17

9.7K 313 5
                                    


Pagi ini Allisya datang lebih awal. Entah apa yang merasukinya hingga gadis itu bisa bangun lebih cepat dari biasanya. Gadis itu mengeluarkan novelnya dari dalam tas. Saat sedang fokus membaca, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.

"Hai!" Allisya menoleh dan mendapati Venus yang sudah berada disebelahnya sedang tersenyum, sedangkan ia hanya membalasnya dengan senyuman tipis.

"Masih pagi, udah novel aja yang dipantengin. Buku tuh dibaca biar pinter."

"Suka-suka dong!"

"Hm... Oh ya, gue mau tanya sesuatu boleh?"

"Selagi bukan pertanyaan yang aneh-aneh sih."

"Lo ada hubungan apa sama Devan?" Tanya Venus sedikit ragu.

"Memang kenapa?" Allisya bertanya balik.

"Ya gak kenapa-napa sih, cuma pengen tau aja." Allisya mengangguk. Tiba-tiba ia teringat dengan rasa penasarannya kemarin yang ingin tahu apakah Devan dan Venus sudah mengenal lama.

"Eh iya, lo kenal Devan?"

"Ya gitu deh." Venus tersenyum tipis.

Allisya manggut-manggut saja. Saat ingin membuka suaranya kembali, Allisya dikejutkan dengan Devan yang muncul dengan tiba-tiba.

"Lisya! Temenin kantin yuk! Laper belum sarapan tadi!" Tiba-tiba saja Devan berbicara dengan nada manja membuat Allisya mengernyit.

"Sehat Van?"

"Alhamdulillah sehat, Yang! Udah yuk kantin, tau sendiri kan ART dirumah aku lagi pulkam, mama juga belum pulang kesini. Jadi ga ada yang masak, hehe." Rengek Devan manja. Dia tak menghiraukan tatapan kesal Venus yang dilayangkan padanya. Diam-diam Devan menyeringai.

"Ck! Kan bisa---"

"Ah udah deh! Lama!" Devan langsung menggendong Allisya ala bridal style membuat gadis itu memekik.

"Devan! Lepas!!" Berontaknya memukul dada bidang itu. Devan tak peduli, dia tetap membawa Allisya keluar kelas.

"Awas aja! Gue bakal dapetin lisya gimanapun caranya!" Venus mengepalkan tangannya kemudian menyeringai licik.

-

Devan masih saja menggendong Allisya tanpa memperdulikan pemberontakan dari gadis itu. Koridor yang tadinya tampak sepi kini menjadi ramai saat Devan dan Allisya melewatinya. Banyak bisik-bisik dari siswa-siswi ketika melihat Allisya yang digendong Devan ala bridal style.

'Ehh, liat tuh Devan sama lisya!'

'Kyaa! Gue mau dong digendong sama kak Devan'

'Ya ampun mereka so sweet banget!'

'Masih pagi elah, udah mesra-mesraan'

'Astaga! Cocok banget mereka!'

'Satu cantik satu lagi ganteng, pas udah'

'Hilang dah harapan gue deketin lisya'

Begitulah kira-kira bisikan para murid namun tidak mereka pedulikan.

"Devan! Sumpah lo rese banget!" Rutuk Allisya ketika Devan sudah menurunkannya dikantin.

"Abis lo lama sih. Gue itu udah laper banget, ntar yang ada bel bunyi lagi kalo harus debat dulu." Kata Devan membela diri. Ia lalu pergi untuk memesan makanan. Tak lama, Devan kembali dengan nampan berisi 1 piring nasi goreng dan segelas teh hangat.

"Udah sarapan?" Devan bertanya pada Allisya.

"Udah tadi."

"Suapin dong." Devan menyodorkan piring nasi gorengnya pada Allisya.

Troublemaker [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang