*17. Dalam Dekapmu*

190K 15.3K 2.4K
                                        

Divotes dulu dongs. Terus komen emot perasaan kalian pagi ini.

Btw, pagi ini enanya sarapan apa yak. Ada saran?

"Lo kok pesimis banget, sih, jadi manusia?! Heran gue," omel Barra

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Lo kok pesimis banget, sih, jadi manusia?! Heran gue," omel Barra. "Selalu berpikiran positif dong. Biar diri lo itu nggak terlalu insecure."

Killa menengadahkan kepalanya, menatap kosong plafon apartemen Barra yang berwarna putih. Raut wajah ayah, mama, kakak, dan adiknya tergambar jelas satu per satu dalam benak Killa. Apalagi, ditambah dengan sekelebat obrolan yang ia dengar beberapa saat lalu. Tentang dirinya.

"Percuma juga sih gue hidup, cuma jadi beban orang-orang di sekitar gue," ungkap Killa dengan sendu, tanpa terasa air matanya menetes. Buru-buru Killa menyekanya sendiri. "Nyokap gue aja doain gue mati."

"Nggak mungkin, Kill!" tawa Barra meledak. "Isi pikiran lo itu terlalu liar. Gampang menyimpulkan sesuatu dari satu pihak aja. Mana ada orang tua yang doain anaknya cepet mati."

Lo nggak akan pernah tahu, Barr.

"Dengerin gue, ya...." Barra menyentuh kedua bahu Killa. Dada cewek itu naik-turun, menahan tangisnya. "Semua orang tua itu sayang sama anaknya. Cuma, yah cara penyampaiannya aja yang kadang salah atau nggak wajar."

Seperti yang dilakukan Barra. Ia kasar dan pemaksa, padahal maksudnya baik.

Killa menggeleng lemah. "Enggak, Barr."

Barra menggeram kesal. "Terserah elo deh, Kill. Diajak berpikir positif, nggak bisa."

"Bayangin aja deh lo ada di posisi gue," ucap Killa sambil menyunggingkan senyum tipis yang membuat Barra tak tega. Itu bukan senyum yanh ingin ia lihat. Senyum itu tak mengenakan sekali. "Seandainya lo penyakitan. Hidup di tengah keluarga yang tiap harinya berantem masalah duit dan duit. Lo beda sendiri sama Kakak dan Adik lo. Sangat nyusahin orang tua lo. Nggak berguna. Nggak pinter sama sekali. Terus lo tahu satu fakta bahwa, lo itu bukan anak kandung dari orang yang selama ini lo panggil dengan sebutan Mama. Lo mungkin cuma anak pungut atau anak dari selingkuhan Bokap lo. Di hidup lo, julukan pembawa sial itu melekat banget. Coba bayangin aja lo ada di posisi itu, sekarang."

Deg!

Barra termenung, menatap Killa tanpa berkedip sedikit pun. Ia tak percaya. Alisnya hampir saling bertaut dan kerutan di dahinya makin banyak. Barra berpikir begitu keras. Itu menyakitkan!

Mencoba membayangkan apa yang baru saja Killa katakan, itu sangat membuatnya terpukul.

Kamu tahu 'kan Killa penyebab rumah tangga kita hancur.

Anak sialan itu!

Uang tabungan kita habis gara-gara dia. Kita bertengkar karena dia. Kamu nggak cinta lagi sama aku karena dia.

BarraKillaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang