Tak terasa hari telah gelap diruangan itu. Via terjaga dan melihat Adit masih pulas tertidur sambil tetap mendekap tubuhnya. Dipandangnya wajah pria yang dicintainya itu. Terlihat masih sedikit pucat. Dilepaskannya pelukan Adit di leher dan pinggangnya perlahan-lahan. Ia tak mau membangunkan tidur nyenyak kekasihnya itu.
Dengan sangat berhati-hati, Via bangkit dari ranjang Adit. Digulungnya lengan kemeja milik Adit yang sedang ia kenakan setelah menyalakan lampu kamar. Terlihat cukup besar di tubuhnya, namun karena jenis kainnya, ia merasa cukup nyaman memakainya. Digantikannya posisinya di dada Adit dengan sebuah guling. Kemudian menutup tubuh Adit dengan selimut sebelum ia beranjak keluar dari kamar.
Waktu telah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Adit terlihat telah terjaga dari tidurnya dan melangkah keluar kamarnya. Dirasakan badannya masih cukup lelah dan kepalanya sedikit pusing. Efek dari perutnya yang belum kemasukan nasi seharian.
Dilihatnya Via tengah menyiapkan makan malam di dapur. Via tersenyum saat melihat Adit melangkah mendekatinya. Adit memeluk tubuh Via dari belakang, dan beberapa kali mengecup kepalanya dengan lembut. Via hanya tersenyum diperlakukan demikian. Dan tetap melanjutkan kesibukannya menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
"Lepas dulu yang, aku mau angkat penggorengan. Nanti tumpah minyaknya.."
Mendengar itu Adit segera melepaskan pelukannya dan berjalan menuju kursi meja makan untuk melahap beberapa camilan yang tersedia disana demi mengganjal perut kosongnya.
Beberapa saat kemudian makanan telah tersaji di atas meja dan siap untuk disantap. Adit yang memang sudah sangat kelaparan segera melahap nasi di piringnya. Via yang melihat itu hanya tersenyum dan menyuruh Adit untuk makan perlahan.
"Kamu udah baikan?" Ucap Adit yang telah nyaman memeluk tubuh Via sembari mereka berdua menonton televisi di ruang tengah.
Via hanya mengangguk sambil matanya tetap menyaksikan acara di televisi.
"Yang.." ucap Via sambil memainkan jemari Adit yang kedua lengannya melingkar di perut Via.
"Aku ingin ngenalin kamu ke orang tuaku."
"Ngapain.. kan kita sudah saling mengenal. Bagaimana bisa papamu tidak mengenali pegawainya sendiri." Ucap Adit.
"Bukan itu maksudku. Aku ingin ngenalin kamu ke mereka sebagai calon suamiku." Ucap Via yang membuat Adit sedikit terkejut.
"Setelah itu aku ingin ketemu sama orang tuamu di Banyuwangi." Lanjut Via.
Tak ada jawaban dari Adit. Ia masih melihat kearah televisi dengan tatapan kosong.
Via yang merasa tak ada respon dari Adit, menggoyang-goyangkan tubuhnya untuk menyadarkan Adit dari lamunannya.
"Yang.. kamu denger aku ngomong kan?"
"Iya denger kok.."
Via mencoba sedikit mendongak untuk melihat wajah Adit.
"Kamu ada rencana untuk menikahiku kan? Kita sudah terlalu dewasa untuk seperti ini terus.."
"Menikah itu tidak mudah sayang.. banyak yang harus dipikirkan.." ucap Adit yang membuat Via berfikir.
"Iya sih, aku tau. Tapi gak masalah kan kalau direncanakan dulu.." Ucap Via dengan ekspresi sedikit memelas.
"Kamu serius gak sih sama aku..?"
Adit yang merasa pembicaraan mereka semakin serius, segera mematikan televisi dan membetulkan posisi duduknya.
"Via, aku serius sama kamu. Aku benar-benar menyukaimu."
Via memperhatikan Adit bicara dengan seksama.
"Sebelum kamu memutuskan untuk menjadi istriku, kamu harus melihat apakah aku benar-benar pantas untuk menjadi imam mu kelak."
"Maksudnya.." tanya Via.
"Kamu tau kan aku ini dari kalangan orang biasa.. orang tuaku hanya PNS. Bibi dan pamanku hanya pensiunan PNS biasa. Aku sendiri hanya bekerja sebagai wakil menejer sekaligus sekertaris. Penghasilanku juga tak seberapa.."
"Aku tau kok."
"Kamu yakin orang tuamu akan menerimaku dengan status sosialku dan keluargaku yang seperti ini?" Tanya Adit.
