"Sebelumnya saya meminta maaf jika ucapan saya ini dirasa lancang. Namun dengan segala yang saya miliki meskipun tak seberapa, saya memohon restu bapak dan ibu untuk mengijinkan saya meminang putri semata wayang bapak dan ibu, yaitu Via Septiana Andika untuk menjadi istri saya yang pertama dan yang terakhir."
Suasana tiba-tiba menjadi hening. Via dan Bu Tari yang sudah tak sanggup menahan air matanya, menatap ke arah Pak Andi dengan penuh ketegangan. Adit pun tak sanggup lagi berucap. Semua keputusan ia serahkan kepada Pak Andi sebagai ayah dari Via.
"Segera beli lah cincin, dan pasangkan pada jari manis putri saya. Berbahagialah kalian sebagai suami istri." Ucap Pak Andi dengan senyumnya.
Air mata Via dan Bu Tari seketika mengalir tak terbendung setelah mendengar ucapan Pak Andi. Bu Tari yang tak dapat menahan rasa bahagianya, menggenggam erat telapak tangan pak Andi. Pak Andi pun tersenyum senang melihat Via bisa menemukan pasangan hidupnya sendiri.
Via menatap Adit dengan deraian air mata bahagia mengalir deras di pipinya. Bibirnya tak sanggup berucap, dan terpancar kebahagiaan yang luar biasa dari dalam matanya. Seketika Via melompat mendekap erat Adit di depan kedua orang tuanya.
Bu Tari pun melakukan hal yang sama. Ia menangis di pundak Pak Andi sembari menyaksikan putri nya menangis bahagia di pundak Adit.
"Terimakasih Pak Andi. Saya akan menjaga harta paling berharga milik bapak ini dengan semua yang saya miliki." Ucap Adit.
"Memang tak ada orang lain yang layak melakukannya. Jadi pastikan kau melakukannya dengan baik." Jawab Pak Andi.
Adit pun tersenyum bahagia dan membalas pelukan Via yang semakin erat.
Mereka berempat menyelesaikan makam malam dengan perasaan bahagia yang tak bisa dibendung. Senyum mereka senantiasa selalu merekah. Bu Tari menceritakan kepada Adit, betapa Via adalah orang yang sangat manja dibalik sosoknya yang dingin dan cuek. Adit hanya tertawa mendengarnya. Sebenarnya ia sudah tau bagaimana sifat asli calon istrinya itu dengan baik. Pak Andi tak mau kalah. Ia menyarankan kepada Adit untuk waspada ketika Via sedang marah. Bahkan singa yang sedang kelaparan pun kalah menyeramkan jika dibandingkan dengan kemarahan putrinya itu
Beberapa hari kemudian Adit mengajak Via pergi ke Banyuwangi untuk diperkenalkan dengan kedua orang tuanya. Ayah dan Ibu Adit sangat bahagia melihat Adit membawa calon istrinya yang sangat cantik dan baik. Bahkan keluarga besar Adit di sana segera menerima Via dengan baik untuk segera menjadi anggota keluarga besar mereka.
Via diajak untuk menginap beberapa hari di rumah Adit. Tanpa berfikir panjang Via lekas menyetujuinya. Banyak hal menarik yang Via temui di Banyuwangi, namun salah satu hal yang membuat Via sangat betah disana adalah, Ibu Adit sangat pandai memasak. Via mendapat banyak resep yang dicatatnya dibuku saku sebagai bekal Via dalam melayani Adit yang mempunyai nafsu makan yang cukup besar. Dan semua itu adalah makanan kesukaan Adit semenjak Adit masih kecil.
Beberapa hari dilalui Via di kabupaten yang berjuluk The Sunrise of Java itu dengan suka cita. Ia segera akrab dengan keluarga Adit terutama dengan adiknya Fitri. Via dan Fitri banyak meluangkan waktu di saat senggang mereka untuk mengajari Fitri ber-makeup. Karena selepas Fitri lulus SMA ini ia ingin mengikuti kursus salon dan membuka salon kecantikannya sendiri di kota.
Setelah perkenalan Via dan keluarga Adit selesai, Adit lekas mengajak Via kembali ke Malang karena ia harus kembali masuk bekerja. Keluarga Adit memberikan cukup banyak oleh-oleh untuk dibawa ke Malang, hingga bagasi mobil mereka penuh. Via sangat mengharap keluarga Adit lekas berkunjung ke rumahnya untuk melamar Via secara resmi. Dan Ayah Adit segera menyanggupinya dalam waktu dekat.
***
Di kantor ternyata berita tentang rencana pernikahan Adit dan Via lekas menyebar. Semua rekan kerjanya mengucapkan selamat dan sedikit menggoda Adit. Adit pun hanya tertawa menanggapinya dan tetap melakukan pekerjaannya seperti biasa.
"Cyee.. yang mau nikah sama anak bos besar.." ucap Shinta saat mengantarkan berkas kepada Adit.
Adit tersenyum dan menerima berkas yang disodorkan Shinta.
"Nanti saya antar berkasnya setelah selesai di cek pak menejer. Tinggalkan saja disini."
"Iya pak gak buru-buru kok.." ucap Shinta yang kemudian pergi.
Adit segera mengambil jas nya dan beranjak pergi. Dilajunya mobil memecah keramaian kota karena ia sudah sedikit terlambat. Mobilnya berhenti disebuah butik yang cukup terkenal. Via melambaikan tangannya saat melihat Adit datang. Via dan Bu Tari tengah menunggu Adit untuk memilih busana pernikahan mereka. Hasil pertemuan antara keluarga Via dan keluarga Adit telah menemukan kesepakatan atas tanggal pernikahan mereka yang tak akan lama lagi. Itulah kenapa mereka harus segera melakukan persiapan pernikahan secepatnya.
Via mencoba beberapa gaun yang sangat indah dan pas dengan dirinya. Terlihat sangat cantik dan anggun bagi Adit apapun yang dikenakan oleh Via. Dan Adit hanya menyesuaikan pakaiannya dengan pasangan dari gaun yang dipilih oleh Via.
Hari berganti hingga acara akad dan resepsi mereka berdua telah datang. Banyak sanak saudara dan famili serta rekan dan kerabat kedua keluarga hadir di acara resepsi yang sederhana namun elegan itu. Acara dilakukan di ballroom ALAM Hotel dengan konsep yang tak terlalu mewah atas permintaan Via pribadi.
Kedua orang tua Adit dan Via tampak meneteskan air mata bahagianya saat Adit mengucap ijab qabul dengan lancar tanpa kendala. Pasangan pengantin baru itu terlihat sangat ceria saat mereka berdua bersanding diatas pelaminan dengan disaksikan oleh semua tamu yang hadir. Hingga acara sakral itu selesai, tak sedikit pun pancaran kebahagiaan keduanya terlihat memudar.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Boss's Daughter
RomantikCerita ini disusun dengan alur yang ringan-ringan saja. Tak ada melow yang berlebihan. Dan endingnya pun bisa ditebak layaknya cerita romance pada umumnya. Selama on going, part diupload random saja selama saya ada waktu ditengah kesibukan silaturah...
