Part 59

2.5K 88 1
                                        

Pagi hari di Kota Malang adalah salah satu pagi yang cukup dingin dari sekian banyak kota-kota di dataran tinggi lain. Banyak penduduknya yang cukup sulit menyentuh air di pagi hari bila saja tak ada aktifitas yang mengharuskannya bangkit.

"Papa bangun.. subuhnya mau habis nih.."

Pak Andi mengejapkan mata beberapa kali sembari mencoba bengkit di pagi yang cukup dingin itu.

"Ma, siapin air hangat buat papa mandi ya.. tulang papa ngilu kena air dingin.."

"Ya gimana lagi pa, tulang orang tua.." Bu Tari sedikit tertawa dan menyediakan apa yang suaminya minta.

"Kayak kamu nggak tua aja.." Ucap Pak Andi yang sedang duduk di tepi ranjang sembari mengusap-usap lengan yang kulitnya sudah mulai keriput.

Sinar mentari telah beranjak meninggi. Dinginnya pagi sudah tak terlalu terasa setelah terpapar cahaya hangat dari sang Surya.

Pak Andi tengah meregangkan otot-otot nya di bawah cahaya pagi. Dan Bu Tari sedang sibuk merapikan dedaunan tanaman hias di teras depan rumah mereka.

"Selamat pagi pak Andi.. sedang olahraga ya pak.." Sapa seorang tetangga yang kebetulan lewat di depan rumah mereka.

Pak Andi dan tetangga itu terlihat sedang mengobrol santai di Minggu pagi mereka yang tenang. Mereka saling bertukar berita tentang kondisi lingkungan mereka dan sesekali tertawa bersama.

Bu Tari menghentikan sejenak kegiatan memotongnya untuk mengheningkan suasana. Ia mendengar suara ponsel berbunyi dari dalam rumah. Setelah yakin, Bu Tari lekas masuk untuk menjawab panggilan itu.

"Papa, ada telepon.."

Pak Andi segera berpamitan kepada tetangga yang mengobrol dengannya. Dan tetangga itu kembali melanjutkan jalan-jalan paginya bersama kucing peliharaannya.

"Siapa ma?"

"Kurang tau, katanya penting.."

Pak Andi lekas menerima telpon untuknya itu. Sesaat kemudian ekspresi pak Andi tampak berubah serius. Pak Andi beberapa kali mengangguk-angguk dan mengucapkan terimakasih sebelum menutup telepon.

"Ada kabar apa pa?" Tanya Bu Tari yang telah kembali merapikan dedaunan.

"Adit ternyata sudah menemukan Mike ma.. dan sekarang Mike sudah tertangkap di bandara sewaktu akan terbang ke Jakarta."

"Wah serius pa?? Hebat juga si Adit ya pa..." Bu Tari tampak antusias.

Pak Andi tak menjawab. Ia diam dan sedikit tersenyum sembari menikmati teh hangat yang dibuatkan Bu Tari di atas meja teras rumah.

"Lalu gimana kelanjutannya pa?" Lanjut Bu Tari.

"Biar pengacara yang mengurus.. paling tidak perusahaan kita bisa sedikit bernafas lega. Kalau perusahaan Mike memang terbukti menerima uang yang sangat besar itu, perusahaan kita bisa saja lepas dari audit. Karena investasi yang kita terima tak sebanding dengan total semua investasi yang diterima Mike dari ayahnya."

Bu Tari tak begitu paham maksud dari perkataan suaminya. Namun melihat suaminya sedikit lega, Bu Tari pun merasa tenang.

"Papa yakin, dari awal papa menerima investasi Pak Daniel, tak ada rekening mencurigakan yang digunakan oleh Pak Daniel. Jadi ada kemungkinan bahwa uang investasi untuk kita itu adalah uang milik Pak Daniel sendiri, bukan termasuk kedalam kasus pencucian uang seperti yang diberitakan sebelumnya. Pengesahannya pun resmi dan mendapat kewajiban pajak investasi yang di setor ke negara."

"Jadi artinya kasus itu sudah tidak berpengaruh lagi ya pa buat kita?" Tanya Bu Tari.

"Semoga saja ya ma.. kita tinggal tunggu hasil audit kepada Mike. Uang sebanyak itu kecil kemungkinannya bisa luput dari pengawasan otoritas transaksi perbankan negara kita.. Apalagi sumber dananya dari luar negri."

"Kita berdoa saja ya pa.. semoga tak terjadi apa-apa dengan perusahaan kita.."

Pak Andi tersenyum dan kembali meminum tehnya yang sudah mulai dingin.

***

Adit baru saja selesai mandi. Seperti biasa, tak ada rasa malu sedikitpun dari Adit saat ia bertelanjang dada di depan Via. Meskipun ia tau Via sering kali harus menelan ludah saat melihatnya melintas tanpa mengenakan baju di hadapan perempuan itu. Adit tau bahwa Via juga perempuan normal pada umumnya yang tak bisa menolak melihat tubuh pria ideal melintas dihadapannya.

Beberapa kali Via tak kuat menahan lirikannya ke tubuh Adit yang berkeliaran di sekitarnya. Via harus menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat untuk membuyarkan imajinasinya saat melihat pria itu yang dengan santainya melintas dan sesekali bersiul.

"Barang-barangmu sudah di packing?" Tanya Adit.

"Sudah."

Via bernafas lega saat Adit akhirnya memakai bajunya setelah mengoleskan lotion di tubuhnya. Ia bisa dengan tenang melanjutkan makeupnya yang hampir selesai.

"Rambutku bagusnya di biarin jatuh gini apa di kuncir gini ya yang..?"

"Senyaman kamu aja. Dimodel seperti apapun kamu tetap cantik kok.."

"Apa'an sih..." Via tersenyum malu mendengar pujian kekasihnya itu. Akhirnya ia memilih untuk menguncir rambutnya karena ia tau diluar akan cukup terik di siang hari.

Beberapa menit kemudian, mereka telah siap untuk check out dan melanjutkan jalan-jalan sebelum ke bandara untuk kembali ke Malang.

Via tampak ceria hari ini. Gerakannya cukup lincah dan membuat Adit cukup kerepotan menghadapi perempuan yang hari ini cukup hiperaktif itu.

Adit juga terlihat bahagia dan menikmati waktu mereka berdua. Beberapa kali mereka mengambil foto selfy di tempat-tempat yang tak biasa demi membuat kenangan yang lucu di kota itu.

Tak sekali dua kali mereka menjadi pusat perhatian. Namun mereka terlihat cuek saja dan melanjutkan keseruan mereka sendiri.

Hari semakin siang, dan tiba waktunya untuk ke bandara. Segeralah mereka mencari taksi dan pergi dengan membiarkan kenangan indah tetap berada disana untuk dikenang lagi saat mereka kembali nanti.

Sepanjang perjalanan Via tertidur pulas di bahu Adit. Mungkin perempuan yang tengah mengenakan kaos putih dan cardigan merah muda itu kelelahan karena terlalu hiperaktif tadi.

Dipandangnya wajah Via yang terlihat sangat damai dalam tidurnya. Sesekali di tahannya kepala Via agar tak jatuh dari pundaknya saat mobil melaju di aspal yang bergelombang.

Dear Boss's DaughterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang