*24. Be Better*

199K 14.1K 2.8K
                                        

Apa menu makan malam kamu hari ini?

"Anak selingkuhan, pembawa sial, penyakitan," papar Killa dengan suara sengau. "Lengkap 'kan, Yah?"

Wiratmaja diam. Mulutnya bungkam dengan raut wajah membeku.

Mau bagaimana lagi? Mau menyangkalnya? Tidak ada gunanya sebab itulah kenyataannya. Sudah waktunya Killa tahu tentang rahasianya.

"Tenang aja," Killa menepuk-nepuk dadanya. "Bentar lagi ini semua berakhir kok. Dan Mama sama Ayah bisa hidup bahagia tanpa Killa."

Wiratmaja msih belum paham benar apa maksud dari perkataan Killa itu. Putrinya sudah keburu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Mengurung diri di dalam.

Pria paruh baya itu kehilangan kemampuan untuk berkata-kata. Lidahnya terlalu keluh untuk berucap. Air matanya perlahan menetas dari dua kelopak mata yang tampak keriput. Rambutnya yang dulunya mengkilap hitam kini mulai memutih sebagian. Namun, ia tetap menyimpan sejuta rahasia. Tak bisa ia ungkap pada putri-putri kesayangannya.

Tangan kasar Wiratmaja mengusap wajahnya. Beliau mendekatkan diri ke arah pintu kamar Killa. Sudah tahu kalau pintu itu dikunci dari dalam, tetapi Wiratmaja tak jengah untuk mencoba membukanya. "Killa, maafin Ayah, ya."

Killa sendiri terduduk lemas di depan pintu kamarnya yang tertutup. Lututnya terasa kram, dadanya sesak tak terkira. Pandangannya kosong menatap seisi kamarnya yang tak berubah sedikit pun sejak hari terakhir ia kabur dari rumah. Keadaannya masih sama dan akan selalu sama.

"Killa, buka pintunya. Ayah mau ngomong sesuatu sama kamu."

Mendengar suara dari Wiratmaja, Killa tutup telinganya. Ia beringsut mundur, menjauhi pintu itu. Killa merangkak ke arah tempat tidurnya.

"Killa! Killa!"

Dengan tubuh yang lemas, Killa bangkit berdiri lalu merebahkan diri pada tempat tidur. Ia menarik selimut dan menenggelamkan kepalanya di bawah bantal. Membekap suara tangisnya sendiri.

Memang yang paling tepat dilakukan saat perasaan sedih menghampiri adalah menangis sejadi-jadinya. Entah apa yang sebenarnya Killa tangisi. Ia hanya ingin menumpahkan semua rasa kecewanya pada dunia. Pada takdir yang menimpa hidupnya.

Cukup lama Killa menangis sampai suaranya serak bahkan sudah hampir habis. Kedua matanya menyipit- sembap. Seolah-olah habis dipukuli, terlihat membengkak saking lamanya Killa menangis. Ia baru berhenti menangis saat ponselnya berbunyi. Ternyata panggilan telepon dari Barra.

Barrabas is calling....

Killa mereject panggilan telepon itu. Tidak mungkin Killa menerimanya. Pasti Barra akan mengomel saat tahu suaranya serak khas orang yang habis menangis.

Barrabas
Kok direject, sih?!

Killaa
Lagi males. Ada apa?

Barrabas
Gpp

Killa bangkit duduk, menyeka air mata dan ingusnya yang mulai bercampur jadi satu di wajah cantiknya itu. Ia mencari-cari tisu di sekitar laci meja belajarnya. Namun, tak kunjung ia temukan. Maka dari itu, Killa turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Membasuh mukanya.

BarraKillaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang