"Sudah ayo aku antar. Disini dingin. Kamu bisa masuk angin nanti."
Adit meraih tas milik Via yang tergeletak di sebelahnya, kemudian membawanya menuju parkiran mobilnya.
"Eh, maliing!!!"
Adit yang mendengar itu segera menengok dengan ekspresi kesal.
"Heh! Yang bener dong kalau ngomong!"
"Kalau bukan maling, ngapain kamu ambil tasku!"
"Kamu mau disini semalaman dengan kondisi seperti itu? Kalau ada pemerkosa lewat apa kamu pasrah?"
"Heh enak aja kalau ngomong!"
"Makanya ayo. Aku gak bakalan ngapa2in kamu. Aku cuman mau nganter kamu pulang agar orang tuamu gak khawatir. Ponselmu mati kan."
Via sedikit terkejut mendengar ucapan Adit.
"Dari mana kamu tau ponselku mati?"
"Kalau ponselmu masih nyala, kamu harusnya sudah minta jemput, atau paling gak pesan ojek online atau taksi."
Via kembali terkejut karena alasan Adit yang seribu persen benar. Via semakin bingung jika dilihat dari ekspresinya. Sebenarnya ia ingin segera pulang, namun ia masih enggan menerima tawaran Adit karena mereka baru saja bertemu dan tak saling mengenal satu sama lain.
"Kamu bisa jalan gak? Kalau gak, sini biar ku gendong."
"Eh, gak usah. Aku bisa jalan sendiri." Via segera berdiri dari tempat duduknya. Terlihat ia cukup kesulitan berdiri karena nyeri di kakinya masih cukup terasa.
Akhirnya Via mencoba berjalan perlahan-lahan menuju mobil Adit.
"Eh, gak usah pegang-pegang ya." Ucap Via saat Adit mencoba membantu Via turun dari undakan halte yang cukup tinggi dari tanah.
Mendengar itu Adit merasa semakin kesal.
Malam semakin larut. Jalanan terasa cukup sepi. Sudah jarang sekali ada lalu lalang kendaraan di jam ini. Adit mengarahkan mobilnya masuk ke dalam gerbang sebuah perumahan mewah yang lokasinya cukup jauh dari halte tempat mereka bertemu tadi.
"Rumahmu cukup jauh dari halte tadi. Sejauh ini kamu mau jalan kaki?" Ucap Adit.
"Udah diem. Itu rumahku di depan."
Adit menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Via. Dan mereka pun turun.
"Sudah sampe sini aja. Makasih udah dianter. Sekarang kamu bisa pulang." Ucap Via masih dengan nada judes nya.
"Kamu tinggal sendiri dirumah sebesar ini? Pasti ada orang dong di dalam? Biar aku panggil keluarga kamu untuk membantumu masuk. Sepertinya undakan rumahmu cukup tinggi dan banyak."
"Nggak usah, aku bisa sendiri. Udah sebaiknya kamu pulang. Aku sudah di rumah jadi gak usah khawatir."
"Kamu ngomong apa sih." Ucap Adit sembari melangkahkan kakinya mendekati pagar rumah Via.
"Eh, jangan dipencet!!" Teriak Via tertahan.
Ting tong.. Ting tong..
Adit memencet bel yang berada di luar pagar rumah Via. Ia tak menghiraukan larangan Via. Karena ia tau Via akan sangat kesulitan untuk mendaki undakan teras seorang diri.
Via yang mengetahui itu, wajahnya seketika sedikit memucat. Ia tak bisa bayangkan bagaimana orang tuanya akan berkomentar melihat kondisinya saat itu.
"Siapa...?" Teriak seseorang wanita dari pintu depan rumah yang baru saja terbuka.
Adit yang mendengar itu segera mencari tau dari mana sumber suara. Ia menengok kearah dalam pagar rumah. Via yang sudah sangat mengenal suara itu, enggan untuk menengok.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Boss's Daughter
RomansaCerita ini disusun dengan alur yang ringan-ringan saja. Tak ada melow yang berlebihan. Dan endingnya pun bisa ditebak layaknya cerita romance pada umumnya. Selama on going, part diupload random saja selama saya ada waktu ditengah kesibukan silaturah...
