Part 25

2.5K 107 0
                                        

"Ah.. anu.." Adit kebingungan bagaimana harus menjelaskan kepada bibinya.

"Selamat pagi Tante.. perkenalkan saya Via.." Via mencoba tenang dan kembali tersenyum senatural mungkin.

Bibi Maya tak lekas menjawab salam dari Via. Kedua matanya masih sibuk mengamati wajah Via dan penampilannya yang cukup anggun dengan busana santai yang Via kenakan.

Via yang merasa dirinya diawasi dari atas hingga bawah merasa sedikit risih dan kebingungan. Matanya menatap kearah Adit, namun tak ada kode jawaban dari Adit.

"Kamu siapa..?" Tanya Bibi Maya sekali lagi.

"Saya Via Tante.."

"Dit.. dia siapa?"

"Mm.. anu.. Bi.." Adit semakin bingung tentang cara menjelaskan siapa Via.

"Kamu pacarnya Adit?"

Via yang mendapat pertanyaan seperti itu dari seseorang yang ia sendiri tak tau wanita ini mempunyai hubungan apa dengan kekasihnya lantas menatap Adit sekali lagi. Namun Adit tak kunjung memberikan petunjuk apapun, ia malah memalingkan wajahnya ke arah lain sambil terlihat bahwa Adit pun cukup kebingungan.

"I.. iya.. Tante.."

Tak tau harus bagaimana, Via memilih jujur kepada orang yang baru dilihatnya.

Bibi Maya terlihat cukup terkejut dengan pengakuan Via. Matanya membulat dan seketika melihat kearah Adit yang mulai salah tingkah.

"Betul itu Dit?!" Ucap Bibi Maya dengan tegas.

"I.. iya Bi.." jawab Adit terbata-bata.

Ekspresi Bibi Maya seketika berubah. Senyumnya melengkung tajam, dan terlihat lebih ceria.

"Ya ampun Adiitt! Kamu kok gak bilang sama bibi sih?! Hah?!"

Adit dan Via yang melihat itu kembali dibuat terheran-heran atas tingkah Bibi Maya yang sedikit aneh.

"Tau gitu kan Bibi gak usah repot-repot ngenalin kamu ke Aprilia?!"

Ekspresi Via mendadak terkejut saat mendengar ucapan Bibi Maya. Tatapan matanya menatap tajam kearah Adit yang masih tampak kebingungan dan memaksakan senyumnya.

"Siapa tadi nama kamu nak?" Tanya Bibi Maya yang membuyarkan tatapan tajam Via ke Adit.

"Ah..? Saya Via Tante.. Via Septiana Andika.."

"Oh iya, ayo cepet masuk sini.."

Via dan Adit tak tau harus berbuat apa, mereka hanya melakukan apa yang dikatakan oleh Bibi Maya yang masih terlihat ceria.

Dibawanya Via masuk lebih dalam ke apartemen Adit, dan menyuruhnya duduk di sofa ruang tengah. Adit pun mengikuti mereka dan duduk di sofa yang terpisah.

"Kamu kok gak cerita kalau sudah punya pacar?? Biasanya kalau ada apa-apa kamu langsung cerita ke Bibi.."

Adit hanya tersenyum masam mendengar itu.

Via yang tadinya merasa sedikit tertekan dan terkejut, kini mulai merasa sedikit nyaman setelah mendapat perlakuan ramah dari Bibi Maya.

"Maaf, Tante bibi nya mas Adit ya?"

"Oh iya, saya bibinya. Dulu Adit tinggal sama saya dan pamannya sebelum dia menyewa apartemen ini. Orang tuanya ada di Banyuwangi sama adik perempuannya. Dari awal dia kuliah di sini sudah tinggal sama bibi.. sampai dia sudah bibi anggap sebagai anak sendiri. Apa-apa bibi yang sediakan, mulai dari dia bangun tidur sampe tidur lagi. Bahkan kalau..."

"Ehem.! Bibi.. bibi.. sudah ya.. sudah.. "

Bibi Maya yang merasa bahwa dirinya terlalu bersemangat, lekas tersadar dan meminta maaf atas kelakuannya itu. Via sedikit tertawa dan tidak mempermasalahkan hal itu. Via juga berkata bahwa bibi adalah orang yang sangat baik, lucu dan juga menyenangkan.

Mereka berdua pun akhirnya tertawa bersama-sama. Adit yang melihat tingkah mereka berdua hanya mampu menghela nafasnya.

"Oh iya, sebentar ya, bibi ambilkan minuman buat kamu." Ucap bibi Maya yang segera meninggalkan mereka berdua.

"Maaf ya.. bibiku memang seperti itu orangnya.. kamu maklumi saja.." ucap Adit memelas.

Via hanya tersenyum mendengarnya dan mengerlingkan mata kanannya untuk mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja. Adit yang melihat itu merasa sedikit lega dan tenang.

"Kamu sudah berapa kali kesini nak Via?"

Bibi Maya datang dengan nampan yang diatasnya terdapat satu teko bening berisi teh hangat dan beberapa cangkir.

"Ini pertama kalinya Tante.. Saya baru dapat alamatnya kemarin.."

"Oh gitu, yasudah. Tapi kalau bisa diatur waktunya ya. Gak enak sama tetangga yang lihat. Kalian kan belum menikah.."

Adit kembali membulatkan kedua matanya. Ia tak habis pikir alasan bibinya mengucapkan kata-kata itu kepada Via. Berbeda dengan Via. Perempuan dengan rambut yang dibiarkan terurai sepunggung itu semakin merekahkan senyum manisnya, dan pipinya terlihat sedikit memerah.

"Iya Tante. Saya mengerti.."

"Kalian ada rencana mau keluar ya?"

"Oh nggak kok Tante. Saya kesini disuruh masak sama mas Adit."

Mendengar itu bibi Maya sedikit terkejut, dan segera menatap Adit dengan tajam.

"Kok bisa-bisanya kamu nyuruh pacar kamu kesini cuma buat masak?!"

Adit terkejut setengah mati mendengar pengakuan Via kepada Bibinya. Bisa-bisanya Via menyudutkannya di depan bibinya.

"Siapa yang nyuruh Via kesini cuma buat masak?? Nggak kok bi.. dia yang bilang ingin kesini.."

"Kemarin kamu sendiri yang bilang, kalau aku mau main ke apartemenmu, aku harus masak buat kamu. Lupa ya?" Ucap Via dengan tatapan nakal.

Bibi Maya semakin gusar mendengarnya. Ia tak habis pikir keponakannya akan memperbudak pacarnya seperti itu. Diangkatnya tangan kiri dan hendak memukul Adit. Dan Adit pun segera memundurkan badannya dengan ketakutan, kedua tangannya mencoba menahan pukulan yang akan melayang ke arahnya itu.

Via terkejut melihat bibi Maya akan memukul kekasihnya hanya karena masalah memasak. Segera ia meraih tangan kiri bibi Maya agar tak melayang dengan keras ke kepala Adit. Adit pun terlihat sangat ketakutan melihat amarah bibi Maya kepadanya.

Via segera menjelaskan dan meralat kata-katanya tadi untuk meredakan emosi Bibi Maya. Via menjelaskan bahwa kata-kata Adit kepadanya hanya berbentuk sebuah syarat untuk mengetahui kemampuannya dalam memasak.

-------------------------------------

Ternyata Bibi Maya Baik juga ya orangnya...

Dear Boss's DaughterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang