Pagi telah datang namun sepasang mata masih terpejam erat terbalut selimut merah muda. Sadarnya enggan kembali setelah melanjutkan tidurnya selepas subuh. Berisik alarm tak kunjung menyadarkan pria yang masih mengenakan sarung itu. Ia tetap betah menghangatkan diri dari dinginnya udara pagi yang mulai masuk ke dalam kamar.
Tak banyak yang berubah dari dekorasi apartemen Adit setelah Via memutuskan untuk tinggal dengan suaminya di apartemen sederhana, menolak tawaran kedua orang tuanya yang hendak membelikan rumah di kawasan perumahan mewah dipinggiran kota. Via tak mau merubah gaya hidup Adit seperti yang ia tau sebelumnya. Via rasa ia terlanjur nyaman dengan cara Adit menjalani hari-harinya.
Beberapa hal yang berubah dari tempat tinggal bersusun itu hanya dari perabotan dan peralatan yang sedikit bertambah. Di kamarnya kini terdapat meja rias milik Via yang penuh dengan peralatan makeupnya. Kamar Adit kini lebih wangi dengan aroma perempuan. Dan yang pasti kamar mandinya lebih bersih dan tertata.
Rak di sudut ruangan yang dulunya berisi buku-buku kini beberapa telah dikemas dan digantikan dengan beberapa foto mereka. Pajangan dinding pun hampir sama. Sebuah pigura besar berisi foto sepasang pengantin baru terpajang tepat diatas televisi di ruang tengah. Dan pagi Adit yang selalu sepi saat ia membuka mata, kini terisi oleh senyum yang selalu mengucapkan selamat pagi lengkap dengan sebuah ciumannya.
Adit mulai siuman saat tak sengaja hidungnya mencium aroma makanan dari dapur. Mata sayu itu perlahan terbuka dan menyadari bahwa matahari telah meninggi diluar sana. Langkah yang sedikit sempoyongan menderap pelan keluar kamar yang hangat. Sesekali kedua matanya mengerjap mencoba menetralisir cahaya berlebih yang masuk ke pupil yang masih membesar. Langkahnya mendekat keseorang perempuan yang tengah sibuk di dapur menyiapkan sebuah kudapan pagi.
"Selamat pagi.." Ucap Via saat punggungnya menghangat karena pelukan Adit.
Disuapkannya kuah sop kemulut suami barunya itu untuk membantu menyadarkannya. Mulut Adit mengecap perlahan merasakan kuah sayur yang lezat itu sembari dagunya bertengger di pundak Via. Adit meraih kedua tangan Via yang tengah sibuk mengiris lauk untuk dimasak, Kemudian menyilangkannya di perut untuk menahan kesibukan istrinya itu sesaat. Via mencoba diam dan menunggu apa yang diinginkan Adit kepadanya. Pelukan Adit semakin erat di punggung istrinya sembari kedua matanya menutu perlahan merasaakan perasaan mereka berbaur untuk sesaat. Via yang terbawa suasana ikut memejamkan mata dan menyambut pelukan suaminya. Mereka bertahan beberapa menit untuk merasakan kebahagiaan yang telah lama mereka impikan.
Beberapa minggu setelah pernikahan Adit dan Via, Pak Andi menaikan jabatan menejer marketing yang lama menjadi direktur cabang untuk mengurus Hotel mereka yang baru saja diresmikan di Malaysia. Kemudian posisi menejer marketing yang ditinggalkannya itu digantikan oleh Adit.
Via hampir menyelesaikan novel pertamanya yang telah memasuki tahap revisi dari penerbit sebelum siap dicetak dan dipasarkan.
Pak Andi yang merasa semakin tua, menyerahkan jabatan presiden direktur kepada adik bungsunya yang baru saja kembali dari luar negri setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Jerman. Kini Pak Andi bisa lebih santai di rumah, dan lebih banyak menikmati waktunya bersama Bu Tari.
Via yang kini lebih banyak mengahabiskan waktunya di rumah, cukup sering menerima kunjungan dari Bibi Maya. Bibi Maya telihat semakin dekat dengan Via dan sudah menganggapnya sebagai menantunya sendiri. Via pun terlihat cukup terbantu dengan saran-saran dari Bibi Maya dalam menyelesaikan urusan rumah tangga yang belum pernah ia alami sebelumnya, termasuk agar selalu menjaga penampilan dan riasan di depan Adit meskipun status mereka telah menjadi suami istri.
Adit kini telah semakin sibuk dengan jabatan barunya di hotel. Ia cukup sering pulang malam dan beberapa kali mendapati Via tertidur di sofa demi menunggunya pulang. Dalam hati kecil Adit merasa bersalah kepada istrinya itu. Semenjak mereka menikah dan mendapat jabatan baru, Adit hanya sempat memiliki waktu lebih untuk Via di akhir pekan. Itupun Adit sebenarnya sedikit memaksakan diri karena ia ingin beristirahat dirumah setelah satu pekan bekerja keras. Namun demi mengurangi rasa bersalahnya kepada Via, Adit menyempatkan diri walau hanya mengajak Via makan malam di luar, nonton bioskop, atau mengantarnya berbelanja kebutuhan sehari-hari. Walau hanya demikian, Adit merasa cukup lega karena Via cukup menikmati waktu yang Adit luangkan untuknya.
Hari-hari mereka berjalan seperti biasa sebagaimana pasangan suami istri menjalani kehidupan mereka bersama-sama. Kadang silih pendapat sesekali terjadi, namun mereka sama-sama berusaha saling mengerti dan tak memperpanjang masalah yang ada dengan membicarakannya dan mencoba menyelesaikannya sebaik mungkin. Kisah masa lalu keduanya perlahan mulai terungkap di tengah kehidupan rumah tangga mereka. Kadang salah seorang merasa kesal, sedih, cemburu, dan emosi. Namun kadang juga senang, bahagia, dan bangga mengetahui semua latar belakang pasangan mereka. Tak ada yang ditutup tutupi. Biarlah hitam menjadi hitam, dan putih tampak selayaknya warna putih. Saling menerima dan memahami selalu ditanamkan di benak mereka ketika sesuatu menerpa mahligai rumah tangga yang masih seumur jagung itu.
- Adit Adi Anggara -
"Melihatmu membuatku merasa tenang. Karena saat melihatmu, kutemukan diriku yang sebenarnya."
- Via Septiana Anggara -
"Aku mencintaimu, bukan hanya karena siapa kamu. Tapi juga karena menjadi apa diriku saat bersamamu."
Kekuatan cinta yang benar-benar tulus bisa menggerakkan lisan untuk senantiasa berterima kasih. Cinta bukan alasan keluarga tak harmonis, tapi kurangnya persahabatan yang membuat pernikahan tidak bahagia. Buruknya pasangan bukan karena siapa dirinya, tapi bagaimana kita telah membimbingnya.
- TAMAT -
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Boss's Daughter
RomanceCerita ini disusun dengan alur yang ringan-ringan saja. Tak ada melow yang berlebihan. Dan endingnya pun bisa ditebak layaknya cerita romance pada umumnya. Selama on going, part diupload random saja selama saya ada waktu ditengah kesibukan silaturah...
