Part 57

2.4K 96 0
                                        

Adit terlihat menghubungi seseorang dengan ponselnya. Ia tampak berjalan dengan sedikit tergesa-gesa saat menyebrang ketika lampu merah telah menyala. Kepalanya mengangguk beberapa kali dan melihat jam di tangannya. Kemudian ia percepat langkahnya setelah selesai menelepon.

Adit berjalan memasuki halaman gedung Polres Kota Yogyakarta. Langkahnya menderap masuk kedalam lorong bangunan itu dengan banyak pintu di dindingnya. Matanya mencari pintu ruangan bagian Intelejen dan keamanan (Intelkam) Polres Yogyakarta.

Adit duduk di depan dua orang berpakaian dinas kepolisian. Mereka tampak membuka beberapa berkas yang dipegangnya. Dan adit hanya diam menunggu tindak lanjut atas laporannya.

"Anda yakin dia orangnya?" Tanya petugas.

"Yakin pak. Dia lekas pergi dengan taksinya saat melihat saya."

Petugas itu hanya mendaham dan kembali melihat berkas di tangannya. Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka dan masuk dua orang berkacamata hitam dan berjaket kulit. Dua petugas kepolisian yang melihat ada orang masuk segera berdiri dan menanyakan siapakah mereka yang masuk begitu saja kedalam ruangan. Tak ada jawaban dari dua orang misterius itu. Mereka hanya menunjukan sebuah tanda pengenal bertuliskan "Interpol".

***

Hari telah beranjak senja. Via terlihat bosan menonton televisi semenjak ia datang. Ia duduk di lantai bersandar pada ranjang dengan bungkus snack berserakan di sekelilingnya. Satu kantong plastik snack yang ia beli sudah habis dimakan. Dicek ponselnya, pesan yang ia kirim ke Adit untuk menanyakan kedatangannya tak kunjung mendapat balasan.

Malam telah datang. Adit berjalan perlahan sambil menjinjing jaket di tangan kanannya dan kantong plastik di tangan kirinya. Wajahnya terlihat cukup letih. Perlahan ia buka pintu kamar hotel dan mendapati Via tengah duduk tertidur dengan bersandar di tepi ranjang. Diletakannya kantong plastik dan jaket diatas meja, kemudian mengangkat tubuh Via perlahan keatas ranjang.

Adit terkejut saat kedua lengan Via tiba-tiba menyilang di lehernya. Kedua mata Via terbuka perlahan dan melihat ke mata Adit yang posisinya cukup dekat.

"Baru pulang.."

Adit melepaskan perlahan kedua tangannya pada tubuh Via, saat tubuh yang sudah berpiyama itu telah berbaring diatas ranjang.

"Dari mana aja kamu baru pulang jam segini.."

Ekspresi Via sedikit kesal karena tak kunjung mendapat jawaban dari Adit yang berjalan menghampiri meja.

"Kamu menemui Mas Mike ya?"

"Nggak." Jawab singkat Adit sembari membuka sebungkus Pop Mie yang dibelinya dalam perjalanan kembali ke hotel.

"Kamu kenapa nggak cerita sih.. Memangnya sebegitu rahasianya hingga aku gak boleh tau apa yang sedang kamu lakukan.."

Via bangkit dari ranjang dan berjalan menuju Adit yang sedang duduk di kursi sembari menuangkan bumbu kedalam mie instannya. Via memanaskan air dalam teko elektrik yang terdapat di kabinet kamar hotel.

"Keliatannya penting banget sampai kamu gak sempet makan malam."

Via melihat wajah Adit yang lesu dan tampak lelah. Ia mengusap rambut di kepala Adit dan mendekapnya lembut. Adit yang merasa sangat nyaman dengan perlakuan Via itu lantas juga memeluk pinggang kekasihnya.

"Yasudah kalau kamu gak mau cerita sekarang. Kamu cepat mandi. Aku akan memanaskan air untuk makananmu."

Via melepaskan dekapannya dan membantu Adit berdiri. Via mengerti Adit sangat lelah saat itu. Ia tak mau memaksa kekasihnya itu untuk menjelaskan apa yang ia ingin tau.

Via menghembuskan nafas beratnya sembari menyiapkan air panas untuk pop mie milik Adit. Di dalam matanya terlihat kekhawatiran saat mengingat kejadian tadi siang, ketika Adit dan Feby membahas soal Mike di depannya. Namun saat ini ia hanya bisa menunggu hingga Adit mau membicarakan itu.

Via merapikan selimut untuk menutupi badan Adit yang kini telah berbaring di sampingnya. Adit hanya diam dan kedua matanya baru saja menutup.

"Kalau kamu mau, besok kita bisa pulang.." Ucap Via yang masih merapikan selimut.

Adit membuka matanya dan memiringkan badannya menghadap Via yang masih setengah terbaring. Adit memandang wajah kekasih cantiknya itu yang tengah tersenyum.

"Udah nggak usah ngomong. Kamu tidur aja. Kedua matamu sudah tampak sangat lelah. Besok pagi kamu pesan tiket pesawat ke malang ya.."

Selimut Adit kembali berantakan saat Adit bergerak, namun dengan sabar Via kembali merapikannya sebelum ia juga tidur.

"Kemungkinan kita akan dapat penerbangan sore. Jadi siangnya kita bisa jalan-jalan dulu sebelum ke bandara.." lanjut Via.

"Aku minta sesuatu boleh gak.." Ucap Adit.

"Apa?"

"Bacakan aku dongeng.."

Via tersenyum lebar mendengar permintaan Adit. kemudian ia mengambil ponselnya dan mencarikan Adit sebuah dongeng di internet untuk pengantar kekasihnya itu tidur.

"Let me see ya.. ada dongeng apa ya untuk bayi tua ku ini.." Ucapan Via membuat Adit sedikit tersenyum.

Adit diam tak bergerak. Kedua matanya sesekali berkedip sembari menatap Via yang tengah menceritakannya dongeng tentang Putri Tidur. Adit tak memperhatikan dongeng yang sebenarnya sudah ia ketahui alur dan akhir ceritanya. Ia hanya menikmati saat-saat itu, dimana ia bisa memandang wajah Via lebih lama. Memperhatikan gerak bibir tipis merah mudanya, mata dengan bulu lentiknya dari samping, gelombang poni di kening yang mempercantik wajah tanpa makeup itu. Sesekali Adit menghirup wangi tubuh Via yang terus membuatnya rindu.

Via melirik kearah Adit untuk melihat apakah dia telah tertidur atau belum. Tangannya sesekali mengusap lengan Adit yang tengah memeluknya di perut.

Semakin lama, mata Adit semakin berat, dan akhirnya menutup perlahan.

Via mendapati Adit telah menutup mata dan tertidur. Ia menghentikan dongeng yang dibacanya, lalu menyamankan posisinya tidurnya dan menyusul Adit kedalam mimpi.

***

Hari yang cukup berat untuk Adit...

Dear Boss's DaughterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang