Aku tidak akan menuntutmu untuk berubah, jadilah dirimu sendiri. Kapanpun dan dimanapun.
***
“Kakinya masih sakit?” tanya Acha. Saat ini kami berada di dalam kamarnya. Tadi setelah selesai memijit kakiku, Bunda menyuruhku untuk makan dan setelah itu aku di tuntun menuju kamar Acha untuk beristirahat.
“Udah nggak terlalu, sih.”
“Lagian kenapa Kak Mentari bisa seceroboh ini, sih?” gadis itu duduk di atas ranjang tepat di sampingku, menghadapku yang bersandar pada kepala kasur.
Mendengar pertanyaan Acha, aku tidak tahu akan menjawab apa. Tidak mungkin juga aku menjawab kalau aku tadi gugup karena melihat Radit lalu dengan tergesa-gesa aku turun dan akhirnya terjatuh karena kurang hati-hati.
“Udah, Cha. Nggak usah dibahas, deh.”
Kudengar Acha mendesah berat. “Kak Bintang kenapa nggak ikut, Kak?”
“Kakak nggak ngajak dia. Kan kamu Cuma minta kakak yang dateng.”
“Hah? Kapan Acha minta kakak dateng?”
“Jadi kamu nggak suka kakak ke sini?”
“Bukan gitu. Tapi serius Acha nggak minta kakak ke sini. Iya sih tadi mau nelfon suruh kesini, tapi nggak jadi karna kakak udah dateng sendiri.”
Aku mengernyit. “Tapi abang kamu sendiri kok yang bilang, katanya kamu pengen kakak ke rumah.”
“Eh, enggak.”
Tentu aku bingung sendiri. Kemarin aku rasa aku tidak salah dengar ketika Radit mengatakan kalau Acha memintaku datang ke rumahnya. Tapi baru saja Acha mengatakan kalau dia tidak memintaku datang dengan mengatakannya pada Radit. Lalu kenapa Radit mengatakan hal itu? Apa dia berbohong? Tapi untuk apa?
“Yaudah lah, yang penting kakak di sini kan sekarang.” aku mengangguk sambil tersenyum manis kepada gadis berpipi tembam itu.
“Kak Mentari kemaren pake kebaya foto nggak?”
“Foto, sama Bintang.”
“Acha mau lihat.”
Aku menyerahkan ponsel yang ada di sampingku kepada Acha. Gadis itu mulai membuka galeri dan melihat-lihat semua foto disana.
Memang kemarin sebelum berangkat ke sekolah Bintang mengajakku mengambil beberapa foto terlebih dahulu. Ada beberapa foto selfie dan beberapa lagi foto full body. Bintang itu kan orangnya lumayan terkenal di dukung wajahnya yang cantik yang membuatnya semakin terkenal di sekolah. Jadi cewek itu pun tidak mau ketinggalan untuk memposting fotonya memakai kebaya di akun sosial medianya. Pasti sekarang foto itu sudah beredar dan sudah ada banyak pengguna yang meninggalkan jejak di sana.
“Kakak nggak foto bareng temen-temen kakak yang lain?”
“Hah?”
“Foto kemaren Cuma ada kakak sama Kak Bintang doang.”
“Oh, kemaren pada sibuk sendiri jadi nggak sempet foto. Lagian itu fotonya di rumah bukan di sekolah.” jawabku tak sepenuhnya jujur.
Kemarin teman-temanku memang sibuk, ada yang ikut mempersiapkan acara, menjadi peserta, berselfie ria pun ada juga. Tapi sebenarnya kalau aku meminta foto bersama mereka pun tetap bisa. Tidak mungkin kukatakan pada Acha kalau kemarin aku pulang lebih awal karena menangis, lebih tepatnya membolos. Itu alasan yang akan sangat membutuhkan banyak waktu untuk menjelaskannya. Terlebih bersama siapa aku membolos.
“Eh, kak ini banyak banget notif.”
“Heh? Dari siapa?”
Acha mengedikkan bahu dan menyerahkan kembali ponsel kepadaku. Aku tahu Acha tidak ingin mengetahuinya karena mungkin saja ini privasiku. Kugeser layar ponsel sehingga menampakkan betapa banyak notifikasi line dari seseorang. Kemarin aku malas membuka ponsel dan aku tidak sadar kalau ternyata aku mengatur mode diam di ponselku. Bahkan bergetar pun tidak.
KAMU SEDANG MEMBACA
50 DAYS
Teen Fiction50 hari itu 50 hari yang tidak mungkin kulupakan 50 hari yang menjadi bagian favorit dalam hidupku Jika boleh aku memohon satu permintaan Maka aku akan memohon kepada Tuhan Agar mengulang 50 hari itu Untukmu, Thank you for fifty days for me Best pic...
