannya diamati, segera menutupi dengan tangannya.
"Apa lihat-lihat. Gk pernah lihat perempuan belanja?" Ucap Via.
Adit yang merasa terciyduk, lalu sedikit salah tingkah dan menggosok tengkuknya.
"Totalnya 268 ribu rupiah mbak." Ucap kasir.
"Mas, gabungkan ke belanjaan saya saja." Ucap Adit.
Via yang mendengar itu segera membulatkan matanya dan menengok ke arah Adit. Adit yang merasa sedang dilihat, segera memalingkan mukanya dan sok cuek.
"Jangan mas, saya bayar sendiri saja." Ucap Via kepada kasir.
"Sudah, jangan ribut di minimarket." Ucapnya kepada Via.
"Gabungkan saja mas ke belanjaan saya." Lanjutnya kepada kasir.
Mas-mas kasir yang terlihat mulai bingung, segera menuruti permintaan Adit setelah Adit mellihat dengan tatapan memaksa.
"Baik." Ucap kasir itu yang segera memproses belanjaan Via.
"Kamu apa-apaan sih!? Aku bawa uang kok?!" Ucap Via kesal.
Adit diam sejenak sambil memasukan nomor PIN di alat pembayaran kartu debit.
"Iya tau. Gak mungkin kamu ke minimarket gak bawa uang."
Wajah Via terlihat sudah mulai kesal. Dan Adit hanya tenang saja saat semua belanjaan mereka satu persatu dimasukan kedalam kantong plastik.
Via meraih kantong plastik belanjaannya saat semua telah dimasukan sebelum kasir selesai mengucapkan terimakasih telah belanja dan silahkan datang kembali. Disusul Adit dengan dua kantong plastik yang cukup besar.
Adit hanya melihat tingkah via sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala, lalu mengikutinya keluar minimarket dari belakang.
"Kamu naik apa?" Tanya Adit.
Tit.. tit..
Central lock dan alarm berbunyi dari sebuah mobil di sudut parkiran minimarket. Dan Adit lantas terdiam saat merasa pertanyaannya telah terjawab.
"Mbak dompetnya ketinggalan...!" Ucap mas-mas kasir yang terlihat buru-buru keluar dari minimarket.
Via yang merasa hanya dia perempuan satu-satunya di tempat itu menghentikan langkahnya dan terlihat berfikir sejenak. Dompet pink panjang terlihat sedang diangkat tinggi-tinggi oleh pria kasir tadi. Via yang merasa itu memang dompet miliknya segera menghampiri pria itu dengan sedikit berlari. Adit menahan tawanya dan memperhatikan tingkah laku Via yang sedikit salah tingkah.
"Lain kali hati-hati." Ucap Adit saat Via melewatinya.
"Hish.."
Via berjalan cepat melewati Adit dan kembali kedalam mobilnya. Adit menghela nafas sembari tersenyum saat ia melihat mobil Via telah melaju meninggalkan area minimarket.
Dari spion kiri mobil, Via menengok Adit yang masih menyaksikannya pergi menjauh. Senyumnya sedikit melengkung saat ia tengok kantong plastik belanjaan yang ia letakkan di kursi penumpang depan.
***
Halo.. Terimakasih sudah membaca hingga part ini.. Selamat menikmati..
Jangan lupa kriti dan sarannya ya.. vote juga boleh..
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Boss's Daughter
RomanceCerita ini disusun dengan alur yang ringan-ringan saja. Tak ada melow yang berlebihan. Dan endingnya pun bisa ditebak layaknya cerita romance pada umumnya. Selama on going, part diupload random saja selama saya ada waktu ditengah kesibukan silaturah...
