11

11.5K 386 1
                                    


Happy reading guys!
Typo masih bersebaran, harap maklum.
Jangan lupa vomment oke?

🐰

"Pagi mah." Allisya tersenyum lebar saat menghampiri Anisa yang sudah berada dimeja makan sedang mengoleskan selai pada roti.

"Pagi." Balas Anisa.

Allisya langsung mengambil roti yang sudah diolesi selai oleh Anisa tadi.

"Mah, lisya berangkat ya." Setelah menghabiskan sarapannya, Allisya pamit pada Anisa dan menyambar kunci mobilnya.

"Astaghfirullah." Kaget Allisya ketika mendapati Devan yang sedang berdiri didepannya dengan senyuman lebarnya, saat ia baru membuka pintu.

"Ngapain lo?" Tanya Allisya sedikit ketus.

"Gitu amat neng, sans dong. Gue cuma mau nawarin, mau bareng ga?" Devan mengangkat kedua alisnya.

"Harus banget ya lo Dateng kesini cuma buat nawarin itu?" Allisya memutar bola matanya malas.

"Ya terus lo maunya apa? Gue Dateng kesini terus ngelamar lo gitu? Gue sih dengan senang hati." Devan tersenyum jahil.

"Gila! Lo sakit? Omongan lo ngaco tau gak!" Ketus Allisya.

"Ciee perhatian nih ye??" Devan menoel pipi Allisya membuat pipi gadis itu memanas.

"Geer! Udah ah, minggir lo! Gue mau kesekolah!" Allisya mendorong bahu Devan.

"Eits! Bareng gue dong." Devan menahan lengan Allisya.

"Lah lo tadi cuma nawarin kan? Dan gue ga terima tawaran lo itu, jadi--"

"Gue ga terima penolakan, sayang!" Devan mengedipkan sebelah matanya kemudian membawa Allisya masuk kedalam mobilnya.

"Ck! Pemaksaan ini mah!" Allisya berdecak kesal dengan sikap Devan, namun didalam hatinya senang bisa berangkat bersama Devan.

"Biarin, cogan mah bebas." Kata Devan Dnegan pedenya kemudian mulai melajukan mobilnya.

"Kenapa setiap gue berusaha buat jauh dari Lo, malah lo yang ngedeketin gue sih?" Batinnya.

"Woi! Ngelamun ae lo! Mikirin gue ya?"

"Pede lo monyet got!"

"Wah-wah, ganteng gini masa dikatain monyet got sih? Ga elit banget!"

"Ganteng darimana? Buluk iya!"

"Buluk-buluk gini juga lo pernah sayang. Dan masih sayang maybe?"

Skak!

Allisya terdiam dengan ucapan Devan barusan. Benar juga apa kata Devan, tapi mau buluk atau ganteng Allisya tetap sayang kok. Eh?

"Tuh kan diem. Ketauan belum move on nya nih Yee. Sama, gue juga belum bisa move on dari lo. Sayang ya, kita harus jadi mantan." Allisya membuang pandangannya. Semakin lama Devan membuatnya semakin gila dengan perasaannya.

Mobil sport hitam Devan memasuki gerbang sekolah. Setelah memarkirkan mobilnya, Devan dan Allisya keluar dari mobil. Seketika, banyak pasang mata yang tertuju pada mereka. Namun, mereka tak peduli. Allisya berjalan duluan mendahului Devan, namun laki-laki mencekal tangannya.

"Tungguin gue." Allisya hanya pasrah ketika Devan menggandeng tangannya.

Ketika melewati lorong, terdengar banyak bisikan tentang mereka.

"E-eh, kok lisya bareng sama Devan sih?"

"What?! Bukannya mereka udah putus?"

Troublemaker [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang