Siapa yang nungguin ini up?
Selesai ujian, Barra tidak langsung pulang. Ia mampir ke rumah Alex karena katanya, kehadirannya ditunggu di sana.
Ada apa?
Pasti ada sesuatu. Barra yakin itu.
Dan ternyata, sesampainya Barra di sana- Alex dan Kai menggiring Barra ke taman belakang rumah.
"Eh, lo pada mo ngapain gue?!" sentak Barra menahan langkah kakinya.
"Lo harus nyelesaiin masalah lo sama Raden, Barr."
"Ogah!" Barra berdecih. "Gue sama Raden nggak ada salah apa-apa."
"Hello!" Alex menepuk jidatnya. "Semua orang tau kali kalau Raden masih berharap sama Killa."
"Dan sebenernya, gue rada sanksi, sih, sama elo, Barr."
"Gue kenapa?" Barra menyentak tangan Alex yang ada di bahunya.
"Yah, gue bingung lo beneran suka sama Killa atau cuma main-main."
"Barra itu udah lama suka sama Killa, tapi dia gengsi dan makin bertambah gengsinya. Gedek gue."
Barra memalingkan mukanya. "Urusan percintaan gue itu bukan urusan lo!"
"Ya, ya, gue tahu cara mencintai versi lo sama versi gue itu beda. Ck!" Alex menunjuk ke arah kursi belakang taman rumahnya. "Noh, Raden lagi duduk di sana."
"Terus?"
"Samperin, gih!" lalu Kai mendorong tubuh Barra hingga mendekat ke tempat di mana ada Raden di sana.
Raden sendiri sedang mengobati luka lebam di wajahnya. Yap, mukanya bonyok. Babak belur sekali. Ada darah segar yang terus mengalir di sudut bibirnya juga hidungnya membiru serta rahangnya juga.
Barra terperanjat saat Raden menoleh padanya. Sedetik kemudian, Barra tertawa terbahak-bahak.
Rasain lo! Pasti didamprat sama Bokapnya.
"Masih idup lo?"
"Anjing," dengkus Raden lalu kembali membersihkan luka-lukanya dengan kapas yang sudah dibasahi oleh alkohol.
Barra itu nakal, tetapi tahu batas wajarnya. Eh, tidak juga. Bisa saja dia khilaf. Untungnya, iblis-iblis yang senantiasa membisiki Barra untuk berbuat negatif itu lelah sendiri.
"Gimana Killa? Sehat-sehat aja 'kan?" tanya Raden sembari mengecek ponselnya. Berharap ada satu saja chat masuk dari Killa. Namun, nihil. Sama sekali tidak ada.
"Dia sehat dan akan selalu sehat," jawab Barra. "Kalau lo lupa, besok lo nikah. Gue cuma mau ngingetin doang."
Barra dengan sengaja membahas perihal pernikahan Raden agar laki-laki itu cepat sadar. Cepat move on dari Killa.
Killa itu milik Barra. Hanya milik Barra seorang.
"Nggak usah lo ingetin, gue udah inget, Sat." Lalu Raden meringis pelan saat tangannya menyentuh luka lain di wajahnya. Ia raba-raba sendiri. Sengaja Raden tidak mau mengambil kaca karena takut dengan wajah sendiri.

KAMU SEDANG MEMBACA
BarraKilla
RomanceLENGKAP! Follow akun ini sebelum baca🐧 Warning! Peringatan! Cerita ini bisa membuat kalian mengumpat, menangis, dan tertawa (jika satu SELERA)🍭 "Barr, aku juga nggak tahu kenapa Raden nyium aku." "Shit! Diem, Bego!" "Maaf." "Tahu nggak, kenapa gue...