Part 24

2.5K 110 1
                                        

Suara alarm memecah keheningan pagi yang hening itu. Suara yang cukup mengganggu telinga dan membangunkan siapapun di dekatnya. Dua mata sayu perlahan terbuka. Dilihatnya sumber suara yang memekikan telinga itu. Tangan kirinya perlahan meraih jam duduk diatas meja yang menunjukan waktu 05.00 wib.

Sesosok pria mencoba untuk bangkit dari tempat ia bersemayam. Penampilannya berantakan dengan mengenakan celana pendek dan kaos polos. Rambutnya acak-acakan yang sesekali digaruk. Serta mulutnya beberapa kali menguap lebar disertai kedua tangannya yang saling merenggang.

Langkahnya sedikit sempoyongan untuk menuju ke kamar mandi.

"Auch..!! Aarrghh!"

Pria itu berjalan dengan sedikit terpincang-pincang akibat ujung jemari kakinya tak sengaja tersandung kaki ranjang.

Dibukanya keran air yang tertanam di dinding kamar mandi. Keluarlah air segar dan dingin mengalir deras dari lubang yang mengarah ke lantai. Tubuhnya beberapa kali bergetar saat dinginnya air terkena muka, lengan, kening atas, kedua telinga dan kedua kakinya. Lekas ia raih handuk yang menggantung di gantungan handuk pada tembok berkeramik putih polos itu.

Lantunan ayat suci keluar fasih dari mulutnya. Kedua matanya terpejam sembari menghayati apa yang ia ucapkan meskipun tak paham betul akan maknanya. Pagi yang dingin tak menghalanginya untuk bersujud dan berdoa mengadukan serta meminta apa yang ia butuhkan. Berharap belas kasih dari pencipta alam semesta untuk kebaikan hidupnya di dunia dan akhirat.

Sinar mentari perlahan muncul dan bersinar semakin terang. Cahayanya menerobos masuk dari celah jendela yang telah terbuka lebar. Tak ada sedikitpun angin yang berhembus. Hanya sentuhan dingin yang sedikit mencengkram kulit lembab pria itu.

Kepulan asap dari air hitam pekat yang manis lekas menghilang sebelum ia mampu membumbung tinggi. Seakan hanya menyapa seorang pria yang tengah duduk santai di balkon apartemen lantai 7 itu. Pandangannya menyebar luas di hamparan Padang beton yang berdiri berjajar. Di kejauhan ia lihat gunung Arjuna berdiri kokoh seakan menantang fajar yang datang dengan sinarnya yang hangat.

Sesekali kedua matanya beralih memandang layar tablet putih yang berdiri di atas meja disampingnya. Membaca beberapa topik berita yang ringan dan menghibur. Jemarinya lihai menyentuh layar sensitif itu. Menggesernya keatas dan kebawah lalu menyentuhnya saat ia lihat ada informasi yang menarik untuknya.

Ting.. tong.. tok.. tok.. tok..

Perhatian pria itu tersita saat ia dengar ada seseorang yang mengetok pintu apartemennya. Dalam pikirannya, siapakah orang yang datang dikala waktu masih menunjukan pukul setengah 8 pagi.

Pria itu beranjak dari kursi nyamannya di balkon dan menghampiri sumber suara yang mengganggu ketenangan paginya.

"Tumben udah bangun. Ini kan hari Minggu.."

Seorang wanita paruh baya merangsek masuk saat pintu belum terbuka sempurna. Wanita itu segera melangkah menuju ke arah dapur dengan sekantong plastik belanjaan di tangannya.

"Bibi itu yang pagi-pagi udah main kesini aja.. aku kan lagi menikmati pagi ku yang tenang bi.."

"Halah kamu ngomong apa sih. Tumben seorang Adit jam segini sudah mandi di hari minggu. Biasanya habis subuh tidur lagi sampe siang."

Adit hanya memutar matanya mendengar ucapan bibinya yang terlalu jujur.

"Bibi bawa apa itu? Banyak banget.."

"Ini belanjaan rumah. Yang ini buat kamu. Bibi beliin camilan."

"Tumben cuma camilan? Biasanya bahan sayur atau lauk.."

"Kamu mau? Kalau mau ini ambil beberapa punya bibi. Atau mau bibi masakin sekarang?"

"Ah gak usah Bi, jangan repot-repot.. hehe.. "

"Halah mulutmu palsu.. sudah. Kamu mau bibi masakin apa? Ini ada bahan sayur sop, bayam, sama lodeh. Kamu pilih satu."

"Serius bi gak usah, nanti aku masak sendiri aja.."

"Kamu mau ada acara diluar? Bilang dong ah.. mau keluar jam berapa? Sarapan dulu ya, bibi masakin nasi goreng."

"Ya ampun bibi, udah bi nanti biar aku masak sendiri. Mending kita ngobrol aja di ruang tengah, Aku mau curhat.." ucap Adit memanja.

"Biasanya juga kamu langsung ngomong sambil bibi masak.. kok pake acara duduk segala."

Adit dibuat semakin pusing atas perhatian berlebihan yang diberikan bibinya.

"Oh iya Bi, paman sudah sarapan? Paman pasti nunggu bibi di rumah.. kasian bi kelaparan.."

"Oh iya, bibi sampai lupa, pamanmu tadi nitip shampo.. haduh bibi kok bisa lupa sih.. padahal tadi udah ingat waktu mau kesini.."

"Tuh kan.. mending bibi beli sekarang deh, lalu langsung pulang. Kasihan paman pasti udah gatel-gatel tuh kepalanya.."

"Kamu itu.. bibi kesini karena kamu sudah gak pernah main ke rumah.. super sibuk ya sekarang??"

Adit yang mendengar itu lantas memeluk bibinya dari samping.

"Iya Bi, lain kali aku mampir deh.. maklumi keponakanmu ini yang sedang meniti karir.. kan nanti kalau aku sukses bibi juga kebagian.. oke?" Ucap Adit merayu.

Bibi Maya yang mendengar itu sedikit memanyunkan bibirnya atas tingkah keponakan kesayangannya itu.

"Yasudah bibi pulang dulu. Besok-besok kamu kerumahnya ya. Pamanmu nyariin tuh.. awas kalau alesan lagi."

"Beres bi.. nanti Aku bawakan makanan kesukaan paman dan bibi yang buanyak. Oke?"

Ting.. tong..

Adit dan Bibi Maya mendengar seseorang memencet bel pintu. Adit yang tersadar akan sesuatu segera melihat jam yang menempel di dinding. Dilihatnya waktu sudah menunjukan pukul 08.12 wib.

"Siapa itu kok ada tamu pagi-pagi gini.. temanmu mau jemput kamu?"

Adit tak menjawab pertanyaan bibinya dan lekas berjalan kearah pintu, diikuti bibinya dari belakang.

Kedua mata Adit seketika membulat saat ia lihat seorang perempuan cantik berdiri didepan pintu yang baru saja ia buka.

"Pagi yang.."

Tatapan Adit terpana beberapa saat. Dilihatnya Via telah berdiri di depan pintunya dengan senyum indah menghiasi wajah cantik bermakeup natural itu.

"Kok bengong? Aku gak disuruh masuk nih..?"

"Siapa itu dit?" Ucap Bibi Maya yang baru saja tiba di pintu depan.

Via yang mendengar suara seorang wanita dari dalam apartemen Adit terlihat cukup terkejut. Senyum indahnya seketika menghilang dan raut wajahnya berubah penuh tanya.

Beberapa saat kemudian tatapan Via mengarah kepada sesuatu yang bergerak keluar dari balik tubuh Adit. Ekspresinya semakin terkejut dan kakinya sedikit bergerak mundur saat wanita itu sudah berhasil menyingkirkan tubuh Adit yang menghalangi pintu.

"Dia siapa Dit?" Tanya Bibi Maya saat sosok Via telah terlihat jelas oleh Bibi Maya.

------------------------------

Apakah hubungan mereka akan diketahui Bibi Maya???

Dear Boss's DaughterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang