*48. Menenangkan Diri*

163K 16.2K 2.4K
                                        

Kamu VOTES ke berapa?

"Ma...."

Vei menolehkan kepalanya sebentar pada Barra lalu fokus pada tayangan televisi. Ia sedang asyik menonton infotainment- berita selebritis tanah air.

"Mama...." Barra berdecak saat Vei hanya berdeham saja, tapi tatapan matanya tak beralih sedikit pun.

Acara infotainmet itu ada jeda sebentar- iklan, barulah Vei fokus pada putra semata wayangnya. "Kenapa, sih? Kok muka kamu kusut banget."

"Ma... itu..."

"Papa kamu 'kan udah ngizinin kamu buat ikut tes masuk univ jurusan arsitek, kurang apa lagi coba?" ujar Vei dengan lembut. Karena mengubah pendirian yang telah Atta tetapkan itu butuh perjuangan. Untungnya, Vei bisa membujuk suaminya itu. "Seharusnya 'kan kamu lagi seneng sekarang."

Gimana Barra mau seneng, kalau Killa lagi sedih di rumahnya, Ma.

Barra mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Menatap lekat raut wajah sang mama, Barra pun mulai menyusun rencana. Ia menarik-narik dengan manja ujung baju Vei.

"Duh, kalau mulai manja gini, pasti ada maunya," celetuk Vei bersamaan dengan acara infotainment di televisi yang sudah tayang kembali. Baru selesai iklan.

"Ma, lihat Barra dulu dong," ujar Barra menuntut. "Mama kok senengnya nonton infotainment nggak jelas gini, sih?"

"Seru tau, Barr."

Hah? Seru?

Vei pernah bilang, gibah itu nomor satu. Ah, Barra jadi ingat betapa terkejut dirinya saat tidak sengaja membuka akun Instagram milik sang mama. Yang diikuti Vei hanya akun milik Presiden dan Wakil Presiden Indonesia yang followersnya jutaan itu dan akun Instagram lambe_nyinyir.

Wah, sangat menakjubkan. Akun Instagram anak sendiri saja tidak difollow oleh Vei. Keterlaluan 'kan?

Barra menunggu acara infotainment itu selesai, baru ia akan berbicara dengan Vei.

"Kamu mau ngomong apa, sih?" tanya Vei tidak tega. Bagaimana bisa ia mengabaikan Barra- putra semata wayangnya hanya untuk menonton infotainment di siang menjelang sore hari itu.

"Ma...."

"Ma-mo-ma-mo aja dari tadi," kesal Vei karena Barra tak kunjung to the point.

"Killa, Ma."

Saat nama Killa disebut, raut wajah Vei ikut berubah murung. Teringat dengan kedukaan itu lagi.

"Udah hampir seminggu lho, Killa nggak keluar dari rumahnya," ucap Barra sambil mengerak-gerakkan jarinya, menghitung hari-hari yang berlalu sejak meninggalnya Wiratmaja. "Dia cuma makan mi instan sama telur. Gitu terus tiap hari. Ususnya bisa melilit tuh, Ma. Nggak baik buat kesehatan."

Vei diam. Ia mendengarkan lebih dulu keluh kesah dari Barra secara jelas dan detail. Sebenarnya, tanpa dijelaskan dengan terperinci begitu- Vei sudah tahu alur kesedihan yang Killa hadapi. Ia pernah ada di posisi terlemah, seperti Killa saat ini. Vei layaknya sedang berkaca akan kehidupan masa lampaunya dulu.

"Barra telepon, Barra kirim chat... nggak pernah diread. Hapenya dimatiin," jelas Barra lagi dengan nada lelah.

"Udah ke rumahnya kamu?"

"Udah lah, Ma. Tapi, Killa tetep nggak mau bukain Barra pintu."

Jadinya, Barra cuma bisa ngintip lewat jendela rumahnya doang, Ma.

"Kamu mau gimana sekarang, huh?"

"Barra mau Mama bujuk Killa," ujar Barra penuh permohonan pada Vei. "Mama buat Killa semangat hidup lagi."

BarraKillaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang