Laki-laki itu bersedekap dada, bersandar di pintu mobilnya. Senyuman sinis terukir di wajah tampannya. Tatapannya tak pernah lepas dari arah depannya. Seolah, ada sebuah tontonan menarik disana.Memang benar, ada sebuah tontonan menarik disana. Dimana tepat dihadapannya, seorang gadis diseret paksa keluar dari rumahnya oleh beberapa orang berseragam polisi.
"Lepasin!" Gadis itu terus memberontak, berusaha lepas dari para polisi itu, padahal tangannya sudah di borgol.
"Argh! Awas lo, Devan!"
Lagi-lagi Devan hanya tersenyum sinis, seolah tak peduli dengan tatapan tajam Salsa yang lewat dihadapannya.
"Itu hukuman atas semua yang udah lo perbuat."
Sama sekali belum menyerah, Salsa terus saja memberontak. Berusaha kabur dari polisi-polisi itu. Namun gagal. Dan kini, polisi tersebut telah membawanya masuk kedalam mobil polisi. Membawanya pergi ke tempat yang sangat dibencinya.
Devan tersenyum puas, setelah mobil polisi itu pergi dari hadapannya. Membawa seseorang yang telah berani menyakiti gadisnya. Dalam hati, ia sangat berterimakasih pada Venus. Bukti itu banyak membantunya.
'Udahlah, gue juga ga berharap buat dimaafin untuk temen sejahat gue.'
Tiba-tiba, Devan teringat dengan ucapan Venus saat itu. Ia terdiam sebentar. Jika dipikir ulang, Venus sudah banyak berubah sekarang. Seperti-- lebih baik dari sebelumnya. Sekarang, Venus tidak pernah lagi mengganggunya dengan Allisya. Berbeda saat pertama kali mereka kembali bertemu dulu.
Apakah Venus sudah benar-benar berubah? Lalu, apakah Devan harus memaafkannya kembali?
Entahlah, mungkin itu akan ia pikirkan nanti.
Devan segera masuk kedalam mobilnya. Menyalakan mesin mobil, kemudian pergi meninggalkan perkarangan rumah tersebut.
Mobilnya berhenti didepan sebuah toko bunga. Ketika memasuki toko tersebut, ia langsung disambut oleh pemilik toko dan menanyakan bunga seperti apa yang ia inginkan.
Devan keluar dari toko tersebut dengan sebuket bunga yang berada digenggamnya. Bibirnya membentuk senyuman tipis.
Ia pun masuk kedalam mobilnya, dan menyimpan bunga tersebut di kursi sebelah kemudi. Setelah itu, Devan melajukan mobilnya. Menuju tempat dimana hampir setiap saat ia kunjungi beberapa hari belakangan ini.
___
Devan melangkahkan kakinya disepanjang lorong rumah sakit. Penampilannya sudah tidak se-kacau beberapa hari yang lalu.
Langkah kakinya berhenti didepan sebuah ruangan dengan nomor 24. Ia meraih handle pintu dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya setia memegang buket bunga tersebut.
Kosong.
Tidak ada siapapun didalam ruangan itu, kecuali seorang gadis yang kini sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Semuanya berubah sendu ketika ia masuk kedalam ruangan tersebut. Diletakkannya buket bunga itu diatas nakas, lalu ia duduk di sebuah kursi yang berada disebelah brankar.
Devan meraih tangan yang terasa dingin tersebut dan menggenggamnya, "Hai. Gue dateng bawain bunga buat lo. Lo ga ada niatan buat bangun, gitu?"
Devan menatap sendu sosok dihadapannya. Melihat gadis yang sangat disayanginya terbaring tak berdaya di atas brankar dengan wajah pucat nya, membuat dadanya terasa sesak.
Ditambah hari ini, sudah terhitung 5 hari Allisya koma. Dan sejak itu pula, hampir setiap saat ia datang kesini, mengunjungi gadis itu. Berharap ketika ia baru saja membuka pintu saat datang, senyuman gadis itulah yang pertamakali menyambutnya.
