Absen dulu yuk kalian dari kota mana?
Waktu begitu cepat berlalu saat kita menghabiskannya bersama orang tercinta.
Tahu mengapa?
Karena yang indah biasanya hanya berlangsung sebentar saja.
Cepat atau lambat, waktu selalu bergulir maju. Kita tidak dapat menghentikannya.
Ujian yang akan Killa hadapi di masa-masa terakhir SMA-nya pun sudah di depan mata. Tinggal menghitung hari saja.
Apa Killa belajar? Tentu saja....
Tentu saja tidak! Hehehe.
Sistem belajar yang biasa dianut Killa 'kan SKS. Silakan ditebak sendiri kepanjangannya apa.
"Rat, nggak papa. Santai aja kali," ucap Killa berusaha menenangkan Ratih. "Anggap aja kayak lagi ujian biasa."
Sayangnya, isi kepala Ratih berbeda dengan Killa. Sangat berbeda 180 derajat.
"Lo sakit, ya? Muka lo pucat banget, Rat."
"Ah, masak?" Ratih memang jarang merespons obrolan Killa yang dianggapnya tidak penting. Ia begitu jaga jarak dengan semua spesies manusia di kelasnya, terutama dengan Raden. Dan cowok itu sendiri bersikap seakan-akan tak pernah menyentuhnya sedikit pun. Saat berpapasan dengan Ratih, malah Raden yang melengos terlebih dahulu.
Berengsek? Banget!
"Gue emang rada pusing, sih," ucap Ratih akhirnya jujur. Ia meletakkan pulpennya di atas meja lalu menutup buku tugasnya. "Bentar lagi ujian. Dan masih banyak materi yang belum gue kuasai."
Nada bicara Ratih penuh beban. Sorot matanya terlihat lelah. Dalam seminggu ini, tidur Ratih tidak teratur. Ia terus memaksakan diri untuk belajar dan belajar, apalagi kedua orang tuanya itu menambah jam bimbingan belajar untuknya. Beban di pundak Ratih makin terasa berat.
"Slow, Rat. Santai! Tarik napas. Lo boleh berhenti sebentar buat ambil jeda," ujar Killa merasa prihatin dengan Ratih. Cewek itu terlihat tidak seperti manusia pada umumnya. Memangnya dia robot? Yang tidak bisa lelah. Memangnya dia Jakata? Yang tidak pernah tidur. Selalu ramai. "Nggak papa, Rat."
"Enggak! Gue harus ke perpus. Nyari buku tentang.... engh..." akhir-akhir ini, Ratih gampang lupa. Ia sering menangis sendiri di kamarnya saking frustasinya berusaha mengingat sesuatu yang tiba-tiba dilupakannya begitu saja. "Duh, kok gue lupa. Habis ini pelajaran apa, huh?"
"Kimia," jawab Killa dengan embusan napas berat.
"Ah, iya! Buku Kimia dan latihan soal tahun lalu harus gue pelajari," ucap Ratih seraya bangkit berdiri. Bel istirahat sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu.
Bagi Ratih, jam istirahatnya berguna untuk ia habiskan di perpustakaan. Hanya belajar dan belajar. Makanya, tubuhnya teramat kurus karena jarang ngemil atau makan. Ia harus fokus pada tujuannya untuk mendapatkan nilai tertinggi saat ujian dan lulus tes masuk universitas negeri jurusan kedokteran.
Sedangkan bagi Killa, jam istirahatnya berguna untuk makan dan minum obat agar penyakitnya tidak kambuh sampai jadwal operasinya tiba.
KAMU SEDANG MEMBACA
BarraKilla
RomanceLENGKAP! Follow akun ini sebelum baca🐧 Warning! Peringatan! Cerita ini bisa membuat kalian mengumpat, menangis, dan tertawa (jika satu SELERA)🍭 "Barr, aku juga nggak tahu kenapa Raden nyium aku." "Shit! Diem, Bego!" "Maaf." "Tahu nggak, kenapa gue...
