Devan sedang bermain dengan kucing peliharaan Erlan di taman depan rumah Erlan. Sudah satu bulan lebih Devan tinggal bersama Erlan. Bastian dan Miranda sering mengunjunginya untuk mengantar baju atau makanan kesukaan Devan. Ayah dan ibu Erlan belum kembali dari urusan bisnisnya, mereka masih berada Amsterdam sampai dua bulan kedepan. Begitulah kata Erlan.
Devan belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Devan masih suka diam, tapi sudah jarang melamun.Erlan sudah terbiasa dengan sikap Devan. Apalagi saat libur semester Erlan dan Devan hanya di rumah, membuat Erlan lebih memperhatikan Devan.
Erlan keluar sambil membawa makanan kucing di tangannya. Ia akan memberikan makanan kepada kucing kesayangannya itu.
"Dev, lo kasih makan tuh kucingnya," suruh Erlan yang dipatuhi Devan.
Erlan melihat ke arah jalanan. Ia mendapati mobil yang sangat ia kenal. Dua orang yang ia kenal keluar dari dalam mobil sambil menggendong seorang anak kecil yang berusia sekitar 2 tahun.
"Tante Miranda, Om Bastian, ini siapa?" tanya Erlan yang bisa mengalihkan pandangan Devan dari kucingnya.
"Ini adeknya Devan, namanya Darren. Karena Maminya Devan nggak mau punya anak bayi, jadi kita ngadopsi yang lagi lucu-lucunya kayak gini," jelas Bastian yang berjalan lebih dulu daripada anak dan istrinya.
"Halo anak Papi yang ganteng," sapa Bastian pada Devan dan hanya dibalas dengan wajah datar oleh Devan.
Bastian tahu pasti sekarang Devan sedang marah. Karena Devan pernah bilang, ia tak mau mempunyai adik, apalagi cowok. Karena menurutnya itu hanya merepotkan.
"Devan, sini dong. Ini adek kamu mau kenalan," panggil Miranda.
Bukannya menghampiri ibunya, Devan memilih untuk meninggalkan mereka yang masih di teras. Miranda tahu jika Devan marah kepadanya karena ia tidak meminta izin untuk mengadopsi anak itu.
"Dev, tungguin Mami!" Miranda mengejar Devan.
Devan berhenti di tengah tangga karena mendengar teriak ibunya.
"Dev, please dengerin Mami dulu, Mami mau ngomong,"
Tanpa berkata, Devan duduk di sofa dengan wajah meminta penjelasan kepada ibunya.
"Dev, kamu tau kan Mami kesepian kalo nggak ada kamu? Jadi Mami adopsi Darren. Lagian kamu juga pake acara nggak mau ngomong segala, Mami kan jadi malah kesepian Dev,"
Devan hanya mendengarkan dengan serius.
"Kamu ceria lagi dong Dev, biar Mami sama Papi nggak kesepian lagi,"
"Kamu tau nggak? Sekarang hidup Mami terasa kosong karena kamu berubah,"
"Mami janji deh, kalo Kenzo nanti udah balik Mami akan ajak kalian semua liburan ke Korea. Kata kamu Blackpink cantik kan? Kata Papi juga gitu,"
"Ish Devan! Diajakin ngomong nih, masa diem aja. Emangnya Mami ngomong sama sofa apa?"
Tiba-tiba Darren berlari ke arah kedua orang di ruang tamu. Disusul Bastian dibelakangnya bersama Erlan.
"Mi, ini Kak Devan ya?" tanya anak itu riang.
"Iya, itu kamu kenalan gih," suruh Miranda.
"Hai Kak, kenalin aku Darren." Darren mengulurkan tangannya.
"Apaan sih lo," sewot Devan.
"Ya ampun! Devan ngomong Pi!" heboh Miranda.
"Dev, jangan gitu sama adeknya," tegur Bastian.
"Nggak apa-apa. Tapi aku tetep sayang kok sama Kakak," Darren tersenyum senang.
Miranda dan Bastian bersyukur karena tidak salah memilih Darren. Anak itu selalu ceria apapun keadaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE LOST TIME
Fiksi Remaja"Mulai sekarang nama Adrian akan ditambah dengan Nugraha di belakangnya". Kata Ilham. "Tidak, aku tidak akan menerimanya. Dia bahkan bukan anak kandung papa". Kenzo meninggalkan Ilham sendiri di ruang tamu. Kenzo sudah muak dengan semua ini. Akank...
