Happy reading !
Keadaan mulai berubah,semenjak Merin sembuh dari kelumpuhannya. Mulai dari penampilannya yang fashionable hingga tidak ada lagi alat bantu untuk berjalan. Merin bahagia dengan dirinya yang sekarang ini.
Mamanya dan Alfanpun masih belum percaya dengan takdir Tuhan yang diberikan kepada Merin. Tetapi mereka bersyukur karena diberi kebahagiaan kecil.
"Kalian mau pesen apa?Gue traktir."ucap Merin.
"Serius lo? Yeayy."ujar Salsha kegirangan.
"Gue mie ayam 1 sama es jeruk aja deh."ujar Fanya.
"Gue mie goreng 1 sama milkshake strawberry."ucap Salsha.
Merinpun berjalan ke arah penjual kantin dan menyebutkan pesenannya. Aroma coklat terasa menyeruak di hidung Merin. Ia pun menoleh ke sampingnya,tidak ada siapapun. Lalu ia memutarkan badannya hingga menabrak dada bidang seseorang,Melvin. Merin merasa sangat gugup dan membalikkan badannya lagi.
"Bantuin gue."bisik Melvin tepat di telinganya.
"Apa?"
"Gue pengen minta maaf sama Varo."bisiknya lagi.
"Kenapa?"
"Karena gue udah nyakitin adiknya."ucap Melvin pelan dengan lirihannya. Kemudian Melvin mengambil makanannya dan berjalan menuju mejanya. Merin masih terdiam di tempatnya,apa maksud Melvin?
"Neng,ini makanannya."
"Eh,iya bu. Ini uangnya,kembaliannya ambil aja."ucap Merin membawa nampan makanannya menuju ke meja tadi. "Nih makanannya."
"Tencuu Merin."ucap Salsha.
Fanya sedari tadi diam saja,entah apa yang dipikirkannya.
"Fan? Kenapa?"tanya Merin.
"Gapapa kok dor."ucap Fanya mulai melahap makanannya .
"Udah prepare belum?kan lusa mau camping."tanya Salsha.
"Kalo gue belum. Lo Fan?"jawab Merin.
"Gue juga belum."ujar Fanya.
"Telat kalian mah. Gue sih udah dari lama haha."ucap Salsha.
"Tumben lo haha. Fan,kita ke PI yuk nanti! Mau beli barang2."ucap Merin.
"Oke."
Merin masih bingung,sebenarnya Fanya ini kenapa? Kenapa mendadak cuek dan diam saja?
Plaza Indonesia
Merin dan Fanya pergi ke Mall untuk membeli peralatan untuk camping. Fanya masih saja setia dengan diamnya.
"Fan,jujur sama gue. Lo daritadi kenapa?"tanya Merin.
"Maafin gue Rin. Maaf."
"Kenapa?"
"Gue ada masalah."jawab Fanya.
"Lo boleh cerita kok."
"Lo lebih mentingin keselamatan sahabat lo atau kejayaan usaha yang udah lo buat dari nol?"tanya Fanya.
"Jelas lah gue lebih mentingin sahabat. Gak masalah kalo gue kehilangan karir gue,yang terpenting adalah sahabat gue yang selalu ada buat gue. Karena karir bisa dimulai dari nol."jelas Merin.
Fanya memahami perkataan Merin perlahan. Ada benarnya,namun haruskah?
"Thanks. Lo emang sahabat gue."ujar Fanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MERVIN ( COMPLETE )
Roman pour AdolescentsAntara senja dan pelangi, siapa yang paling berpengaruh dalam kehidupan? "Senja selalu hadir setiap hari membawa warna jingganya yang tenang. Tidak seperti pelangi yang hadir hanya sesaat meskipun membawa banyak warna. Gue pikir lo kayak senja yang...
