Ditempat lain, Bu Tari membalik-balikan badannya di atas ranjang. Ia tampak tak tenang dan tak bisa memejamkan mata. Tingkahnya itu ternyata mengganggu Pak Andi yang tengah berusaha untuk beristirahat setelah seharian tadi ia sangat stress dengan kondisi di kantor.
"Mama kok gerak-gerak terus sih. Papa gak bisa tidur nih.."
"Papa ini kebangetan deh! Masa anaknya lagi sakit di hotel, kamu malah santai tidur.."
Pak Andi kemudian berbalik menghadap ke Bu Tari yang terlihat sangat khawatir.
"Sudah lah kamu gak perlu terlalu cemas. Sudah ada Adit disana yang menjaganya. Adit pasti merawat Via dengan baik. Kamu jangan menyiksa diri sendiri seperti ini.. percayakan anak kita sama Adit. Mereka akan segera pulang setelah Via kembali sehat."
"Mike itu keterlaluan. Tega sekali dia meninggalkan Via seorang diri dalam keadaan sakit. Dasar anak gak bertanggung jawab!" Ucap Bu Tari.
"Mama gak akan pernah merestui perjodohan ini lagi. Cepat papa carikan penggantinya. Anak teman papa kan banyak yang masih lajang. Tapi pastikan anaknya baik. Jangan semodel dengan Mike. Anak manja yang egois." Bu Tari tampak sangat emosi.
"Kita sudah tidak perlu mencarikan Via calon lagi ma. Dia sudah dewasa."
"Papa mau ngajak mama ribut ya? Papa tidur sendiri saja kalau begitu. Sana ke kamar Via!"
Pak Andi tampak menahan tertawanya.
"Ih.. mama kok gitu sih sama papa.. sudah gak sayang lagi sama papa ya??"
"Pikir aja sendiri."
Pak Andi yang merasa kasihan dengan istrinya kemudian mencoba memeluk Bu Tari. Bu Tari sempat menolak pelukan suaminya, namun Pak Andi tampak sedikit memaksa yang membuat Bu Tari akhirnya pasrah masuk kedalam pelukan hangat suaminya itu.
"Mama gak usah menghawatirkan pasangan untuk anak kita. Dia sudah hadir di tempat dimana Via membutuhkannya saat ini."
Bu Tari tampak sedikit berfikir.
"Maksud papa? Adit?"
Pak Andi tak mejawab dan hanya melengkungkan senyumnya di samping wajah Bu Tari.
"Jadi Papa mau menjodohkan Via dengan Adit?? Iya??"
"Siapa juga yang menjodohkan, orang Via nya mau sendiri.. Bahkan mereka sudah pacaran 2 bulan lebih tanpa kita tau.."
Bu Tari tampak mencerna dalam-dalam maksud ucapan suaminya.
"Lalu papa setuju? Adit kan karyawan mu Pa.."
"Karena dia adalah karyawan Papa, Jadi Papa lebih tau banyak tentang dia dari pada Mama. Dan Papa yakin Adit orang yang tepat untuk Via."
Bu Tari tampak diam dan kembali berfikir.
"Kamu tau nggak, hari ini dia rela terbang jauh-jauh dari Palembang ke Jogja hanya untuk menjemput Via yang sedang sakit dan ditinggal sendirian oleh Mike. Dia rela meninggalkan tanggung jawab penting yang Papa berikan kepadanya hanya untuk memastikan anak kita selamat."
"Lalu Papa nggak marah gitu melihat Adit meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja?" Ucap Bu Tari.
"Di Palembang Adit dikelilingi oleh orang-orang yang berkompeten seperti dirinya. Alasan kenapa Papa menjadikannya penanggung jawab, hanya Karena Adit adalah orang kepercayaan Papa untuk menangani proyek itu. Sebenarnya banyak orang lain yang kompeten untuk menduduki posisi itu selain Adit. "
Bu Tari tampak memperhatikan penjelasan suaminya itu dengan seksama.
"Dia sempat menelepon Papa untuk meminta ijin menjemput Via. Awalnya Papa ingin marah kepadanya karena papa juga sedang stress waktu itu. Tapi papa menyadari, bahwa harta yang paling berharga untuk Papa adalah Via, dan Papa membutuhkan orang yang paling Papa percayai untuk menjaga harta papa yang paling berharga itu. Itulah kenapa Papa lekas menyuruhnya untuk segera pergi ke Jogja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Boss's Daughter
RomanceCerita ini disusun dengan alur yang ringan-ringan saja. Tak ada melow yang berlebihan. Dan endingnya pun bisa ditebak layaknya cerita romance pada umumnya. Selama on going, part diupload random saja selama saya ada waktu ditengah kesibukan silaturah...