Tapi nihil. Bahkan sampai sekarang, belum ada tanda-tanda bahwa Allisya akan segera bangun.
"Betah banget sih tidurnya. Kenapa? Lo lagi mimpi indah banget ya? Sampai-sampai ga rela buat bangun."
Dikecupnya punggung tangan tersebut, "Bangun dong. Gue kangen tau, sama lo. Masa lo mau gini terus sih? Tega biarin gue sedih? Kalo lo terus tidur gini, siapa yang bakal gue gangguin nanti?"
Hening.
Devan menghela nafas. Terus menatap Allisya yang tengah memejamkan matanya. Rasanya, ia benar-benar merindukan saat kelopak mata itu terbuka indah. Manik biru itu, yang membuatnya betah menatapnya lama. Membuatnya hanyut dalam keteduhan matanya.
"Pules banget sih. Ga capek apa tidur Mulu? Gue janji deh, setelah lo bangun nanti, apapun yang lo mau pasti bakal gue turuti. Emang lo ga kangen apa sama es krim? Cokelat? Mereka pada nungguin tuh, buat lo abisin. Mereka juga sedih tuh, liat lo kayak gini."
Suaranya terdengar parau. Matanya mulai memanas. Tapi sebisa mungkin ia menahannya.
"Bangun, Sya! Bangun! Sampai kapan lo mau giniin gue, hah?! Suka banget lo ngeliat gue sedih?! Lo tau kan gue sayang banget sama lo?"
Devan langsung terdiam. Tidak menyangka bisa se-emosional ini. Ia kembali menatap Allisya.
'Gue harap lo denger semuanya dan segera bangun. I will wait for you, babe.'
***
Setelah memastikan mobilnya terparkir rapi, Devan segera meninggalkan bagasi dan berjalan menuju pintu utama.
Ia memasuki rumahnya dengan wajah lesu, sama sekali tidak ada senyuman disana. Namun, hal itu sama sekali tidak mengurangi kadar ketampanannya.
Devan baru saja tiba dirumah pukul 9 malam. Jika saja tadi Azriel tidak memaksanya untuk pulang, maka sudah bisa dipastikan bahwa dirinya akan tetap berada disana sepanjang malam.
Ketika melewati ruang keluarga, ternyata ada Mamanya yang tengah menonton televisi disana. Tanpa pikir panjang, Devan segera menghampiri Mamanya. Merebahkan tubuhnya tepat di samping Erina, menggunakan pahanya sebagai bantalan.
Devan menghela nafasnya, kemudian memejamkan mata. Erina yang melihat itu, hanya tersenyum tipis sambil mengusap rambut putra tunggalnya. Raut lelah dan frustasi tampak jelas disana.
Erina sangat mengerti bagaimana perasaan putranya saat ini. Ia hanya bisa berdoa didalam hati, semoga semuanya akan kembali baik-baik saja.
"Kamu udah makan?"
"Udah." Bohongnya. Ia hanya tidak ingin membuat Mama nya khawatir.
Bahkan rasanya ia tidak memiliki selera untuk makan.
"Jadi, gimana?"
Devan membuka matanya, menatap langit-langit. Ia tahu betul maksud pertanyaan Mama nya.
Ia menghela nafas, "Ya, gitu. Ga ada perkembangan sama sekali."
Erina tersenyum tipis sambil terus mengusap rambut putranya. Ia sangat tahu bagaimana kalutnya Devan saat ini. Bahkan saat baru mendengar kabar itu, kondisinya benar-benar kacau. Berantakan.
Erina dapat melihat, betapa besarnya rasa cinta itu yang tersirat dibalik tatapan sendu sang putra.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
Troublemaker [Completed]
Teen FictionCantik? Banget! Pintar? Pasti! Badgirl? Tentu saja! Kalimat itu cocok untuk mendeskripsikan sosok gadis bernama Auristella Allisya Lesham. Gadis ceria namun urakan yang selalu membuat masalah disekolanya. Ruang BK ada tempat favoritnya. Keliling la...