Adit dan beberapa staf marketing lainnya tengah sibuk membahas tentang rencana penting untuk starategi marketing mereka di ruang rapat. Diskusi berjalan cukup lama bersamaan dengan hari yang telah beranjak siang.
Ponsel Adit bergetar dari balik jas nya. Merasakan getaran itu ia lekas mengecek siapakah yang meneleponnya. Tertulis nama Via di nama pemanggil. Tak berfikir panjang segera diangkatnya panggilan dari kekasihnya itu.
"Lagi sibuk gak? Bisa keluar ke pinggir jalan bentar?"
"Hah? Kamu di depan hotel? Emang kamu gak kerja?" Ucap Adit saat mengangkat telpon itu di sudut ruang rapat.
"Sudah cepet. Nanti aku telat."
Adit meminta ijin meninggalkan diskusi sebentar saat ia telah menutup telpon dari Via.
Ditengoknya jalanan yang cukup ramai di depan gedung hotel. Tak tampak ada Via disana. Hanya lalu lalang motor dan mobil melintas menuju ke tujuan mereka masing-masing.
Tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Terlihat Via kembali meneleponnya.
"Dimana? Aku udah di luar nih."
"Tengok ke sebelah kiri deh. Dibawah pohon."
Adit segera menengok ke arah yang ditunjukkan Via. Via melambaikan tangannya saat ia lihat Adit tengah melihat ke arahnya. Adit cukup terkejut melihat Via dengan penampilannya saat itu. Ia lebih terlihat sebagai seorang kurir dengan jaket kulit dan masker untuk mencoba menutupi identitasnya.
"Kamu ngapain kesini?" Tanya Adit saat ia sudah tiba di tempat Via menunggunya.
"Nih.." Via memberikan sebuah rantang makanan yang ia bawa dengan di bungkus kantong plastik berwarna hitam.
"Belum makan siang kan?" Tambahnya.
Adit cukup terkejut dengan pemberian Via. Namun ia tetap menerimanya dengan senang hati.
Sebuah mobil mercy hitam keluar area hotel dan mencoba merangsek masuk kedalam lautan lalu lintas yang cukup padat siang itu. Di dalamnya ada Pak Andi yang sedang menuju ke suatu tempat. Saat mobil nya berhenti sejenak untuk mencari celah menyebrang, Pak Andi terkejut melihat ada Via dan Adit sedang berdiri di tepi jalan yang terlihat sedang berbincang. Ia lihat Via memberikan kantong plastik yang ia bawa kepada Adit. Dan dapat terlihat dengan jelas senyum bahagia putrinya itu saat mereka berdua tengah berbincang santai.
"Kamu sudah makan? Ayo makan bareng" ajak Adit.
"Aku sudah makan. Ini mau berangkat kerja." Jawab Via.
"Emang naik apa? Mau kuantar?"
"Gak usah. Aku bawa motor hari ini. Sudah ya aku berangkat dulu. Jangan lupa dihabiskan. Besok aku ambil rantangnya di apartemenmu. Mamaku tak tau kalau aku meminjam rantangnya sebentar."
Adit pun tertawa mendengar pengakuan itu dan lekas menyuruh Via bergegas.
"Bagaimana? Apa sudah dapat?" Ucap Pak Andi dalam perbincangannya di telepon.
"Baik. Setelah saya kembali ke hotel, saya ingin segera melihat hasilnya."
Pak Andi kemudian menutup teleponnya dan meneruskan perjalannya ke tempat yang sudah direncanakan bersama supirnya.
Diletakan kantong plastik hitam itu di atas meja kerjanya. Aroma nasi goreng lekas menyeruak keluar dari tutup rantang yang baru saja dibukanya. Terlihat nasi goreng yang cukup merah lengkap dengan telur ceplok serta beberapa potong sayuran sebagai penghias.
Tak menunggu lama, Adit segera melahap makanan pemberian Via itu hingga tak tersisa sedikitpun.
***
Hari telah beranjak sore. Beberapa staff menejemen telah beranjak meninggalkan hotel untuk kembali ke rumah masing-masing.
"Tok tok tok.. permisi pak.."
"Oh iya silahkan masuk."
"Ini pak informasi yang bapak minta tadi pagi."
"Oh iya terimakasih. Kamu bisa pulang sekarang."
Sekertaris itu segera meninggalkan ruangan Pak Andi setelah ia memberikan apa yang diperintahkan oleh pak Andi kepadanya tadi pagi.
Pak Andi membuka lembar demi lembar beberapa kertas yang dibungkus rapi di dalam sebuah map coklat itu. Dibacanya kata demi kata, kalimat demi kalimat. Dibacanya beberapa resume yang dirasa cukup menarik baginya. Dan Pak Andi sedikit terkejut saat ia tau beberapa kemampuan yang tertulis di berkas itu.
Diletakkannya kembali map coklat itu diatas meja saat pak Andi telah selesai membaca semua isinya. Ekspresinya terlihat kembali berfikir. Setelah melihat jam di tangannya, pak Andi segera beranjak dari mejanya dan pulang menyusul staffnya yang lain.
***
"Pa, lihat deh.. Mike tadi kerumah, dia membelikan mama tas yang bagus banget.. cocok gak sama penampilan mama?" Ucap Bu Tari sembari berpose dengan tas baru di lengannya saat mereka hendak bersiap tidur.
"Bagus.. pasti mahal.."
"Ya pasti dong pa.. masa Mike memberikan tas yang murahan kepada calon ibu mertuanya.."
Pak Andi tak menanggapi banyak. Ia hanya mencoba merapikan bantal dan selimut di sampingnya untuk istrinya tidur.
"Mama gak ngebayangin bila Via dan Mike telah menikah, pasti dia akan membelikan mama apapun yang mama minta.." ucap Bu Tari sembari tersenyum lebar.
"Memangnya papa sepelit itu ya sama mama, sampai mama mengharap barang-barang mewah dari menantu.. Mama pikir papa gak bisa membelikan apapun buat mama?" Ucap Pak Andi yang merasa sedikit tersinggung.
"Yah bukannya gitu pa.. Papa tetap yang terbaik kok.. mama cuma senang aja sebentar lagi kita akan punya cucu.." ucap Bu Tari sambil merayap menaiki ranjang.
Tak ada tanggapan dari Pak Andi. Pria yang sudah memakai piyama itu lekas memejamkan mata saat ia lihat istrinya telah nyaman di tempat ia berbaring.
***
Akankan Adit benar-benar dianggap layak oleh Pak Andi?
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Boss's Daughter
RomansaCerita ini disusun dengan alur yang ringan-ringan saja. Tak ada melow yang berlebihan. Dan endingnya pun bisa ditebak layaknya cerita romance pada umumnya. Selama on going, part diupload random saja selama saya ada waktu ditengah kesibukan silaturah...