"Mama mungkin akan sedikit cerewet, tapi papa pasti akan mengerti. Kamu hanya belum mengenal orang tuaku. Sebaiknya kamu bertemu dulu dengan mereka agar bisa menilai secara langsung.."
"Sayang.." ucap Adit.
"Yaang.. pliiss.. jangan gunakan status sosial sebagai alasan.. kumohon.." pinta Via.
"Aku akan berusaha agar orang tuaku mau menerimamu apa adanya.. percaya deh sama aku.." imbuh Via.
"Yasudah terserah kamu. Tapi untuk sementara biarkan seperti ini dulu. Biarkan aku berfikir terlebih dahulu." Ucap Adit.
"Sampai kapan?"
"Aku akan memberitahumu begitu waktunya tiba. Bersabarlah sebentar."
"Yasudah kalau begitu. Tapi kumohon, jangan pernah menghindar lagi dariku. Aku benar-benar sudah tak bisa lepas dari kamu.. kamu tau kan apa yang sudah kuberikan padamu.. dan aku sudah tak mungkin bisa mengambilnya lagi darimu.."
Mendengar itu Adit tersenyum sembari mengusap lembut kepala Via.
"Iya aku mengerti. Kamu akan kujaga dengan semua yang aku miliki. Percayalah.."
Via sangat bahagia mendengar kata-kata itu dari Adit. Senyumnya melebar dan wajahnya merona.
"Sekarang sudah malam. Kamu sebaiknya pulang. Orang tuamu pasti kahwatir setelah apa yang terjadi hari ini di hotel."
"Nggak mau.. aku pasti bakal dimarahi habis-habisan ketika sampai rumah.." Ucap Via.
"Terus maumu apa?"
"Aku mau nginap disini.."
"Kamu ingin aku besok dipecat?"
Via kembali memanyunkan bibirnya yang kemerahan. Tak berfikir terlalu lama, Adit segera mengecup bibir kemerahan itu dengan cepat agar kembali ke bentuknya semula. Via yang merasa sedikit terkejut atas kelakuan Adit itu menamparnya lembut sambil senyumnya tak henti terlukis di wajah cantik tanpa makeupnya itu.
Ditariknya tubuh perempuan berkemeja pria itu dan sedikit mendorongnya hingga Via jatuh terlentang di bantalan sofa yang empuk. Via tertawa dan mencoba untuk bangkit, namun ia tak kuasa menahan kekuatan Adit yang telah menahannya agar tak bergerak.
"Kamu mau tau diriku yang sebenarnya kan?" Ucap Adit sambil mengerlingkan satu matanya.
"Oh ya?" Jawab Via sambil menahan tawanya.
"Kamu harus tau kalau aku adalah seorang penggelitik perut yang hebat."
"Hah..??"
Belum sempat Via berucap, tubuhnya sudah menggelinjang hebat diatas sofa setelah kedua tangan Adit menyerang perutnya dengan gelitikan super miliknya. Dengan sekuat tenaga Via menahan tertawanya yang meledak-ledak akibat ulat Adit. Adit tak sedikitpun mengehentikan jemarinya di perut Via meskipun Via sudah menyerah dan memohon ampun kepadanya.
***
Dilangkahkannya dengan sangat hati-hati kedua kakinya yang sudah tanpa alas kaki di dalam rumah berlantai marmer itu. Ia berharap tak ada seorang pun yang mengetahui kepulangan dirinya di tengah suasana rumah yang sudah gelap gulita. Dilihatnya sekitar untuk meyakinkan tak ada orang lain disana..
Tiba-tiba lampu menyala dan mengagetkan Via setengah mati.
"Kamu ngapain jalan kayak maling gitu..??"
"Eh mama.. mama kok belum tidur.. hehe"
"Tingkahmu semakin dewasa semakin aneh saja. Sudah sana cepat mandi terus tidur. Jangan main ponsel terus jika sudah waktunya istirahat. Awas ya kalau ketahuan." Ucap Bu Tari.
Via yang merasa cara mengendapnya sia-sia, lekas berjalan seperti biasa menuju ke kamarnya. Bu Tari melihat tingkah putri semata wayangnya itu sambil geleng-geleng kepala dan lekas kembali ke kamarnya.
***
Hari ini happy ending buat Adit dan Via.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Boss's Daughter
RomanceCerita ini disusun dengan alur yang ringan-ringan saja. Tak ada melow yang berlebihan. Dan endingnya pun bisa ditebak layaknya cerita romance pada umumnya. Selama on going, part diupload random saja selama saya ada waktu ditengah kesibukan silaturah...
