06

14.6K 520 5
                                    

Allisya menghela napas, kemudian membasuh wajahnya. Diperhatikannya dirinya di cermin toilet. Dia kembali teringat dengan tatapan Devan tadi.

Allisya sengaja pergi dari sana dengan alasan ke toilet, karena dia tak mau Devan terus menatapnya seperti itu. Yah, sebenarnya Allisya memang sudah terlebih dahulu sadar jika Devan terus menatapnya. Ia kembali menghela napas panjang sebelum akhirnya memutuskan keluar dari toilet.

"Heh cabe! Sini lo!" Baru saja selangkah ia keluar toilet, sudah ada Vika beserta antek-anteknya yang menghadangnya.

"Ck! Mau apa sih lo? Gue ga pernah lagi ya cari masalah sama lo." Allisya sudah bosan berurusan dengan Vika.

"Ga pernah lagi? Hah! Guys kasih tau kesalahan dia." Vika dengan gaya sok berkuasanya menyuruh Mela, salah satu antek-anteknya maju.

"Siap princess Vika!" Allisya memutar bola matanya mendengar itu.

"Heh! Denger ya, lo tuh pura-pura ga ngerti atau gimana sih? Lo tuh udah ngedeketin Andra, yang jelas itu udah salah." Jelas Mela.

"Tuh denger! Sebenernya apa sih mau lo hah?! Dulu lo ambil Devan dari gue, sekarang Andra. Dasar cabe!" Vika melipat kedua tangannya.

"Apaan? Gue deketin Andra? Heh! Asal lo tau ya, selama ini dia yang ngedeketin gue. Sorry aja nih ya, gue bukan kaya lo, yang kegatelan sama semua cowok. Dasar cabe perempatan. " Allisya meremehkan.

"Apa lo bilang?" Wajah Vika kini memerah menahan amarah.

Plakk...

Satu tamparan dilayangkan Vika pada pipi kanan Allisya. Allisya meringis sambil memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan itu. Ia memandang Vika tajam.

"Kenapa? Mau bales hah?! Dasar bitch!!" Ucap Vika dengan seringainya.

"Bitch teriak bitch!!"

Plakk...

Allisya membalas tamparan Vika. Dengan senyum meremehkan.

"Lo pikir gue ga berani bales lo hah?? Lo pikir lo siapa?? Maaf yah, disini kita sama-sama pelajar." Allisya berlalu dari hadapan Vika.

Belum ada dua langkah ia berjalan, rambutnya sudah ditarik oleh Mela membuatnya meringis.

"Akhh... Lepas bangsat!" Rintihnya sambil mencoba melepaskan tangan Mela dari rambutnya.

"Kenapa? Sakit ya? Ouhh kasian banget deh. Guys, coba liat deh yang katanya badgirl disekolah kita, kok baru diginiin aja udah kesakitan gini yah, hahaha." Vika tertawa puas bersama 3 anteknya yang lain, tak terkecuali Mela.

Allisya hanya memandang mereka tajam, dengan rambutnya yang masih ditarik kuat oleh Mela.

Vika bersiap-siap hendak melayangkan kembali tamparan pada pipi Allisya, namun sebuah tangan menahannya.

"Sekali lagi lo tampar dia, lo bakal terima akibatnya." Allisya mendongak, mencoba menatap siapa orang itu. Suaranya terdengar familiar ditelinganya.

"De-devan?" Vika tergagap ketika Devan menatapnya dengan tatapan membunuh.

"Guys, cabut!" Vika memberi kode pada ketiga temannya dan segera berlalu dari sana.

"Lo gapapa?" Devan bertanya pada Allisya yang sedang merapikan rambutnya yang kusut.

Allisya hanya diam tak menjawab. Ia memberanikan diri untuk menatap Devan.

"Thanks." Setelah mengucapkan itu, Allisya langsung pergi meninggalkan Devan yang masih terus menatapnya, dengan penyesalan dalam hati.

Troublemaker [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang