"Yasudah kalau begitu bibi pamit dulu. Awas kamu Dit kalau ngomong macem-macem lagi. Pukul nanti!"
Setelah suasana kembali tenang, bibi Maya teringat akan kebutuhan suaminya yang belum sempat ia belikan. Segeralah ia pulang setelah berpamitan terlebih dahulu. Kini tinggal Adit dan Via di apartemen itu. Via berpindah tempat duduk agar bisa berdampingan dengan Adit di sofa yang lebih pendek.
Via hanya duduk sembari pandangannya mengamati setiap sisi apartemen Adit. Tempat yang cukup bersih untuk tempat tinggal seorang pria lajang. Perabotannya lengkap dan banyak hiasan yang ditata rapi di beberapa sudut ruangan. Sangat nyaman dan tenang untuk ditinggali seorang diri.
Tak ada tanggapan dari Adit. Ia hanya diam dan membiarkan Via melihat seluruh isi ruangan itu yang apa adanya.
"Yang, kamu udah beli bahan buat masak belum.." Ucap Via memecah keheningan diantara mereka bedua.
Adit tetap diam dan tak menjawab pertanyaan Via. Merasa ada yang aneh dengan kekasihnya itu, Via memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah Adit dengan lebih jelas. Namun tetap tak ada tanggapan dari Adit. Di dekatkannya sedikit wajah cantiknya itu. Dan Adit merespon dengan menarik wajahnya sedikit menjauh. Terlihat wajah Adit semakin tegang dan matanya bergerak-gerak seakan mengawasi tingkah Via kepadanya.
"Kamu gugup ya.." Bisik Via di dekat wajah Adit.
Seketika tawa Via pecah hingga tubuhnya terjatuh ke sandaran sofa di belakangnya. Tak tahan ia menahan tawa melihat wajah Adit yang semakin memerah saat wajah mereka saling berdekatan.
"Siapa juga yang gugup. Biasa aja." Ucap Adit yang mencoba berbohong ditengah warna wajahnya yang sudah semakin memerah.
Via kemudian mendekap lengan Adit dan menyandarkan kepalanya di bahu pria yang masih setia dengan celana pendeknya itu.
"Yasudah kita ke pasar dulu yuk. Aku mau masak semur daging buat makan siang kita nanti. Kamu suka semur daging kan?"
Adit hanya mengangguk, dan tak mampu menengok wajah Via yang masih berada di bahu nya.
"Sudah lah jangan gugup terus, aku gak bakal ngapa-ngapain kamu kok. Kamu tenang aja.. hihi.."
"Aku gak gugup kok."
"Terus?"
"Aku hanya belum pernah berdua di rumah dengan perempuan seperti sekarang."
"Ooo.. gitu.. yasudah berarti mulai sekarang aku akan membiasakanmu. oke.."
Via mengerlingkan matanya saat Adit meliriknya. Senyum Adit sedikit terlukis di pipinya. Degub jantungnya sudah tak sekencang tadi. Dan ekspresinya sudah terlihat lebih tenang.
"Aku ganti baju dulu." Ucap Adit yang lekas melepaskan dekapan Via pada lengannya.
***
Via tampak cukup lihat dalam berbelanja. Ia paham cara membedakan bahan makanan yang masih segar dan tidak. Via pun tau harus pergi kemana saat ia ingin membeli bahan yang ia butuhkan.
"Semuanya berapa bu?"
"30 ribu neng."
Segera ia keluarkan uang pecahan puluhan dari dompetnya, dan membawa barang belanjaannya pergi untuk mencari bahan makanan yang lain.
"Kamu kok nggak nawar?" Tanya Adit.
"Bukannya sok kaya ya yang.., aku sama mama memang nggak pernah nawar kalau belanja di pasar. Selama harganya masih wajar dan barangnya masih bagus, kita akan bayar tanpa harus menawar lagi. Kata mama, itu salah satu bentuk penghargaan dari pelanggan saat penjualnya masih mempertahankan kualitas produk yang ia jual."
Adit tersenyum mendengar ucapan Via itu. Tatapan matanya semakin dalam memandang wajah kekasihnya yang masih asik menyebarkan pandangannya untuk mencari bahan lain yang ia butuhkan. Via yang merasa sedang diperhatikan, balik menatap Adit yang masih tak berpaling.
"Sekarang kamu yang bikin aku gugup. Tanggung jawab!" Ucap Via yang membuat Adit sedikit tertawa.
"Aku harus gimana?" ucap Adit.
"Bawain kantong belanjaan."
Via menyerahkan plastik belanjaan di tangannya kepada Adit walaupun di tangan Adit telah ada dua plastik belanjaan yang tadi mereka beli. Kemudian Via menggandeng lengan Adit yang telah mengencang akibat beban yang di bawa.
"Bilang aja mau gandengan.."
"Ih baru sadar.. dasar lola.." Ucap Via yang segera menarik lengan adit yang digenggamnya kearah penjual Tahu di salah satu sudut pasar.
Adit pun hanya tersenyum lebar melihat tingkah kekasihnya itu.
Via memilih beberapa balok tahu yang terendam di dalam sebuah baskom yang cukup besar. Ia sempat memprotes si penjual saat ia temui ada beberapa tahu yang mulai amis dan lengket pertanda tahu itu sudah tak segar lagi. Si penjual tertawa saat ia merasa ketahuan.
"Istri bapak teliti juga. Pasti Chef ya?" Ucap penjual itu.
Adit hanya tertawa mendengar ucapan penjual tahu itu. Dan Via hanya tersenyum sembari menatap wajah Adit yang terlihat puas.
Setelah dirasa semua bahan telah terbeli, mereka beranjak keluar pasar dan menuju ke parkiran mobil.
"Yang, beliin aku itu yah.." Via menunjuk pedagang kue putu yang sedang menjual dagangannya di sudut parkiran mobil.
"Kamu suka kue di pasar??" Tanya Adit heran.
"Iiihh.. kamu kok seperti meremehkan gadis cantik ini ya?? aku suka banget jajanan pasar tau.. Mama selalu membelikanku kue-kue semacam itu kalau kami ke pasar. Rasanya gak kalah sama makanan-makanan mahal.. bahkan ada beberapa yang lebih enak..
Mereka segera menghampri pedagang kaki lima tersebut yang tengah menata tumpukan putu didalam tanakan yang biasa digunakan untuk menanak nasi. Kebulan asap dan aroma khas nya membuat Via ingin segera memakan kue khas Jawa itu selagi masih hangat.
Dipesannya seporsi kue putu. Dan dalam sekejap ludes tak tersisa dimakan oleh mereka berdua.
"Yang, mau lagi.." Ucap Via dengan ekspresi memelas. Dan di iyakan oleh Adit.
Dipesannya satu lagi, satu lagi, dan lagi. Hingga tak terasa mereka telah menghabiskan 5 porsi kue putu. Bibir mereka sedikit belepotan karena cairan gula merah yang keluar dari dalam kue saat digigit.
"Mau pesan lagi neng?" Ucap pedagang kue itu.
"Yang..."
"Cukup. Sudah hampir siang. Nanti kamu gak masak-masak lagi. Kita kan belum makan nasi dari pagi."
---------------------------
Mereka berdua doyan banget jajanan pasar ternyata.. Hm ada ya orang kaya gitu..
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Boss's Daughter
RomanceCerita ini disusun dengan alur yang ringan-ringan saja. Tak ada melow yang berlebihan. Dan endingnya pun bisa ditebak layaknya cerita romance pada umumnya. Selama on going, part diupload random saja selama saya ada waktu ditengah kesibukan silaturah...
