Happy reading !
Pagi hari ini,mentari yang cerah menyinari gedung Britania SHS. Pantulan cahaya mentari itu membuat seorang gadis ikut tersenyum cerah. Siapa lagi kalau bukan Merin.
Merin tersenyum disepanjang perjalanannya menuju kelas. Sebenarnya Merin kenapa? Fanya dan Salsha juga bertanya-tanya.
"Lo kenapa deh Rin?"tanya Salsha.
"Kesambet ya lo?"tanya Fanya.
"Kesambet cintanya kak Melvin hihi."jawab Merin.
"Dasar lo."
Khusus untuk hari ini,Merin membawa dua bekal yang masing-masing memiliki warna yang sama,yaitu biru. Merin tidak sabar untuk memberikan bekalnya itu kepada kekasihnya. Kekasih?haha.
Pelajaran dimulai dengan suasana tenang. Tidak ada suara dari para murid,hanya ada suara guru yang sedang berbicara menjelaskan materi. Hening melanda,semangat mereda,semua merasa bosan memperhatikan guru yang masih saja berceloteh di depan kelas.
Budi,anak itu mencoba untuk membuka matanya selebar mungkin. Dibantu Ucup yang memasang isolasi di atas mata Budi agar tidak terpejam. Namun semua rasa kantuk itu kandas,bersamaan dengan bunyinya bel istirahat.
Semua murid berhamburan keluar,ada yang ke kantin,ke taman,hingga ke tepi lapangan. Merin juga sudah siap untuk keluar kelas menemui Melvin dengan membawa 2 kotak makanan.
"Hai."sapa Merin kepada Melvin dan teman-temannya tak terkecuali Varo.
"Kita ke kantin dulu ya."ucap Fanya yang menyikut lengan Varo agar paham dengan maksudnya.
"Oh iya,gue udah laper. Kita ke kantin ya,kalian berdua nyusul aja."ucap Varo yang sudah berjalan ketika tangannya ditarik oleh Fanya.
"Aku bawa bekal buat kamu."ucap Merin membuyarkan pandangan Melvin. Melvin menatap Merin dalam dan pandangannya beralih ke dua kotak makanan berwarna biru. Melvin mengambil kotak makanan itu dan tersenyum seraya mengusap rambut Merin.
"Makasih. Ayo ke kantin!"ucap Melvin dengan menggandeng tangan Merin.
Teman-teman mereka sudah berada di kantin. Melvin dan Merin ikut menghampiri keenam temannya. Melvin membuka kotak makan dari Merin tadi dan mencoba untuk mencicipinya.
"Gimana?"tanya Merin.
"Lumayan. Walaupun enak yang Dania masak waktu itu."ucap Melvin tanpa sadar.
"Oh."ucap Merin singkat dan mencoba untuk tersenyum lagi. Ia mengurungkan niatnya untuk memakan bekalnya. Fanya dan Varo menyadari perubahan ekspresi dalam diri Merin.
"Jangan fake smile. Ngerti?"ucap Varo tajam. Ia tidak suka jika adiknya itu selalu tersenyum walaupun perasaannya hancur lebur.
"Bego lo Vin."celetuk Hildan.
"Kenapa?"tanya Melvin.
"Lo nyebut nama mantan saat lo lagi sama pacar lo. Bahkan lo muji mantan lo di depan pacar lo sendiri."ucap Fanya.
"But its fact."jawab Melvin.
"Setidaknya aku udah berusaha masak makanan ini selama 2 jam tanpa membohongi kamu dengan memesan makanan dari restoran ternama."ucap Merin dengan suara bergetar,namun ia masih bisa tersenyum. Varo heran,mengapa adiknya bisa tersenyum disaat yang seperti ini.
"Kalau gak enak,gak usah dimakan. Dibuang aja."ucap Merin mengambil bekal yang dimakan Melvin dan membuangnya ke tong sampah. Merin berlari ke arah belakang sekolah.
"Lo! Udah gue ingetin berapa kali sih hah?"ucap Varo yang ingin menghajar Melvin namun ditahan oleh Hildan dan Arkan.
"Maaf."ucap Melvin.
"Minta maaf ke Merin kak. Asal kak Melvin tau,bekal yang Dania bawa ke sekolah dan diberikan ke kakak itu hasil dari dia beli di restoran mahal. Jadi wajar aja rasanya enak. Kakak juga harus tau kalo Merin berusaha buat kakak seneng dengan masakannya ini,dia udah masak selama 2 jam untuk hasil yang mendekati nilai sempurna. Merin lebih jago masak daripada Dania,Merin melakukan itu agar usahanya dapat membuahkan hasil. Tapi kakak apa? Malah banggain Dania daripada Merin."ucap Fanya panjang lebar. Melvin mendongakkan kepalanya dan kemudian pergi mencari Merin. Ia sangat merasa bersalah kepada Merin.
Melvin mengelilingi seluruh ruangan di sekolah ini namun tak kunjung menemukan Merin. Ia berlari ke arah gedung baru milik Britania SHS.
Merin sedang menangis,ia menangis dan mengusap kasar airmatanya. Melvin mendekati Merin dan memeluknya dari belakang.
"Maafin aku pie. Aku gak bermaksud nglakuin itu ke kamu. Maafin aku. Aku udah tau semuanya. Maafin aku."ucap Melvin dengan suara paraunya.
Melvin membalikkan tubuhnya agar berhadapan dengan Merin. Gadis itu sangat terluka karenanya. Melvin mendekap tubuh mungil itu dengan erat.
"Maafin aku. Aku khilaf. Masakan kamu jauh lebih enak daripada masakan restoran. Besok buatin aku sosis saos tiram. Nanti bakal aku habisin."ucap Melvin seraya mengusap pipi Merin dan menghapus sedikit air mata yang telah jatuh.
"Aku bukan kantin."jawab Merin.
"Ya belajar terbiasa buatin aku bekal. Nanti juga kamu bakalan masakin aku dan anak-anak kita setiap hari."
"Kak Melvin ihh. Apaan sih."ucap Merin tersipu malu. Melvin tertawa kecil dan kembali mendekap tubuh gadisnya itu.
"Kak Melvin tau gak?"
"Apa?"tanya Melvin.
"Dania itu sebenarnya pacaran sama kakak cuma mau uangnya aja. Dia jarang diberi uang lebih untuk shopping,karena dia pemboros."ucap Merin.
"Aku sudah menebak itu."jawab Melvin. Dugaannya tidak pernah meleset. Dania memang sedang ingin menguras dompetnya.
"Dania punya dendam sama aku kak. Walaupun dia gak pernah nunjukin itu semua. Tapi aku tau rasa dendam itu masih ada."ucap Merin.
"Dendam apa?"tanya Melvin.
"Kakak akan tau,tapi gak sekarang."ucap Merin.
Melvin baru mengetahui hal ini. Ia kira Dania tidak akan sejahat itu. Tapi,apa yang membuat Dania dendam? Rasa penasaran Melvin tiba-tiba meningkat.
"Bel udah masuk kak."ucap Merin membuyarkan lamunan Melvin.
"Hah?oh iya. Ayo aku antar."ucap Melvin yang sudah berdiri di depan Merin. Merin tersenyum dan langsung menggandeng tangan Melvin tanpa diminta.
Terkadang memaafkan kesalahan itu sulit walaupun kesalahan itu kecil. Namun, ketika kita dihadapkan pada perasaan. Kesalahan hanyalah sebutir biji dibanding dengan perasaan sayang.
To be continued
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca 🌟🌟
Thanks for reading ❤
KAMU SEDANG MEMBACA
MERVIN ( COMPLETE )
Fiksi RemajaAntara senja dan pelangi, siapa yang paling berpengaruh dalam kehidupan? "Senja selalu hadir setiap hari membawa warna jingganya yang tenang. Tidak seperti pelangi yang hadir hanya sesaat meskipun membawa banyak warna. Gue pikir lo kayak senja yang...
