Beberapa foto yang terpajang di bingkai duduk terlihat rapi berjajar di atas meja kayu bertaplak rumbai berwarna putih. Di salah satu bingkai, terlihat foto Via saat ia masih berusia sekitar 4 tahun yang sedang dipangku oleh mamanya di sebuah taman bermain. Di bingkai lainnya, juga ada foto Via yang kali ini sedang memakan es krim dengan mulutnya yang belepotan. Dan banyak lagi foto-foto Via yang masih kecil berkumpul di meja kotak dengan tiga laci itu.
Wajahnya yang imut dan cantik saat masih kecil, seakan tak banyak berubah saat ia sudah dewasa. Putri kecil papanya yang kini sudah dewasa itu masih tampak damai berada dalam balutan selimut tebal dan lembut diatas ranjang. Tak ada gerakan sedikitpun dari tubuh perempuan yang rambutnya sedang terurai di permukaan bantal yang empuk.
Bu Tari masuk kedalam kamar Via setelah beberapa kali ketokan pintu tak kunjung membangunkan perempuan berpiayama merah muda itu.
"Via.. ini sudah hampir siang sayang.. Ayo bangun nanti kamu ketinggalan pesawat.."
Ucapan Bu Tari sama sekali tak menggerakan tubuh Via yang cukup ideal untuk ukuran perempuan seusianya itu. Merasa jengkel dengan tingkah putrinya, Bu Tari mencubit perut Via dari balik selimutnya. Sontak Via yang sebenarnya sudah terbangun saat mamanya masuk kedalam kamarnya itu menggeliat hebat diatas ranjang. Teriakannya sampai terdengar oleh papanya yang sedang sarapan di ruang makan.
"Kamu ini kalau dibilangi susah amat sih! Masih nggak mau bangun?! Biar mama siram pake air dingin."
Via yang mendengar ancaman mamanya lekas bangkit dari ranjangnya dan menahan tangan mamanya yang akan berjalan menuju kamar mandi. Melihat Via sudah bangun, Bu Tari lekas menariknya ke kamar mandi. Via yang sebenarnya masih malas untuk mandi, mencoba sedikit menahan tarikan mamanya yang cukup kuat. Sehingga selimut dan guling yang masih menyangkut di tubuhnya ikut terseret dan bercecer di lantai kamarnya.
"Via sudah bangun ma?" Tanya Pak Andi yang melihat Bu Tari tiba di ruang makan.
"Huh, anak kamu itu susah sekali dibangunkan kalau sudah nyenyak. Kalau telat ke bandara kan kasian Nak Mike harus beli tiket pesawat lagi."
Pak Andi tak berkomentar. Pria itu tetap mengunyah makanannya dengan tenang seakan tak terjadi apapun di pagi mereka yang tenang.
Beberapa jam kemudian, Mike datang dengan menggunakan taksi untuk menjemput Via. Bu Tari menyambut pria tampan itu dengan senang hati serta menyuruhnya untuk menunggu di ruang tamu.
"Heh, Mike sudah datang. Ayo cepet turun. Kamu sudah siap kan?" Tanya Bu Tari saat ia menghanpiri Via di kamarnya.
Wajah Via tampak malas dan tak bersemangat saat ia dan mamanya turun menapaki tangga.
Mike berdiri dengan ekspresi bersemangat saat melihat Via telah keluar dan siap dengan kopernya.
"Yasudah kalian lekas berangkat. Nanti ketinggalan pesawat."
Via menatap mamanya untuk terakhir kali dengan ekspresi memohon tetap tinggal. Namun Bu Tari membalas dengan decakan di bibir dan sedikit mendorong tubuh perempuan yang sudah tampil cantik itu keluar rumah.
Mobil taksi yang membawa Mike dan Via telah tiba di pelataran bandara Abdurahman Saleh Malang. Mereka berdua segera turun dan mengambil koper mereka di bagasi taksi. Mike menawarkan untuk membawakan koper miliki Via. Tanpa ragu Via menyerahkan kopernya itu kemudian berjalan meninggalkan Mike dengan dua koper di tangannya. Mike yang merasa di manfaatkan, hanya tersenyum lalu berjalan mengikuti Via masuk ke dalam bandara.
Beberapa menit kemudian, penerbangan mereka dimulai. Mike memandang Via yang tengah duduk di samping jendela pesawat. Wajahnya terlihat ditekuk mulai dari rumah tadi dan tak sedikitpun menunjukan keceriaan. Sekali lagi Mike hanya tersenyum mengetahui kondisi perempuan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Boss's Daughter
RomanceCerita ini disusun dengan alur yang ringan-ringan saja. Tak ada melow yang berlebihan. Dan endingnya pun bisa ditebak layaknya cerita romance pada umumnya. Selama on going, part diupload random saja selama saya ada waktu ditengah kesibukan silaturah...
