"Apa, Dok?!" pekik Wiratmaja dengan tatapan nanarnya, ia mendelik tak percaya mendengar penuturan dari Dr. Edi.
"Setiap kali check up, saya sudah selalu memperingatkan putri Bapak."
Wiratmaja menggelengkan kepalanya dengan pelan. Kepalanya serasa dipukul oleh besi yang beratnya berton-ton. Pusing sekali. "Istri saya bilang, anaknya saya sudah membaik. Tidak pernah kambuh lagi karena katup jantungnya sudah mulai menutup."
"Asal Bapak tahu, bocornya katup jantung Killa ini tidak bisa menutup dengan mudah. Sekali pun dengan operasi, selalu ada kemungkinan gagal," jelas Dr. Edi dengan tenang. "Saya sudah menyarankan putri Bapak untuk mengajak kedua orang tuanya. Tapi, tampaknya kedua orang tuanya sangat sibuk hingga sama sekali tidak ada waktu."
Wiratmaja sangat tahu sindiran kalimat yang dr. Edi katakan. Jujur saja Wiratmaja tertohok, tak menyangka. Dadanya seketika nyeri dan sesak. Mulutnya serasa dilem, tak mampu terbuka guna mengeluarkan kata-kata sanggahan.
"Obat yang saya beri selama ini hanya mampu untuk menyambung hidup Killa," ujar dr. Edi lagi memperjelas kondisi tubuh Killa. "Semakin putri Bapak tumbuh dewasa, semakin besar kebocoran di katup jantungnya itu."
"Anisa sialan!" gumam Wiratmaja seraya mengepalkan kedua tangannya penuh amarah. Selama ini, ia sudah dibohongi oleh mantan istrinya itu. Anisa tidak mengatakan apa pun padanya. Anisa hanya bilang, kondisi Killa sudah baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Jadi, saya harap dari pihak keluarga Killa segera mendaftar untuk operasi," dr. Edi mengusap kening Killa. "Saya tahu, putri Bapak ini menyimpan sendiri semua kesedihannya."
Dr. Edi bukan hanya sekali atau dua kali saja mencoba dekat dengan Killa, tetapi sudah berkali-kali. Namun, Killa tetap tertutup. Karena anak itu memang lebih senang menyendiri.
Dengan tangan gemetar diliputi amarah bercampur rasa khawatir yang berlebih, Wiratmaja mengeluarkan dompetnya. Beliau mencari-cari dua kartu ATM beda bank yang selama ini menjadi tabungannya. "Dok, tolong! Tolong selamatkan putri saya. Ini... ambil semua. Saya hanya punya ini, Dok. Tolong!"
"Pak, harap tenang." dr. Edi menepuk-nepuk bahu Wiratmaja. "Kalau Bapak Wira sudah tenang, kita bisa mulai menyusun jadwal untuk operasi. Sesegera mungkin."
"Tolong, Dok! Tolong."
"Saya pasti akan melakukan yang terbaik untuk putri Bapak," ujar dr. Edi dengan sungguh-sungguh. "Kondisi putri Bapak semakin memburuk karena stres yang berlebih, mengarah ke depresi. Juga demam yang tinggi. Semakin menambah kompilasi terhadap sakit jantungnya."
Oh, astaga!
"Saya rasa, dukungan dari pihak keluarga sangat penting untuk putri Bapak."
"Engh.... Mama..." Killa mulai merintih lagi dalam tidurnya.
Wiratmaja segera mendekat ke ranjang Killa, bertepatan dengan itu dr. Edi pamit. "Saya permisi."
"Terima kasih, Dok."
Dr. Edi sudah memberi obat Killa dan memasang infus di tangannya.
Wiratmaja meraih tangan mungil Killa yang pucat pasi. Sekujur kulirnya berwarna pucat. Air mata Wiratmaja terus mengalir melihat Killa dalam kondisi seperti itu. "Cepet sembuh, Nak. Ayah sayang banget sama kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
BarraKilla
RomanceLENGKAP! Follow akun ini sebelum baca🐧 Warning! Peringatan! Cerita ini bisa membuat kalian mengumpat, menangis, dan tertawa (jika satu SELERA)🍭 "Barr, aku juga nggak tahu kenapa Raden nyium aku." "Shit! Diem, Bego!" "Maaf." "Tahu nggak, kenapa gue...
