LENGKAP! Follow akun ini sebelum baca🐧
Warning! Peringatan! Cerita ini bisa membuat kalian mengumpat, menangis, dan tertawa (jika satu SELERA)🍭
"Barr, aku juga nggak tahu kenapa Raden nyium aku."
"Shit! Diem, Bego!"
"Maaf."
"Tahu nggak, kenapa gue...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Follow akun ini agar followersku nambah✨
••••••••••
From: Killa To: Barra
Tanpa aba-aba, tanpa rencana, tanpa perintah, serta tanpa logika.... aku mencintaimu.
Kamu seperti uang logam yang mempunyai dua sisi. Terkadang kamu bisa menjadi segala hal yang aku butuhkan. Terkadang pula kamu bisa menjadi segala hal yang mengecewakan.
Aku memilih berhenti di sini karena kamu terlalu menyakiti.
Berbahagialah.
Tapi, egois kah aku bila inginkan kamu bahagia bersamaku?
Ah, sudahlah.
Aku harus bisa mengerti, yang datang bisa saja pergi. Yang pergi, bisa saja pulang. Dan aku menunggu kamu pulang, berbalik padaku lalu berucap, "Aku pulang. Aku kembali padamu."
Semoga ketidakmungkinan itu menjadi mungkin.
Di waktu mendatang, saat kita dihadapkan pada perpisahan selanjutnya, aku mohon tetap kamu laki-laki yang ditakdirkan bersanding denganku. Aku maunya cuma sama kamu.
•••••••••••
"Anjir, lo beneran nyium Killa tadi?"
Barra memutar bola matanya malas. Harsukah ia menjawab pertanyaan itu? Pertanyaan yang sudah ia tahu jawabannya apa. Semua orang menyaksikannya. Dan untuk apa bertanya lagi? Bahkan, beberapa dari mereka ada yang merekamnya. "Perlu gue jawab pertanyaan lo ini?"
"Si kamfretto mulai beraksi!"
"Ancene janc*k," Raden menyahut dengan bahasanya sendiri. "Killa sekarang di mana?"
"Killa-nya ngumpet takut dimangsa crocodile," kini giliran Alex yang menyahut setelah lama duduk diam dengan sebatang rokok yang tersalip di jarinya.
Berdecak tak terima, Raden mengancam. Menghunuskan tatapan tajam pada Barra. "Lo buat Killa nangis, gue bakal kuburin elo hidup-hidup."