Part 33

2.2K 96 0
                                        

Sinar mentari telah membumbung cukup tinggi. Namun perempuan berpiama merah muda itu masih nyenyak dalam balutan selimut dengan warna yang sama.

"Via sudah bangun ma?"

"Sepertinya belum. Kalau sudah bangun dia pasti sudah turun dan ikut sarapan sama kita sekarang."

Pak Andi menghela nafasnya sejenak. Bu Tari melihat raut wajah aneh tersirat pada ekspresi suaminya ditengah aktifitas pagi mereka.

"Ada apa pa, sepertinya sedang menghadapi sesuatu yang cukup rumit?" Tanya Bu Tari.

"Soal putrimu. Papa tak tau apa yang ada di dalam pikirannya."

"Memangnya ada apa pa?" Tanya Bu Tari sembari menyiapkan nasi untuk Pak Andi.

"Kemarin dia jadi perbincangan di kantor. Beberapa staff hotel yang mengenali Via berkata bahwa mereka melihat Via berlarian di hotel dengan terburu-buru dan penampilannya terlihat sangat kacau."

Bu Tari sedikit terkejut dan meminta penjelasan lebih kepada suaminya itu.

"Papa juga tak tau ma apa yang terjadi dengan putri kita. Dia tak pernah berbicara soal ini sebelumnya. Papa pun hanya mengetahui berita itu dari staf yang menyaksikannya. Untung saja mereka berusaha menutupinya dan menyebarkan informasi yang tidak menyangkut putri kita itu." Lanjut pak Andi.

"Yasudah nanti biar mama yang tanya ke Via. Mama juga baru dengar soal ini."

"Gak usah ma, biarkan saja. Tak perlu terlalu di pedulikan. Biarkan dia bicara sendiri nanti. Kita tunggu saja." Ucap Pak Andi sambil mulai memakan makanan yang telah disiapkan oleh istrinya.

Sepasang mata masih betah terpejam saat teriknya matahari telah menerobos masuk melalui celah tirai berwarna putih yang menggantung di jendela kamar. Hari telah beranjak siang, namun putri tidur itu tak kunjung menunjukan tanda akan siuman.

Pintu kamar Via perlahan terbuka. Pak Andi melihat putrinya yang masih terlelap diatas ranjang yang cukup luas untuk satu orang. Pria yang sudah rapi dengan setelan jas itu perlahan memasuki kamar Via agar tak menimbulkan suara gaduh yang berlebihan.

Pak Andi duduk di tepi ranjang Via dan sekali lagi menatap wajah putrinya itu cukup lama. Dibelainya rambut Via dengan lembut sambil perlahan-lahan membangunkannya.

Merasakan ada yang mengganggu tidurnya, Via spontan sedikit bergerak dan menyamankan posisi tidurnya.

"Yang.. aku masih ngantuk.. kamu berangkat aja dulu. " Ucap Via seakan mengigau.

Pak Andi sedikit terkejut mendengar ucapan putrinya yang bahkan belum tersadar dengan sempurna dari tidurnya.

Merasa penasaran dengan maksud igau putrinya itu. Pak Andi memberanikan diri melihat ponsel Via yang tergeletak di samping bantal.

Di lihatnya ponsel itu tak terkunci dan bisa dengan bebas melihat semua isi di dalamnya.

Jemari pak Andi bergerak naik turun untuk mencari sesuatu yang bisa menjawab pertanyaannya saat itu.

Kedua matanya membulat saat ia mengetahui ada satu chat yang mempunyai riwayat percakapan cukup panjang. Dilihatnya nama kontak di bagian paling atas. Dan Pak Andi terkejut saat ia seperti mengenali nama di kontak itu. Dilihatnya di riwayat panggilan, dan nama itu cukup sering muncul dengan durasi panggilan yang cukup lama. Pak Andi diam sejenak untuk berfikir sebelum ia kembali meletakan ponsel milik Via di tempatnya semula dan beranjak pergi.

"Pak.. Pak Andi.. Pak..?" Ucap sekretarisnya saat mencoba menyadarkan pimpinannya itu dari lamunan saat Pak Andi telah berada di meja kerja kantornya.

"Hah, iya ada apa?"

"Ini saya bawakan berkas yang bapak minta tadi." Ucap sekretarisnya sebelum ia meletakan beberapa map di meja Pak Andi.

"Pak Andi seperti kurang sehat hari ini? Bapak mau menunda meeting nanti siang?"

"Ah jangan. Saya baik-baik saja. Kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu."

Sekertaris itu segera berpamitan dan berjalan menuju pintu ruang kerja pak Andi.

Pak Andi terlihat sedang memikirkan sesuatu dikepalanya. Bola matanya bergerak-gerak yang menandakan ia sedang berfikir cukup keras.

"Din, tolong panggilkan menejer marketing." Perintah Pak Andi melalui telepon kepada sekretarisnya yang berada di luar ruangan.

Seberapa saat kemudian, menejer marketing datang memenuhi panggilan orang nomor satu di grup perusahaan hotel itu.

"Pak Andi memanggil saya?" Ucap menejer marketing saat ia baru saja masuk kedalam ruangan Pak Andi.

"Oh iya pak. Silahkan duduk." Pak Andi mempersilahkan menejer itu duduk di sofa tamu bersama dengannya.

"Bagaimana progres rencana kerjasama kita dengan resort itu?" Tanya Pak Andi setelah mereka berdua telah duduk di sofa.

"Semua berjalan dengan baik pak. Meskipun kemarin kita sempat terlambat presentasi. Tapi mereka tak mempermasalahkan hal itu. Beruntung bagi kita."

"Mm.. syukurlah. Apa tim bapak bekerja dengan baik?"

"Tentu pak Andi. Mereka orang-orang terbaik yang pernah saya temui. Saya berterimakasih kepada bapak karena telah merekrut mereka menjadi tim saya."

"Bagaimana kinerja pak Adit sejauh yang bapak ketahui." Tanya Pak Andi.

"Pak Adit merupakan orang kepercayaan saya di tim ini pak. Dia seorang yang multitalenta. Banyak tugas yang saya delegasikan kepadanya berjalan dengan baik."

"Oh begitu. Syukurlah kalau kinerjanya memang baik menurut bapak. Terimakasih atas kerja kerasnya. Saya tunggu kabar baik dari bapak dan tim secepatnya." Ucap Pak Andi sebelum menyuruh menejer marketing itu kembali ke tampatnya.

Pak Andi kembali terlihat berfikir saat ia telah kembali sendiri di ruangan yang cukup luas dan megah itu.

"Din kamu bisa kesini sebentar." Ucap Pak Andi kepada sekretarisnya melalui telepon.

Tak lama, sekertaris itu telah tiba di hadapan Pak Andi.

"Kamu tolong urus sesuatu untuk saya."

Sekertaris itu tampak sedikit terkejut mendengar perintah pak Andi yang tak biasa itu, namun ia merasa masih sanggup melaksanakannya. Setelah merasa paham. Sekertaris muda itu segera pergi dan melaksanakan apa yang menjadi tugas rahasianya itu.

---------------------

Beliau merencanakan apa ya kira-kira..

Dear Boss's DaughterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang