"Dira!! Tunggu dulu!"Nadira mendengus, kemudian menghempas tangannya yang di cekal oleh Refal.
"Ck! Apalagi sih?!"
"Dengerin gue dulu, lo salah paham."
Nadira tertawa sinis, "Salah paham? Saat gue ngeliat lo gandengan sama cewe lain, pelukan sama cewe lain, apakah itu masih bisa disebut salah paham?"
Refal menghela nafas, "Dir, please. Dengerin gue, gue sama Tiara ga ada hubungan apa-apa. Dia cuma temen gue waktu masih di Bandung. Tiara datang kesini buat liburan, dan gue ga sengaja ketemu dia. Itu aja."
"Oh, jadi namanya Tiara." Nadira mengangguk saja.
Nadira yang dikenal kalem, sangat berbeda dengan Nadira saat ini. Senyum manis yang biasa ia tunjukkan kini berubah menjadi senyum sinis.
Ia berbisik, "Kebetulan? Terus kenapa dua hari belakangan ini selalu jalan bareng?"
Refal tampak terkejut, "Lo harus dengerin gue. Gue---"
"Stop Refal! Gue ga mau denger apapun lagi. Lo tau kan kalo gue paling benci dibohongi?" Nadira berteriak muak.
"Gue tau itu. Dan gue, sama sekali ga pernah bohongin lo. Tolong percaya itu."
Nadira tertawa kemudian menatap Refal tajam, "Percaya? Gimana caranya gue bisa percaya kalau lo sendiri buat gue lupa gimana caranya untuk percaya!"
Refal mengacak rambutnya. Astaga, kenapa sulit sekali untuk membuat Nadira agar kembali percaya kepadanya?
"Udah? Sekarang giliran gue. Kenapa? Kenapa lo ga mau percaya sama penjelasan gue? Apa lo pikir gue bohong? Lo mulai ragu sama gue? Ingat baik-baik, Dira. Jangan pernah samakan gue dengan cowok brengsek kayak mereka. Karena gue, ga akan pernah bisa buat bohong sama lo. Gue disini untuk memperbaiki kembali kepercayaan lo yang udah rusak, bukan untuk menambah ketakutan lo."
Nadira terdiam cukup lama. Astaga, kenapa dia tiba-tiba jadi sensitif begini sih? Ia terlalu larut dalam ketakutannya akan kebohongan.
"Maaf. Gue terlalu trauma untuk hal yang kayak gitu. Sampai-sampai gue lupa, bahwa gak semua orang yang ga bisa untuk gue percaya."
Refal tersenyum, "Gapapa, gue tau ketakutan lo."
Nadira ikut tersenyum.
***
Gadis itu menarik nafas dalam-dalam, menghirup udara segar yang sudah lama tidak ia rasakan selama beberapa hari. Menatap indahnya langit berwarna biru. Meskipun ia harus duduk di kursi roda.
"Uhh, rasanya kangen banget gue sama udara luar. Biasanya kan yang gue hirup bau obat-obatan."
"Lebay lo."
Allisya langsung menoleh, menatap Devan tak terima. Sementara yang ditatap seperti itu, hanya menatapnya polos.
"Eh, gimana kalau hari ini gue pulang aja? Gue bosen disini. Kangen sama kamar kesayangan gue." Allisya tersenyum cerah, membayangkan kamarnya yang sudah beberapa hari ini tidak ia tempati.
"Apaan? Nggak! Lo masih sakit." Devan langsung menolaknya.
"Apa sih? Ini kan udah hari ketiga semenjak gue sadar. Jadi gue udah kuat deh, serius."
Devan menggeleng tegas, "Enggak ya tetep nggak."
Allisya berdecak, "Ck! Ngeselin. Lebay lo." Ia membalikkan kata-kata Devan padanya tadi.
Melihat wajah cemberut gadis itu, membuat Devan terkekeh kemudian mencubit pipinya yang langsung ditepis oleh Allisya.
Bicarakan ini baik-baik, oke?

KAMU SEDANG MEMBACA
Troublemaker [Completed]
Fiksi RemajaCantik? Banget! Pintar? Pasti! Badgirl? Tentu saja! Kalimat itu cocok untuk mendeskripsikan sosok gadis bernama Auristella Allisya Lesham. Gadis ceria namun urakan yang selalu membuat masalah disekolanya. Ruang BK ada tempat favoritnya. Keliling la...