Part 41

2.1K 86 1
                                        

"Adit sudah selesai berkemas?"

"Belum Tan. Aku masih bantuin masukin jas sama kemejanya ke koper. Nanti aku tata lagi biar makanan ini cukup di kopernya."

Bibi Maya tersenyum mendengar ucapan Via. Tangannya memegang pundak gadis berbusana casual santai itu.

"Kamu udah seperti istrinya aja.. bawaan dia sampai kamu sendiri yang siapin.."

Via tersenyum senang mendengar ucapan Bibi Maya.

"Ah Tante bisa aja.. aku cuma membantu kok tan. Lagian bawaannya cukup banyak karena dia disana juga cukup lama."

Bibi Maya hanya tersenyum dan mempersilahkan Via melanjutkan apa yang dikerjakannya tadi.

Sesaat kemudian Adit telah selesai membersihkan badannya dan beranjak menuju lemari pakaian.

"kemejaku mana yang tadi kutaruh disini?" Ucap Adit yang masih bertelanjang dada.

"Tuh ku sampirkan diatas sandaran kursi. Barusan selesai kusetrika biar gak kusut gitu."

"Wah baik banget gadis satu ini.. makasih ya sayang.."

Adit melangkah mendekati Via yang duduk diatas ranjang sembari menata isi koper Adit. Dicubitnya kedua pipi Via yang cukup menggemaskan itu, dan membuat rambut panjang kecoklatan yang jatuh terurai itu bergoyang-goyang.

Via sedikit mengaduh namun terlihat menikmati perlakuan gemas kekasihnya itu.

"Hey..!? Kalian ngapain?!"

Adit dan Via lekas menghentikan kegiatan romantis mereka saat Bibi Maya tiba-tiba masuk kedalam kamar Adit karena pintunya dibiarkan terbuka.

"Bibi kok sudah disini?? Kapan datang Bi??"

Adit terkejut saat mendapati Bibinya masuk tiba-tiba sambil membawa beberapa kotak yang berisi makanan.

"Kamu kok gak pake baju gitu di depan Via?! Cepat pakai bajumu?!"

Adit yang terlanjur salah tingkah lekas meraih pakaian yang tersampir diatas sandaran kursi dan memakainya. Via menahan tertawanya sambil melanjutkan kegiatannya.

"Kalian jangan macem-macem ya kalau sedang berdua di rumah?! Kalian belum menikah?!"

"Nggak kok Bi.. aku cuma becanda aja sama Via.."

Bibi Maya terlihat sedikit kesal sambil melangkah masuk ke kamar Adit dan kemudian memberikan kotak makan yang dibawanya kedapa Via untuk dimasukan kedalam koper.

Beberapa jam kemudian Adit telah siap untuk berangkat. Via menyuruh Adit untuk mengecek kembali berkas penerbangan yang harus dibawa Adit agar tak ada yang tertinggal. Siang itu Adit dan stafnya Shinta terbang terpisah dengan rombongannya yang sudah berangkat terlebih dahulu tadi pagi karena keterbatasan tiket yang tersisa di penerbangan yang sama.

Setelah memastikan semuanya lengkap di dalam tas kecil yang ia bawa, Adit lekas berpamitan dengan Bibi Maya untuk berangkat diantar oleh Via menuju ke bandara Juanda di Kota Surabaya.

Mobil Adit melesat mulus di jalan tol Pandaan - Surabaya yang saat itu tak cukup padat. Dengan kondisi lalu lintas yang demikian,, Adit memperkirakan ia akan tiba di bandara sesuai dengan rencana.

Satu jam kemudian, mobil mereka telah memasuki area parkir terminal keberangkatan domestik. Siang yang cerah dan terik namun normal untuk ukuran Surabaya. Tentu saja berita baik untuk semua pilot yang bertugas di bandara itu.

Via mengikuti Adit yang berjalan dengan menyeret kopernya menuju ke gerbang keberangkatan domestik. Tangannya tak lepas menggenggam lengan Adit sejak tadi. Kakinya berusaha melangkah lebih cepat untuk menyesuaikan dengan langkah Adit yang sedikit terburu-buru.

"Pak Adit..!" Panggil seseorang dari kejauhan.

Adit dan Via menengok dan melihat Shinta telah ada di depan gerbang, sedang berjalan menuju ke arah mereka.

"Gak usah buru buru pak. Kita kena delay 1 jam."

Adit dan Via terlihat menghela nafas panjang setelah mendengar informasi itu.

"Selamat siang Bu Via.." Sapa Shinta dengan sedikit menunduk.

Via tersenyum dan menjawab sapa dari Shinta.

"Kamu sudah lama nunggu disini?" Tanya Via.

"Sudah satu jam yang lalu Bu. Tadi sudah antri sih, tapi saya keluar aja, sekalian bareng sama Pak Adit check-in nya pas tau penerbangan kita delay 1 jam."

"Yasudah kamu masuk duluan. Saya menyusul. Takut jadwal boardingnya gk ikut mundur hehe.."

Shinta yang mengerti maksud Adit lekas menyeret kopernya masuk ke antrian calon penumpang untuk di cek kelengkapan dokumen penerbangan oleh petugas penjaga gerbang.

Adit membalikan badannya menghadap Via, dan melihat perempuan itu sudah berada dalam mode melow nya.

"Aku berangkat ya.."

Via tak menjawab dan lekas mendekap tubuh Adit erat-erat. Wajahnya terbenam ke dada Adit. Dan isakan tangisnya mulai terdengar lirih.

"Aku merasa seperti akan tinggal di Palembang selama bertahun-tahun deh kalau kamu seperti ini."

Cubitan Via lekas mencengkram perut Adit dan membuat pria itu sedikit menggeliat karena terkejut.

Perlahan Adit melepaskan pelukan Via untuk mengajaknya berbicara. Wajah Via sudah terlihat sedikit sembab dan beberapa kali tangannya menghela air mata yang akan menetes ke pipinya.

"Sempatkan menghubungiku saat waktu senggang mu. Jangan bosan meneleponku sebelum tidur. Aku tak tau jadwalmu disana, jadi kamu yang harus menghubungiku terlebih dahulu. Jangan buatku menunggu." Ucap via.

Adit hanya mengangguk sembari tersenyum dan membantu Via mengusap pipinya yang sedikit basah.

"Jangan hanya mengangguk! Janji!"

"Iya aku janji sesuai yang kamu suruh."

Via sedikit tenang saat mendengar ucapan Adit.

Shinta yang sedang berada di dalam antrian, terus mengamati interaksi Adit dan Via yang menurutnya sangat romantis itu. Beberapa calon penumpang yang lain pun juga ikut melihat salah satu scene drama Korea Adit dan Via itu.

"Kamu jaga diri ya selama aku pergi. Jangan nakal. Dan nurut sama papamu. Aku tidak pergi lama, tapi pasti cukup lama untuk menahan rindu kepadamu."Ucap Adit.

"Sampai sana lekas hubungi aku. Hati-hati di jalan. Ingat pesan bibi Maya tadi. Jaga kesehatan. Jangan telat sholat." Ucap Via.

Adit kembali tersenyum dan mengusap kedua lengan Via dengan kedua tangannya.

----------------------

Cengeng banget ya Via, ditinggal 2 Minggu aja...

Dear Boss's DaughterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang