Part 50

2.4K 87 1
                                        

Di Yogyakarta,

Via masih terbaring dengan kondisi yang tak jauh berbeda. Matanya terpejam menahan demam tubuhnya yang tak kunjung menunjukan tanda-tanda akan membaik.

Via mendengar ponselnya berdering di atas meja. Senyumnya sedikit merekah saat ia lihat Adit sedang memanggilnya dari ujung sana. Lekas ia jawab agar kekasihnya itu tak menunggu lama.

"Via. Kamu dimana?"

Sebuah pertanyaan Adit yang terdengar di telinga Via membuatnya memikirkan semua kebohongan yang sudah dikatakannya kepada Adit. Belum sempat Via menjawab, air matanya kembali mengalir deras dan Isak tangisnya tersedu-sedu hingga ia sedikit kesulitan bernafas. Suara tangisnya mengejutkan Adit yang merasa Via sedang kesulitan saat ini.

"Kamu dimana?! Jawab Via?! Kamu kenapa?! Kenapa kamu menangis?! Apa yang terjadi?!" Ucap Adit dengan nada suara yang sangat khawatir.

"Jemput aku.. aku sendirian dan tak sanggup pergi kemanapun. Aku sakit.. Badanku lemas sekali.. aku ada di hotel sekarang.." Ucap Via sembari menahan isak tangisnya agar suaranya dapat didengar dengan jelas.

Adit menutup microphone ponselnya dengan telapak tangannya. "Roy, bisa tolong handel meeting siang ini?!". Ucap Adit lantang kepada rekannya di ujung ruangan.

"Via, kamu tunggu disana. Aku akan pergi dengan penerbangan berikutnya untuk menjemputmu."

"Mas, maafin Via sudah berbohong.. aku sekarang ada di Jogja seorang diri.. dan aku gak bisa pulang.. aku nggak kuat mas.. Aku sangat takut.." Ucap Via yang membuatnya semakin bersedih karena merasa bersalah.

"Aku tau kamu ada di Jogja sekarang. Pokoknya kamu tunggu disana. Jangan kemana-mana sampai aku menjemputmu. Setelah ini kirim lokasi hotelnya."

Via tak menjawab. Hanya Isak tangisnya yang sudah sedikit mereda yang terdengar.

"Via, aku sudah berjanji kepadamu akan menjagamu dengan semua yang aku miliki. Kamu hanya perlu percaya kepadaku. Dan jangan pernah lagi berbohong kepadaku."

"Maaf mas Adit..." Ucap Via yang semakin membuatnya menangis atas perasaan bersalahnya.

Kemudian Adit menutup panggilannya. Dicarinya lagi sebuah kontak di dalam ponselnya. Ditekannya sebuah kontak bertuliskan nama Pak Andi.

Di Malang,

Pak Andi lekas menjawab saat ada panggilan masuk di ponselnya yang berasal dari Adit. Matanya sedikit membulat saat tau maksud dari panggilan itu.

"Apa yang terjadi sebenarnya.." ucap Pak Andi di percakapan teleponnya, masih dengan ekspresi terkejut dan sedikit shock.

Mata Pak Andi semakin membulat saat ia menyadari sesuatu setelah mendapat penjelasan dari Adit. Diambilnya kertas memo tadi dari dalam saku jas nya. Pak Andi baru menyadari maksud dari memo misterius itu. Maksud dari kalimat, "Selamatkan Harta Mu Yang Paling Berharga."

"Baiklah. Jemput dia sekarang juga. Bawa dia pergi jauh-jauh dari Mike! Jangan biarkan bocah brengsek itu menyentuh putriku!" Ucapan emosi Pak Andi sontak membuat semua menejer yang sedang meeting dengannya terkejut dan saling melempar pandangan mereka.

Nafas Pak Andi terengah-engah saat ia menutup panggilannya. Raut wajahnya terlihat sangat kesal dan emosi. Para peserta rapat yang lain hanya bisa terdiam dan tak berani mempertanyakan saat pertama kali melihat pimpinan mereka semurka itu.

Di Palembang,

Adit segera berlari masuk kedalam bandara sesaat setelah keluar dari taksi. Dicarinya tempat check-in untuk bergegas masuk kedalam pesawat yang dijadwalkan akan terbang beberapa menit lagi.

Dear Boss's DaughterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang