Chapter 62 - Sumpah

3.2K 181 46
                                        

Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu.

- Noah.

*****

Kakiku melongkah dengan pelan di koridor sekolah ini, setelah kami libur panjang kenaikan kelas, akhirnya aku pun naik ke kelas XII.

Untungnya aku tidak kesiangan seperti kenaikan kelas XI dahulu dan berujung diriku telat.

Tetapi, ketelatan itu malah membuat ceritaku dan Kevin dimulai. Hah, aku jadi senang memikirkan hal indah itu.

"Sha, kita kesana yuk! Pembagian kelas ada di mading tuh!" Ujar Bella menarikku dengan semangat ke arah mading yang nampak padat.

Karena Bella sudah memegang tanganku duluan, aku pun mengikutinya dan ikut melihat papan pengumuman. Sepertinya, aku juga perlu tahu aku akan ditempatkan di kelas mana.

Setelah sampai di depan mading dengan menerobos orang-orang, Bella mulai bertugas meneliti nama-nama siswa disana. Sementara aku sibuk meminta maaf kepada orang-orang yang Bella sengaja tabrak tadi.

Urat malu Bella ini memang sepertinya sudah putus, apa ia tidak memikirkan bagaimana pikiran orang-orang tentangnya jika ia menabrak mereka dengan sengaja seperti tadi?

"KYAAAAA AKHIRNYA GUE SEKELAS LAGI SAMA LU, SHA!!!" Bella berteriak kegirangan setelah beberapa detik melihat nama-nama di depannya.

"Iya? Di kelas mana!?" Tanyaku antusias, senang sekali rasanya bisa sekelas dengan sahabatku kembali.

"Di XII IPA 2," jawab Bella semakin semangat.

Aku mengangguk saja, sepertinya kelas itu bagus.

"Meysa juga sekelas lho sama kita! Pasti nanti gue bakalan kena marah mulu sama dia!" Bella tertawa sekilas sekaligus kecewa mengingat betapa garangnya Meysa sewaktu kami bersama-sama mencari Kevin.

Hah, apa kabarku ketika Meysa menjadi wakil ketua kelasku dulu?

Aku ikut tertawa kecil, "yaudah yuk Bell, kita ke kelas!"

"Eh tunggu!" Bella menepiskan tanganku pelan kemudian menghadap ke arah papan mading lagi.

Sementara aku langsung keluar saja dan menunggunya, karena sepertinya orang-orang di belakangku ini ingin melihat mading juga.

Toh tidak baik jika aku terus disana dan semakin menutup papan mading itu.

Dan akhirnya, setelah beberapa menit, Bella kembali lagi dengan wajah cemberutnya yang aku tidak tahu ada apa.

Bella ini kenapa?

"Kenapa, Bell?" Tanyaku bingung.

Bella mendekati diriku kemudian membisikkan kata-kata di telingaku.

Sontak setelah mendengarnya lantas aku terkejut.

Tetapi, sedetik kemudian aku menormalkan ekspresi ku kembali dan mencoba untuk tersenyum.

"Yaudah, nggak papa," kataku tersenyum untuk menyiratkan aku baik-baik saja.

"Beneran?" Tanya Bella memperjelas.

Aku mengangguk cepat, "iya, nggak papa!"

"Oke."

Bella menghembuskan napasnya sekilas kemudian tanpa aba-aba dia langsung cepat menggandengku dan beralih ke koridor kelas XII IPA untuk mencari kelas kami.

"Pokoknya kita duduk di tengah aja ya, Sha. Soalnya kalau di depan nggak bisa tidur, dan kalo di belakang nggak kedengaran," ucap Bella ketika kami sedang berjalan di koridor ini.

IllusionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang