Tumpukan map dan berkas berjajar di beberapa meja yang disatukan agar lebih luas dan dapat menampung banyak barang diatasnya. 8 orang disekitarnya terlihat sibuk memilah dan mengecek tumpukan berkas itu sejak beberapa jam lalu. Dan beberapa orang lain mondar mandir di sekitarnya untuk menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan kepadanya.
"200 orang. Cukup gak nih?"
"Cukup. Kita pakai kamar cadangan. Kalau masih gak cukup kita lempar ke hotel lain."
"Gila bener.. orang sebanyak ini kenapa dikasih ke kita semua.. bukannya mereka punya beberapa sponsor hotel lain.. lagi pula masih ada wisma atlet yang siap ditempati disana.."
"Bersyukurlah kita dapet klien dari event sebesar ini.. jarang-jarang kan.."
"Iya sih. Tapi apa tim marketing Palembang nggak sanggup handel ginian? Kenapa harus minta bantuan ke pusat? Apa mereka gak paham kita juga super sibuk?"
"Lu liat dong berapa tamu yg harus mereka urus? Lu pikir mereka robot? Pantes aja mereka minta bantuan kita.."
Perdebatan sengit itu berlangsung seakan tak ada akhirnya. Mereka saling beradu argumen sembari tetap mengecek tumpukan berkas yang menggunung itu.
Adit pun tak kalah sibuk. Ia masih bergulat dengan layar laptopnya dan sesekali menelepon atau menerima telpon dari beberapa panggilan.
Minggu-minggu ini merupakan Minggu yang cukup sibuk. Perusahaan perhotelan mereka telah memenangkan tender untuk menjadi sponsorship resmi perhelatan event olah raga terbesar di Asia tahun ini bersama beberapa brand hotel terkenal lain.
Sebenarnya yang bertanggung jawab penuh adalah Alam Hotel cabang Palembang dan Jakarta. Namun karena mereka mengaku kualahan, jadi kantor pusat yang memang berada di Malang harus turun tangan membantu. Jadilah Adit dan rekan yang lain ikut sibuk membantu.
"Pak Adit dipanggil Pak menejer."
Adit segera meninggalkan apa yang sedang dikerjakannya untuk meladeni panggilan itu.
"Iya pak, bapak memanggil saya?" Ucap Adit saat telah masuk ke ruangan menejer.
"Pak Adit lusa berangkat ke Palembang. Bawa beberapa orang yang kompeten untuk membantu tim marketing disana. Dan siapkan segala hal yang diperlukan untuk keberangkatan bapak dan tim kesana."
"Baik pak."
Dalam benaknya ia merasa tak beruntung. Sudah dapat ia bayangkan akan sesibuk apa saat ia sudah berada di sana. Ingin hati tetap tinggal dan memberikan tanggung jawab itu ke orang lain, namun mungkin akan sangat sulit karena dirinya adalah orang kepercayaan sang menejer.
Hari telah beranjak sore. Adit yang telah selesai berkemas, lekas beranjak meninggalkan ruangan kerjanya untuk pulang setelah berpamitan dengan beberapa orang rekannya yang memilih tinggal lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Adit berjalan santai menuju ke lift. Terlihat dari kejauhan, di depan pintu lift bergerombol beberapa orang yang menunggu. Adit pun bergabung dengan gerombolan staff yang lain untuk menunggu pintu lift terbuka.
Tiba-tiba gerombolan itu terbelah saat seseorang baru saja bergabung dan berdiri di belakang mereka. Adit yang baru menyadari itu lekas menengok ke belakang, dan dilihatnya pak Andi sudah berdiri tepat di sampingnya.
"Selamat sore pak.." sapa Adit.
Pak Andi hanya tersenyum kepadanya dan kembali diam menunggu pintu lift terbuka.
"Bagaimana persiapannya." Ucap Pak Andi kepada Adit.
"Berjalan dengan baik pak. Besok lusa saya dan tim akan beranjak ke Palembang untuk membantu." Jawab Adit yang sudah tau maksud pertanyaan pak Andi.
"Bagus. Usahakan berjalan dengan lancar. Buktikan dirimu." Ucap Pak Andi yang lekas berjalan masuk ke dalam lift saat pintu lift telah terbuka.
Tak ada staff lain yang ikut masuk ke dalam lift. Hanya ada pak Andi, 3 orang menejer dan Mike yang mendampinginya masuk. Pak Andi berdiri tegap menghadap keluar pintu lift hingga pintu besi itu tertutup perlahan dan bergerak turun ke lantai basement.
Adit menghembuskan nafas beratnya. Di matanya terpancar semangat untuk bekerja lebih keras demi kepercayaan yang diberikan oleh pimpinannya tersebut.
Saat pintu lift terbuka, para staf segera berhamburan keluar lift dan menuju kendaraannya masing-masing saat mereka telah tiba di basement.
Beberapa mobil beriringan keluar area parkir yang cukup penuh itu. Diantara mereka terdapat mobil Adit yang juga melakukan hal yang sama. Satpam hotel dengan peluit dan lampu lalin di tangannya perlahan membuka celah bagi barisan mobil yang mengantri di pelataran hotel untuk masuk ke padatnya lalu lintas jalan raya.
Hari telah berangsur malam. Gedung apartemen tempat tinggal Adit telah sepi dan hampir semua jendelanya telah gelap. Saat dimana semua pekerja keras mulai terlelap untuk beristirahat sebelum kembali beraktifitas esok hari. Namun jendela kamar apartemen Adit terlihat masih menyala. Pria yang telah berpiyama itu masih betah duduk di meja belajar mengerjakan pekerjaan yang belum juga tuntas. Hingga akhirnya semangatnya takluk oleh kedua matanya yang telah berat untuk ditahannya lebih lama.
***
Matahari telah muncul dan memancarkan cahaya terangnya. Adit yang telah siap dengan setelan jasnya segera beranjak keluar dan menuju ke basement apartemen untuk berangkat menuju hotel. Disapanya beberapa tetangga yang ia kenal saat berpapasan dengan mereka. Salam sapa dari satpam apartemen juga tak ketinggalan saat mobil Adit melewati gerbang keamanan apartemen di pintu keluar parkiran basement.
Saat di tengah perjalanan, beberapa kali Adit menerima telepon yang ia jawab melalui headset wireless yang menyumbat telinga kirinya, sembari pandangannya tetap fokus pada jalanan yang cukup padat di pagi itu.
Tumpukan berkas kembali menyapanya saat ia telah tiba di meja kerjanya. Salam sapa dari beberapa rekan kerjanya ia sempatkan untuk membalas walau hanya dengan senyum serta anggukan atau telapak tangannya yang diangkat saat posisinya cukup jauh.
Dan aktifitas Adit pun dimulai sama seperti hari-hari sebelumnya.
----------------
Semangat Adit..!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Boss's Daughter
RomanceCerita ini disusun dengan alur yang ringan-ringan saja. Tak ada melow yang berlebihan. Dan endingnya pun bisa ditebak layaknya cerita romance pada umumnya. Selama on going, part diupload random saja selama saya ada waktu ditengah kesibukan silaturah...
