Part 45

2K 80 2
                                        

Hari baru telah dimulai. Via sedang bersiap di kamarnya setelah selesai sarapan di restoran hotel pagi tadi. Ia memilah beberapa pakaian yang cocok untuk aktifitasnya hari ini. Mike menyuruhnya untuk mengenakan pakaian yang membuatnya mudah untuk bergerak namun tetap sopan. Cukup mudah untuk Via, karena ia sudah mempersiapkan pakaian sejenis itu di kopernya.

Tak lama kemudian Mike datang menjemputnya saat Pak Imam telah menghubungi bahwa mobil telah menunggu di pelataran hotel. Mereka berdua pun segera beranjak ke lokasi yang telah direncanakan.

Sepanjang perjalanan, Via terlihat cukup terhibur. Banyak sekali pemandangan indah yang menyita perhatiannya. Kamera ponselnya beberapa kali diarahkan keluar jendela saat ia melihat sesuatu yang menarik untuknya.

Perjalanan mereka menempuh waktu kurang lebih satu jam setengah. Melewati beberapa perkampungan yang masih mempertahankan budaya tradisional mereka. Suasana Jawa sangat kental terasa. Keramahan penduduk lokal membuat siapapun yang berinteraksi dengan mereka akan merasa seperti di rumah sendiri.

Tak lama kemudian, mobil mereka memasuki pelataran sebuah pendopo yang cukup antik. Di dalam pendopo terlihat beberapa orang sedang duduk bersila sembari menikmati kopi dan menghisap rokok di tangannya.

Mike dan Via lekas turun saat tau mereka telah sampai. Seorang pria paruh baya datang menghampiri Mike. Pria itu memperkenalkan diri yang diketahui bernama Broto. Pak Broto adalah seorang adik dari kepala desa disana. Mike dan Pak Broto telah beberapa kali berhubungan melalui telepon. Mereka sudah merencanakan pertemuan ini jauh hari saat Mike mencari beberapa orang responden untuk diwawancarai terkait tesis yang sedang ia kerjakan. Seorang temannya mengenalkannya kepada Pak Broto yang ternyata sanggup untuk membantu penelitian Mike dengan menyediakan responden seperti yang Mike butuhkan.

Mike dan Pak Broto kemudian masuk ke dalam pendopo dan bergabung dengan beberapa orang yang ternyata sedang menunggu kedatangannya. Via mengikuti langkah mereka masuk dengan melepas sepatu kets yang dikenakan terlebih dahulu.

Beberapa orang tua tengah bercakap bergantian menceritakan pengalaman dan kesaksian mereka. Sebelumnya Mike telah meletakan alat perekam suara di depan mereka untuk dokumentasi penelitian nantinya.

Semua orang di dalam pendopo itu terlihat sangat serius memperhatikan cerita dari para kakek yang terlihat penuh dengan pengalaman hidup. Via pun tak berbeda jauh. Perhatiannya tersita sepenuhnya pada cerita kakek itu. Hingga tak terasa waktu telah siang.

Seorang ibu-ibu paruh baya datang menghampiri salah satu kakek-kakek yang tadi sempat bercerita. Ibu itu membisikan sesuatu kepada kakek itu. Seketika ekspresi kakek terlihat senang.

"Rupanya makan siangnya sudah siap. Ayo kita makan dulu setelah itu kakek lanjutkan ceritanya."

Mike sempat menyatakan tak usah repot-repot menjamu mereka, namun kakek itu sedikit memaksa. Akhirnya mereka terpaksa ikut masuk ke dalam rumah kakek itu.

Di ruang tamu yang terasa sangat tradisional, ternyata telah disiapkan sebuah meja yang cukup besar dengan banyak hidangan diatasnya. Semuanya masakan rumahan dan tradisional. Via yang melihat sajian hidangan itu serasa akan mengeluarkan air liur. Tampak sangat lezat dan mengenyangkan. Berbeda dengan Mike. Ia tampak enggan untuk makan saat melihat tampilannya. Mungkin ia berfikir tentang kehigienisan saat proses memasak makanan itu.

Pak Broto segera mempersilahkan mereka untuk menikmati hidangan seadanya dan melarang untuk sungkan.

"Kamu yakin mau makan ini? Kita bisa pamit sekarang dan mencari restoran di kota kalau kamu mau." Bisik Mike kepada Via.

"Why not? Terlihat sangat lezat dan bergizi tinggi. Ini semua makanan organik lho.. lagipula apa kamu tidak sungkan sudah dimasakin makanan sebanyak dan semewah ini." jawab Via juga dengan berbisik.

"Apanya yang mewah? Terlihat cukup kotor seperti itu. Masa kita makan pakai tangan?"

"Yasudah kalau kamu gak mau makan. Biar aku aja. Kamu puasa aja."

Via tampak malas menanggapi tingkah Mike yang tidak sesuai dengan tempatnya itu. "Makanan seperti apa yang ia harapkan di tempat seperti ini? Steak? Spagety? Pizza? Dasar orang kaya dari orok." kesal Via dalam hati.

Istri pak Broto selaku chef dari semua hidangan itu tampak sangat senang melihat Via makan dengan lahap. Beberapa kali ia mengambil lauk yang cukup beraneka ragam itu. Via pun tampak tak jijik makan menggunakan tangan, karena di rumah pun, ia dan orang tuanya juga sering makan menggunakan tangan bila diperlukan. Itu hal yang biasa menurut mereka meskipun papanya adalah orang yang punya banyak harta dan aset.

"Nyonya Mike sepertinya sudah sangat lapar.. maaf karena makanannya baru matang dan adanya cuma ini." ucap istri pak Broto sungkan.

Mike dan Via yang mendengar itu seketika menghentikan suapannya. Via tampak berfikir sejenak dan menatap kearah Mike.

"Hehe.. iya, istri saya memang gemar sekali dengan masakan tradisional seperti ini." Ucap Mike.

Jemari Via terasa gatal ingin mencubit dengan sekuat tenaga pria yang asal menyebut dirinya istri. Namun ia tahan sekuat tenaga agar tak terjadi keributan di suasana yang kekeluargaan dan ramah itu.

Via mengambil beberapa lauk tempe dan dadar jagung, kemudian diletakan diatas piring Mike. Mike menatap Via yang seakan protes dengan pemberian dari Via. Namun Mike tak berani berbuat banyak karena tatapan Via seakan berkata, "makan itu atau kau akan mati!".

Akhirnya Mike terpaksa memakan makanan di piringnya meskipun terasa sulit untuk menelan.

-----------------

Kira-kira mereka berdua cocok gak ya kalau bersatu..

Dear Boss's DaughterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang