"Makasih," ucap Killa seraya turun dari motornya Barra. Saat cowok itu ikut turun dari motornya, Killa melotot tajam. Tangannya merentang, tak memperbolehkan Barra ikut turun. "Mau ke mana?"
"Masuk ke dalem lah," ucap Barra dengan gaya santainya. Tenang.
"Ini rumah gue, Barr! Lo lupa, huh?" Killa menggigit bagian bawah bibirnya. Sebenarnya, ia takut untuk pulang. Takut kedua orang tuanya marah padanya. Takut diomeli panjang kali lebar lagi. Disalahkan lagi. Pokoknya, semua kemungkinan buruk ada di dalam kepala Killa. Memenuhi otak sarafnya.
"Ya, siapa bilang ini rumah gue?" cowok itu berusaha membaca situasi rumah Killa yang sepi. "Bokap lo ada di dalem 'kan?"
"Mau ngapain lo?" tanya Killa dengan menyipitkan matanya, menyorot Barra skeptis.
"Gue mau ke ketemu sama Bokap lo, Kill."
"Mau ngapain, Barr?!" panik Killa saat Barra memaksa memarkirkan motornya di halaman rumah lalu melangkahkan kakinya menuju masuk ke pintu utama.
Killa menghalangi jalan Barra, membuat cowok itu berdecak sebal.
"Kenapa, sih?"
"Ya, lo mau ngapain ketemu Bokap gue? Mau ngomong apa, huh?"
Gue mau ngomong, jangan sekali-kali beliau nyakitin elo lagi, Kill. Gue nggak terima!
Namun, tahu apa yang dilakukan Barra? Ia diam saja. Barra terlalu hanyut dalam menikmati ekspresi Killa yang tengah khawatir. Bibir merah mudanya yang tampak bergetar, giginya yang saling bergemelutuk dan tautan jemarinya yang saling menyatu. Menandakan bahwa cewek itu sedang kalut. Perasaan gelisah menyelimuti hatinya.
"Barra!" seru Killa menyentak Barra dari lamunannya yang sesat itu. Terlalu lama melamun, Barra bisa saja hilang akal. Apalagi saat dilihatnya cowok itu mulai cengar-cengir tidak jelas. Tentu saja hal itu membuat bulu kuduk Killa merinding. Ia takut jikalau Barra mendadak kesurupan.
Kesurupan apa?
Jin! Atau setan. Yah, yang sejenis itulah pokoknya.
"Eh," Barra mengerjap-ngerjapkan matanya sebentar guna memulihkan pandangannya. "Gue mau ketemu Bokap lo, Kill. Ini penting. Ada yang mau gue omongin. Berdua. Empat mata!"
Beuh, Barra kelakuannya sok gentle. Sangat bergaya, ingin mengajak bicara secara empat mata dengan Wiratmaja.
"Lo mau ngomong apa, sih?" Killa menahan lengan Barra yang akan masuk ke dalam rumahnya. Jujur saja, Killa tidak mau Wiratmaja mengenal Barra. Atau pun sebaliknya. Killa tidak mau saja. Dan belum siap untuk itu.
"Gue mau ngelamar elo," tukas Barra yang membuat Killa diam dengan kedua pipinya yang mulai bersemu merah. Namun, itu semua tak berlangsung lama. Karena detik selanjutnya, Barra segera meralat ucapan isengnya itu. "Bercanda, Sayang."
"Ish!" Killa mencubit lengan Barra dengan gemas. Cubitan kecil cewek itu tinggalkan di area sekitar pinggang Barra. Cowok itu sedikit menggelinjang kegelian, bukan kesakitan. Ya, cubitan itu di tubuh Barra tidak terasa apa-apa. Terasa seperti gigitan semut saja.
Killa tadi sudah menahan napasnya. Oksigen di sekitarnya terasa ditarik habis hanya karena kalimat yang Barra lontarkan. Dadanya bergemuruh hebat.
KAMU SEDANG MEMBACA
BarraKilla
RomanceLENGKAP! Follow akun ini sebelum baca🐧 Warning! Peringatan! Cerita ini bisa membuat kalian mengumpat, menangis, dan tertawa (jika satu SELERA)🍭 "Barr, aku juga nggak tahu kenapa Raden nyium aku." "Shit! Diem, Bego!" "Maaf." "Tahu nggak, kenapa gue...
