Terbiasa tanpamu itu bukanlah kebiasaanku. Jadi tolong, jangan membuatku melakukan hal yang menyebalkan itu.
*****
Kepalaku tertunduk melihat ke arah flat shoes yang aku sedang pakai sekarang. Entah mengapa sedari tadi aku sangat gelisah duduk menyendiri disini. Walaupun ada Meysa di sampingku, tetap saja gelisah. Mengapa Bang Revo lama sekali, sih? Padahal ia tadi hanya meminta ijin untuk membeli minuman.
Aku melirik ke arah Meysa yang sedang fokus dengan buku materi fisikanya. Iya benar, Bu Dewi telah memutuskan untuk menggantikan Kevin dengan Meysa di olimpiade nanti, karena memang di kelas Meysa anak terpintar di kelas setelah Kevin dan aku.
Sebelumnya Meysa memang sudah menolak karena kita mengajaknya mendadak seperti ini, tapi karena ini menyangkut sepupunya juga yaitu Kevin, akhirnya ia rela untuk menggantikannya. Untung saja tadi pagi Bu Dewi belum membeli tiketnya karena selalu sibuk, jadi Bu Dewi baru membeli tiketnya tadi siang, dan akhirnya mengatasnamakan aku, Bu Dewi, dan tentu saja Meysa.
"Mey, jangan dipaksain gitu, nanti di Jogja juga bisa bacanya," ujarku khawatir, karena terlihat dari wajah Meysa dia belajar dengan sangat fokus, aku takut ia jadi stress kalau dipaksa seperti itu.
Meysa melirikku sebentar, "bentar Sha, gue lagi fokus!"
Aku menghembuskan napas pelan kemudian mengangguk saja, sepertinya memang Meysa tidak ingin diganggu.
"Shasa!"
Mataku melirik ke arah sumber suara yang memanggilku tadi, ternyata Bella baru datang ke bandara ini
Setelah sahabatku yang baru datang itu menghampiri ku, Bella langsung menghadiakan ku sebuah pelukan yang cukup erat.
"Semangat sahabatku!" Ucap Bella kemudian melepaskan pelukannya kembali.
"Makasih, Bella!" Jawabku sambil membalas senyumannya.
"Nanti jawabnya yang bener, Sha. Pokoknya jangan malu-maluin disana!" Tutur Bella lagi dengan nada jahil.
"Iye," jawabku sekenanya, terkadang Bella ini menyebalkan.
"Sha," panggil Bella lagi sambil menatapku dalam agar aku bisa memperhatikannya dengan serius.
Oh, ada apa ini?
"Pokoknya lu harus semangat Sha, walaupun nggak ada dia," tutur Bella yang menyebutkan kata dia di ujung kalimatnya.
"Apaan sih, Bella!" Aku memutar bola mata malas, aku tidak ingin mengingatnya saat ini. Karena itu bisa saja membuyarkan fokus otakku untuk olimpiade nanti, aku tidak mau gagal dalam olimpiade ini karena terus memikirkan Kevin.
Bella tertawa kecil, "iya deh iya."
"Bella, Rian mana?" Tanyaku baru sadar sekarang, biasanya jika di tempat itu ada Bella, pasti ada Rian juga. Tapi sekarang? Mengapa tidak ada lelaki itu?
"Rian katanya nggak bisa ikut, dia masih nyari Kevin," ujar Bella terdengar lemah.
Aku menghembuskan napas berat, ternyata sebegitu sayangnya Rian kepada Kevin sampai Rian berbuat seperti ini.
Setelah tadi pagi aku menelpon Rian kalau Kevin menghilang, Rian terus saja mencari Kevin sampai sekarang. Ah, coba saja aku bisa ikut menemani Rian mencari Kevin.
"Eh Meysa! Daritadi?"
Aku melihat Bang Revo yang sedang membawa minuman botol ke arahku. Hm, lama sekali dia, masa baru sampai sekarang?
"Nggak kok bang, aku baru aja sampe," jawab Bella dengan lembut.
"Rian mana, Bell?" Tanya Bang Revo lagi dengan pertanyaanku sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Illusion
Fiksi RemajaBagiku ilusi adalah hal yang tak bisa kumiliki, dan bagian dari ilusi itu adalah harapan dan kamu. - Marsha Agnessia Aurellia. Maafkan aku yang tak bisa menjadi orang yang kamu mau, tetapi, sekarang aku telah percaya kalau penyesalan selalu datang t...
