Beberapa menit kemudian, Rajasa masuk dengan dua cangkir capuccino dan sepiring pisang goreng keju yang masih mengepul.
"Kok abang yang antar?" Tanya Danurdara tidak enak hati.
"Gak apa-apa mumpung sepi, sekalian ketemu kalian," jawabnya sambil meletakan barang bawaannya di atas meja.
"Jangan didoain sepi Bang,"
"Bukan didoain Bos, emang lagi sepi," Rajasa ikut duduk di sofa kecil.
"Tumben diam Ras, gagu lo?" Ledek Danurdana pada Saras yang hanya diam, terhipnotis pisang goreng keju ala chef Rajasa tersayang.
"Rese lo," Saras mencomot makanan kesukaannya itu, langsung dilahap dalam dua kali potong.
"Gile, napsu amat," Karena kurang berhati-hati, Saras tersedak.
"Pelan-pelan," Rajasa mengulurkan capuccino, yang langsung disambut gadis berkaos pink itu.
"So sweet bener! Udah jadiin aja Bang," ledek Danurdara jail.
Kedua sahabatnya melotot kearahnya, semburat warna merah menghiasi wajah putih Saras. Gadis pemilik "The Jadoel Cafe" itu tahu, Saras suka dengan Rajasa, masalahnya gadis itu tidak pernah tahu perasaan laki-laki penyuka dapur itu.
"Beneran bulan depan mau tunangan, Bos?" Tanya Rajasa mengalihkan perhatian.
"Iya," sahutnya pendek. Laki-laki itu menghela napas panjang.
"Sudah yakin?" Tanyanya lagi.
"Bukannya Abang yang mendorongku untuk menerima lamaran Dhimas. Lupa Bang," Rajasa mendesah. Saras mengalihkan matanya ke arah laki-laki yang mengisi mimpinya belakangan ini. Tidak salah dengarkah dia?
"Kenapa Bang? Kuatir juga sama dengan Saras?"
Kedua sahabatnya itu saling berpandangan, mereka memang sama-sama mengkuatirkan hubungan Danurdara dengan Dhimas, tetapi alasan mereka berbeda.
"Semoga gak salah pilih aja," sahutnya acuh. Danurdara mendengkus. Dalam waktu bersamaan, kedua sahabatnya meragukan pilihannya. Sama dengan dirinya yang mulai ragu, inikah pilihan terbaik baginya?
Menurutnya, secara karakter Dhimas laki-laki yang baik, bertanggung jawab, dan teman ngobrol yang menyenangkan. Pekerjaannya juga bagus, diusianya yang masih 27 tahun laki-laki itu sudah menjadi pengacara yang diperhitungkan. Satu hal yang Danurdara tidak nyaman adalah sikap overprotektif dan cemburuan.
"Sebenarnya ada apa? Gue merasa ada sesuatu yang kalian sembunyikan tentang Dhimas?" Saras yang dari tadi hanya diam, malah beranjak meninggalkan mereka.
"Mau kemana, ditanya malah kabur,"
"Toilet," sahutnya acuh terus berlalu. Rajasa menatap kepergiaan Saras dengan pandangan aneh.
"Kalau suka ngomong aja Bang, jangan disimpen terus dalam hati,"
"Gue sukanya sama lo," sahutnya dalam hati. Rajasa menatap gadis didepannya dengan lembut.
Ingatannya kembali pada perkenalan pertamanya dengan gadis yang sudah dua tahun ini menjadi bosnya. Mereka bertemu secara tidak sengaja di sebuah bakti sosial yang diadakan di panti jompo tempatnya menghabiskan hari liburnya, hampir tiga tahun lalu.
Rajasa tertarik dengan gadis cantik yang sangat sigap membantu oma-oma penghuni panti. Tidak banyak anak muda yang mau terlibat dalam acara seperti itu. Ibu panti yang mencium gelagat tak wajar Rajasa, berinisiatif memperkenalkan mereka.
"Bang, woi... malah bengong," Teriakan Danurdara membuyarkan lamunannya.
"Eh apa?" Tanyanya gugup.
"Abang sehat kan?" Tanyanya kuatir, laki-laki itu mengangguk lalu berdiri keluar.
Danurdara menatap kepergian laki-laki itu heran. Di pintu Rajasa hampir bertabrakan dengan Saras yang mau masuk. Keduanya terdiam saling menatap dengan canggung. Sebelum akhirnya Rajasa memutuskan pergi lebih dulu.
"Gue pulang, ada laki lo. Males gue," pamit Saras mengambil tas selempangnya yang tergeletak di sofa. Cipika cipiki lalu keluar tanpa berkata apa-apa lagi. Danurdara mengikuti langkah sahabatnya, turun untuk melepas kepergiannya. Di bawah Dhimas tampak sedang ngobrol dengan Tasya karyawan baru di kafenya.
"Hati-hati, Ras," pesan Danurdara pada sahabatnya
"Lo yang harus hati-hati," jawabnya sambil terus berjalan tanpa melihat kearahnya lagi. Apa maksudnya?
"Sayang, kita pergi sekarang?"
***
Puji Tuhan pelatihan sudah kelar. Tinggal tes hari Selasa, doain lulus ya... biar lancar juga update tentang Danurdaranya.
Gimana, baca cerita ini ada yang aneh gak? Boleh gak author minta masukan..
Ditunggu ya...
Makasih..
Salam.literaai
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
Chick-LitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
